TARBIYAH ONLINE: Kisah

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Saturday, August 24, 2019

Masyarakat Muslim Adalah Panglima Sekaligus Pelopor Perdamaian

August 24, 2019 0

Tarbiyah.online – Kondisi terakhir pemikiran dan pendapat dunia tentang Islam dan kaum muslim adalah sebuah paham kekerasan dan kaum teroris. Adapun "mujamalah" mereka dengan mengatakan umat muslim adalah saudara kami hanyalah omong kosong belaka.

Negara minoritas muslim manapun di muka bumi sekarang ini sudah menganggap Islam adalah sebagai sebuah paham yang menjadi ancaman dimana pun berada. Umat muslim sudah dipahami sebagai biang kerusuhan dan terorisme dimana pun mereka tinggal. Hampir tidak ada lagi hal baik dari Islam yang muncul di dalam benak mereka, bahkan muslim arab yang kaya sudah dianggap sebagai manusia haus nafsu seksual yang sudah biasa membeli perempuan kulit putih di eropa timur.

Ya memang begitu lah anggapan mereka saat ini.

Lalu anda berseru,"Itu semua adalah strategi yahudi dan nasrani untuk menghancurkan nama baik Islam, padahal Islam tidak demikian.".

Benar, Islam memang tidak demikian, namun fakta dan kenyataannya saat ini menunjukkan demikian. Selayak perkataan Muhammad Abduh "Al-Islamu mahjubun bil muslimin" yakni Keagungan Islam tertutupi oleh orang-orang muslim adalah benar adanya.

Sahabat ku, kita paham, kita mengerti bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme, pengerusakan dan hal-hal buruk lainnya. Tetapi sadarilah bahwa mereka (orang Eropa) tidak mengerti yang demikian karena mereka tidak mempelajari Islam. Seandainya mereka mempelajari keindahan Islam tentu mereka tidak beranggapan bahwa Islam adalah paham terorisme. Dan sadarilah saudaraku, bahwa ketika mereka tidak mengetahui isi ajaran Islam, mereka akan menilai Islam dari umat muslim. Tentu saja anggapan mereka tentang Islam begitu buruk karena buruknya kelakuan kaum muslim.

Mari menjadi muslim sejati dengan mengamalkan hadits baginda Saw yang diriwaytkan oleh Bukhari dan Muslim yang amat sarat akan makna berikut :

عن عبد الله بن عمرو ـ رضي الله عنهما ـ عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه.

Dari Abdullah bin Amru r.a dari Rasulullah Saw bersbda: "Muslim adalah yang selamat umat muslim lainnya dari lisan dan tangannya, dan  Muhajir (orang yang hijrah) adalah yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah terhadapnya" (Muttafaqun alaih)


Menjadi muslim sejati adalah dengan bersikap baik agar umat muslim lain tidak tersakiti olehnya secara langsung. Dan lebih dari itu, jagalah sikap kita sebagai muslim agar umat muslim lainnya tidak disakiti oleh umat lain akibat perbuatan kita yang mengganggu dan merusak kedamaian umat lainnya.

Sadar atau tidak, perilaku sebagian umat Islam yang merusak, membunuh, membom dan menghancurkan kedamaian umat lain akan menciptakan aksi balasan. Hal ini adalah sebuah sunnatullah, dimana setiap ada aksi akan terjadi reaksi. Perilaku buruk yang terjadi kepada muslim minoritas di dunia bisa jadi merupakan tindakan balasan terhadap perilaku buruk yang diterima umat lain yang minoritas di negara muslim. Kecurigaan terorisme yang dialami oleh umat muslim minoritas di eropa, amerika dan australia adalah akibat tindakan ekstrimis muslim yang membunuh semena-mena, membom dan meledakkan diri sesukanya, menghancurkan dan mengancam keamanan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Saudaraku, pahamilah bahwa Islam mengajarkan kedamaian. Maka jadilah panglima kedamaian di muka bumi untuk menjaga keselamatan umat Islam lainnya di negara yang minoritas muslimnya. Karena setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya.

Mari menjdi muslim sejati dengan menyelamatkan muslim lainnya dari tindakan kita secara langsung atau aksi balas terhadap tindakan kita secara tidak langsung.

Oleh Ustad Suryandi Temala (Ustad Fesbuker)
Read More

Sunday, August 4, 2019

Kualitas Ulama dan Lingkungan Yang Membentuk Keulamaannya

August 04, 2019 0

Tarbiyah.online – Jika membaca profil seorang ulama, tentu saja diantara bagian penting yang perlu dijelaskan adalah setting sosial ulama tersebut. Hal ini disebabkan karena kualitas dan tingkat keilmuan seorang ulama memang sangat dipengaruhi oleh setting sosial, mulai dari lingkungan hingga masyarakat yang melingkar di sisi bangunan perjalanan kehidupan ulama tersebut.

Sekarang seberapa nilai kualitas ulama yang terbit pada sebuah areal ruang dan waktu tertentu, maka semua itu juga erat kaitannya dengan lingkungan masyarakat pada tempat dan masa itu. Masyarakat tidak boleh berlepas tangan pada nilai dan kualitas ulama² yang muncul di tempat mereka, karena secara langsung atau tidak, mereka juga memiliki peran dalam membentuk kualitas ulama-ulama di sana.

Sekarang apa saja unsur yang perlu diperhatikan dalam setting sosial yang dimaksud? Kalau hendak dirumuskan satu per satu tentu banyak sekali. Tapi kali ini kita hanya membahas dua hal yang sederhana namun cukup berpengaruh. Bagian-bagian tersebut meskipun dijelaskan secara terpisah, tetapi satu sama lain akan tumpang tindih dan saling berkaitan.

1. Standar kompetensi yang ditetapkan oleh masyarakat serta skala prioritasnya

Awal sekali tentu kita semua paham bahwa seseorang tidak akan diposisikan sebagai seorang ulama secara tiba-tiba. Tidak mungkin ketika hari ini ia bukan apa-apa, lalu ujug-ujug keesokan harinya ia dinobatkan sebagai ulama oleh masyarakat di sana. Ketika seseorang diposisikan sebagai ulama, maka tentu saja ada standar tertentu yang berlaku dalam masyarakat dan telah ia penuhi.

Berbicara tentang status keulamaan, maka ada banyak sekali standar yang membentuk seseorang hingga dapat sampai pada level tersebut.  Dari berbagai standar yang ada, kita akan pecahkan menjadi dua kelas. Yaitu standar kelas satu (pokok) dan standar kelas dua (opsional). Dalam hal ini perbedaan kelas tersebut ditentukan oleh seberapa urgen standar tersebut dalam urutan skala prioritas kompetensi seorang ulama.

Standar kelas satu contohnya seperti tingkat ilmu dan wawasan, keluasan referensi, kemampuan mengajar, pemahaman langkah-langkah berpikir ilmiah, kemampuan berkarya (menulis), kemampuan meneliti dan penguasaan pada satu spesialisasi ilmu tertentu. Perhatikan bahwa nama-nama ulama monumental yang mengisi barisan ulama level tertinggi sepanjang sejarah umat Islam! Mereka semua pasti memiliki capaian yang maksimal pada tujuh standar kelas satu yang disebutkan di atas. 

Adapun standar kelas dua contoh-contohnya lebih banyak lagi seperti: membangun atau memimpin satu lembaga pendidikan (Dayah), pandai berceramah, memiliki sebuah majelis zikir/shalawat, memiliki amalan atau bacaan zikir/shalawat tertentu, memiliki pengaruh menentukan arah politik masyarakat, bersuara bagus, pandai bersenandung dan lain sebagainya. 


Ulama Kibar di Al Azhar
Kedua kelas tersebut tentu saja sama-sama penting dan bermanfaat. Namun urutan skala prioritas ini tidak boleh dilangkahi. Seharusnya yang paling diutamakan dalam kompetensi seorang ulama adalah standar kelas satu, jangan sampai standar kelas satu ada yang terabaikan, dan justru poin-poin di standar kelas dua malah jadi kompetensi pokok yang diberlakukan oleh masyarakat. 

Jadi pada satu tempat yang tidak menetapkan syarat keulamaan pada standar kelas satu, maka kualitas ulama di sana juga pasti cenderung menurun. Tempat tersebut akan diisi oleh para ulama yang kering dengan karya dan tulisan, karena memang kemampuan berkarya tidak ditetapkan dalam standar awal. Gebrakan penelitian dan penyelesaian masalah pada hal-hal yang berkaitan dengan Islam menjadi amat sunyi dan sepi, karena sejak awal pemahaman dan penguasaan metodologi penelitian tidak sama sekali diperhitungkan sebagai standar.

Contoh lain misalkan variasi dan kuantitas referensi keilmuan yang menjadi amat terbatas, bahkan tidak jarang ada rujukan (seperti kitab atau tokoh ulama) ilmu keislaman yang amat bernilai pada cabang tertentu, tetapi di tempat tersebut rujukan itu tidak pernah tersentuh atau dikenal. Hal ini tentu saja karena sejak awal, aspek keluasan referensi di tingkat pelajar tidak diperhatikan dengan baik.

Efek yang lebih buruk lagi adalah, di sebagian tempat itu agama Islam akan terkesan sebagai agama yang benar-benar irasional. Kenapa bisa, karena tahapan berpikir ilmiah  sejak awal masa pengkaderan ulama telah dicampakkan secara perlahan-lahan. Di kemudian hari pemuka agama Islam yang terbit adalah orang-orang yang begitu semangatnya menyeret ajaran Islam semakin jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Padahal ajaran Islam telah memisahkan dengan baik tentang hal-hal yang tidak bisa diukur dengan rasio seperti perkara ghaib, eskatologi, mukjizat dll, dengan hal-hal yang memang sewajarnya kita mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
K.H Aqil Siradj bersama Habib Luthfi Yahya
Akan tetapi yang terjadi di tempat itu tidak demikian. Secara mutlak sains kemudian dianggap kafir, sains dikesankan sebagai kendaraan yang bergerak ke arah berbeda dengan agama pada persimpangan sejarah hidup manusia. Hingga fakta² empirik dan nyata² telah diterapkan dalam keseharian manusia pun harus ditolak, semua itu atas nama kesetiaan pada ajaran agama. Pokoknya bumi harus datar, semua harus kembali pada pemahaman geosentris bahwa matahari dan benda angkasa lainnya mengelilingi bumi, gravitasi omong kosong, teori² dalam ilmu genetika harus ditolak, misi-misi astronomis hanyalah dongeng dan lain sebagainya. Semua itu dikampanyekan atas nama bela agama. padahal tanpa sadar hal itu justru sedang mencoreng wajah agama Islam pada masyarakat dunia. Tidak peduli bahwa  mereka semua adalah objek dakwah Islam juga, orang-orang yang mesti dibuat tertarik pada agama ini.

Wajah agama Islam jadi semakin runyam ketika tampil orang-orang yang memakai topeng ulama palsu. Hal ini mudah saja terjadi ketika standar kelas dua justru lebih didahulukan daripada standar kelas satu.

Satu orang yang capaian akademik nya belum teruji, tiba-tiba kemudian dielu-elukan bak seorang ulama besar hanya karena ia ternyata memiliki majelis zikir yang ramai pengikutnya. Ada seorang sosok ulama yang membumbung begitu tinggi karena ia banyak membuat gubahan doa, zikir, shalawat tertentu yang katanya Fadhilah membacanya berlipat-lipat. 

Kenapa hal-hal demikian bisa terjadi? Apa pernah ada sejarahnya ulama diorbitkan melalui jalur-jalur non akademik seperti demikian? Atau kemudian muncul satu jalan pintas lain untuk naik ke level ulama, yaitu dengan membangun pesantren dan sebagainya.

Kenapa hal-hal di atas bisa sangat marak terjadi? Tidak lain masalahnya ada pada standar kompetensi yang diberlakukan pada satu daerah, yang telah melanggar skala prioritas yang seharusnya dipakai.

Abah Guru Sekumpul bersama Habib Anis
Standar yang keliru itu jadi  jalan lempang untuk sebagian orang pelan-pelan mulai mendistorsi standar keulamaan.

Ada banyak pihak yang menaikkan kelihaian berceramah menjadi standar di atas segalanya. Sokongan keilmuan penceramah kemudian diabaikan begitu saja. Pokoknya banyak diisi dengan cerita menarik, masa bodoh dengan referensi dan validitas isinya. Kemudian hadis-hadis palsu yang bahkan terlalu palsu untuk dikategorikan sebagai hadis palsu ditebar seperti menebarkan pupuk ke atas tanaman. Kisah-kisah israiliyat yang sejak awal telah bermasalah dikembangkan dan ditambah-tambah lagi agar semakin menarik, lalu karangan² itu dilekatkan pada agama Islam. Pokoknya harus lucu, diisi dengan lagu-lagu irama India, maka penceramah itu sudah layak dipanggil kemana-mana. Bayangkan kemudian orang-orang semacam itu diberikan panggung untuk memperkenalkan wajah Islam kepada masyarakat. Kemudian hal itu berlarut-larut  menyisakan pemahaman² keliru yang sulit diluruskan kembali dalam tubuh umat Islam.

Fakta menyakitkan lain yang mendera kita sekarang adalah pengabaian pada spesialisasi ilmu tertentu. Khazanah ilmu Islam yang demikian luas mengharuskan para pelajar untuk bagi-bagi tugas, mereka harus memilih spesialisasi ilmu yang berbeda-beda. Tujuannya adalah supaya tidak ada posisi pakar cabang ilmu tertentu yang lowong. Mungkin banyak pihak yang menganggap hal ini tidak penting, tapi saya ambil satu contoh. Spesialisasi ilmu hadis. Ada kesulitan besar untuk memisahkan dengan rapi antara hadis² shahih dengan hadis² bermasalah, bahkan dengan cerita-cerita israiliyat yang beredar dalam masyarakat. Mengapa semua ini bisa terjadi? Tidak lain adalah dampak terbatasnya pakar-pakar hadis yang mengisi pos-pos keulamaan di daerah tersebut. Belum lagi diperparah dengan muatan-muatan hadis bermasalah dan israiliyat yang dicampur adukkan oleh penceramah tipe-tipe yang dijelaskan di atas.
Gus Dur bersama K.H.Zainuddin MZ dan Rhoma Irama
Dan kalau mau jujur, ada banyak sekali posisi pakar keilmuan tertentu yang lowong misalnya di Aceh ini atau Indonesia secara umum. Ada berapa orang pakar hadis? pakar ilmu Rijal, ilmu qiraat, ilmu Rasm dan dhabt, pakar muamalah kontemporer, dan ilmu-ilmu yang sebenarnya sangat urgen bagi umat. Jangan bermimpi hal ini bisa diselesaikan dengan pola pendidikan yang mendidik sekelompok pelajar dengan muatan ilmu dan kurikulum yang seluruhnya seragam, kemudian mereka ditugaskan untuk dapat mengisi pos-pos pakar keilmuan yang lowong tersebut. Jangan mimpi!!

Terakhir untuk menutup pembahasan tentang standar kompetensi dan masuk ke poin selanjutnya, maka mari sama-sama kita renungkan,

Ulama-ulama level puncak semacam imam 4 mazhab seperti imam Syafi'i, ulama Mujtahid pra-empat mazhab seperti Al-Zuhry atau Ibrahim al-Nakha'iy, ulama selevel imam Mazhab seperti Sufyan al-Tsaury dan Al-Awza'iy, ulama murid-murid senior dalam mazhab seperti Al-Muzany atau Sahnun, ulama-ulama pelopor perintisan cabang keilmuan seperti imam Haramain al-juwainy atau Ramahurmuzy, ulama yang memiliki banyak karya besar seperti al-Suyuthy dan al-'Asqalany, ulama yang berperan besar dalam tahrir mazhab seperti imam Ghazali atau imam Nawawi, ulama yang sukses meredam pemikiran menyimpang seperti imam al-Asy'ary atau al-Qadhi al-Baqilany, ulama poros dunia kontemporer seperti wahbah Zuhaili atau Ramadhan al-Buthy. Serta berbagai nama ulama sekaliber seperti ulama di atas yang tidak disebutkan di sini. Mereka semua muncul di tengah masyarakat yang memang sejak awal memberlakukan standar selevel itu.

Akan tetapi, jika sejak awal standar yang ditetapkan itu bobrok, maka tidak akan dapat dihindarkan nanti hasil yang dituai juga bobrok.

2. Fungsi dan kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat

Selain daripada standar, setting sosial yang menentukan kualitas ulama yang terbit di satu kawasan adalah fungsi yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat dari keberadaan seorang ulama di sekitarnya. Saat masyarakat menginginkan fungsi pokok seorang ulama, maka ulama-ulama yang muncul juga kapabel dengan fungsi-fungsi tersebut.
Habib Ali al Jifri bersama Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki

Sekarang mari sama-sama membuat perenungan! Apakah selama ini masyarakat kita merupakan gambaran orang yang haus pada ilmu pengetahuan atau lebih gemar menikmati banyolan-banyolan. Jika seperti gambaran pertama, maka kaderisasi ulama pun pastinya akan menyesuaikan dengan rasa haus ilmu pengetahuan, para ulama akan terbentuk untuk menjadi figur yang dapat memuaskan rasa haus itu. Akan tetapi jika sebaliknya, maka percayalah kader-kader ulama pasti akan berbelok menjadi pembuat cerita, karena memang animo masyarakat ada pada bagian itu. Maka saksikanlah bahwa kemampuan mengolah dan merangkai kata akan jauh lebih diperhatikan dibandingkan kualitas dan validitas konten yang dibawanya.

Perhatikan lagi apakah umat Islam di sini terlihat bergairah untuk menikmati karya-karya tulis ilmiah? Mulai dari tulisan murni, Syarah atau hasyiyah untuk karya yang sudah ada sebelumnya, ringkasan untuk karya besar yang sudah ada, Syarah untuk karya-karya dalam bentuk syair dan nazham, terjemahan dan alih bahasa untuk kitab-kitab berbahasa Arab, pemisahan satu kajian tertentu dalam tulisan baru yang utuh dari sebelumnya tercampur², aktualisasi kandungan dari kitab para ulama sebelumnya, atau bentuk-bentuk karya tulis lainnya. Kekeringan tulisan ulama Tempatan yang terjadi di sebuah daerah, pastinya juga dipengaruhi oleh minat membaca umat Islam di sana yang amat rendah. Sehingga sejak awal kemampuan menulis menjadi sesuatu yang tertinggal dalam proses kaderisasi ulama. Padahal kalau melihat kemungkinan verifikasi kebenaran,sajian tertulis akan lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan ceramah-ceramah lisan.

Jika hendak melakukan perbaikan, maka umat Islam harus mulai meningkatkan perhatian dan minat mereka untuk menelusuri dan menikmati sebuah bacaan,baik berkaitan dengan ilmu agama dan bacaan umum yang lain.

Jika kemudian fungsi keulamaan disunat pada batas-batas remeh remeh saja, maka kualitas ulama pun akan menyesuaikan dengan fungsi yang sedikit itu. Bayangkan apa jadinya jika fungsi yang dibutuhkan oleh para ulama sebatas pada hal-hal semacam ini:
Bisa jadi pemimpin doa dan zikir, khususnya saat ada kematian
Ada orang mengaji di kuburan
Ada yang memenuhi undangan berdoa dan shalawatan pada acara tertentu
Ada yang jadi imam shalat dan mengurus tempat shalat, dll
Abiya Anwar Kuta Krueng bersama Abu Mudi
Tidak ada yang salah dengan fungsi-fungsi tersebut. Yang salah adalah menjadikannya sebagai fungsi utama, melenceng dari fungsi ulama sebagaimana mestinya. Jika demikian ya sudah, paradigma yang terbangun di kalangan pelajar agama Islam pun adalah, "saya belajar agama biar bisa mendoakan orang meninggal", "kalian anak sekolah silahkan buat ini itu segala macam! Tapi nanti kalau ada yang meninggal, kamu atau saudara kamu pasti kami yang doakan", "selesai menuntut ilmu agama nanti pasti akan ada banyak undangan kenduri dan sedekah". Sekarang apakah capaian seperti d atas selayaknya dijadikan target seorang penuntut ilmu agama?? Apakah kita hanya bisa berpikir sependek itu??

Justru selayaknya fungsi keulamaan diperluas seluas-luasnya. Bagaimana memberikan solusi terhadap problematika yang muncul dengan sudut pandang pemahaman agama Islam, seharusnya para pelajar agama berperan aktif dan menghasilkan ide-ide untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Bagaimana mewujudkan perkembangan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, membangkitkan pikiran kreatif, mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, mewujudkan stabilitas politik dan pemerintahan dan isu-isu major lainnya. Semua diselesaikan dari sudut yang sesuai dengan keilmuannya masing-masing.

Semua itu tentu saja baru bisa terwujud dengan kemampuan meneliti. Masalah baru bisa diselesaikan dengan kemampuan pengumpulan dan pengolahan data yang baik, kemudian menghasilkan temuan dan simpulan yang bermanfaat dan bisa dipasang sebagai solusi untuk masalah yang hendak diselesaikan. Lalu dilengkapi dengan kemampuan deskripsi dan menulis yang baik dan benar, penguasaan media dan lain sebagainya.

Sekarang bagaimana semua itu bisa terwujud jika menulis tidak pernah merasa perlu dipelajari, meneliti tidak harus dilakukan, penguasaan teknologi dan media terbatas, penguasaan bahasa terbatas pada bahasa daerah saja, bahasa nasional terbata-bata, bahasa internasional tidak dipelajari sama sekali, kemandirian ekonomi tidak mampu dicapai malahan justru bergantung pada sedekah dan pemberian orang, Bagaimana kita pelajar agama bisa diharapkan dapat melakukan fungsi-fungsi seperti di atas.

Abu Mudi dan Waled Nu bersama Habib Umar dan habaib lainnya.
Kecuali jika pelajar agama di masa sekarang memang sudah setuju dan nyaman dengan paradigma berfikir bahwa fungsi dan tujuan belajar agama sebatas mendoakan orang yang sudah mati, mengaji di kuburan dan menghadiri undangan kenduri saja. Ingat bahwa saya tidak mempermasalahkan hal-hal itu, saya pun pernah melakukannya. Tapi kita para pelajar agama, mari sama-sama mengembalikan fungsi ilmu agama sebagaimana kedudukannya yang tinggi. Mari ikut berkarya, meneliti, memberikan solusi, memperbaiki apa yang keliru, mari mengubah wajah pelajar agama sebagai kader-kader ulama menjadi wajah yang lebih akademis dan bernilai, lebih dari sekedar fungsi sampingan saat orang meninggal.

Terakhir kali tentu saja tulisan di atas sebatas merupakan opini penulis. Sah-sah saja dibantah atau dikoreksi, bahkan memang sewajarnya demikian. Tetapi tolong utarakan dengan bahasa dan cara yang berkelas. Kalau sekedar mampu memberikan sumpah serapah, tuduhan dan kecurigaan tidak jelas atau tanggapan sampah, sebaiknya tidak usah ikut berkomentar, karena tulisan ini memang tidak diarahkan untuk orang semacam itu.

Oleh Teungku Rudy Fachruddin, S.IT (Sarjana Ilmu Quran dan Tafsir, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan Dewan Guru di Dayah Darul Ulum, Lueng Ie, Aceh Besar).
Read More

Saturday, August 3, 2019

Hafiz Quran dan Potret Keburaman Islam Masa Depan Islam

August 03, 2019 0

Tarbiyah.online – Hafiz quran tapi awam ilmu tauhid, fikih dan tasawuf adalah potret buram masa depan generasi Aceh dan Indonesia 10 tahun ke depan.

Kita tidak ingin terulang sejarah buram, hafiz, qari dan rajin ibadah tapi berpaham radikal, cukuplah ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM, POTRET BURAM SEORANG KORBAN PEMIKIRAN KHAWARIJ.

Oleh karena itu, kebenaran pemahaman dan itikad yang baik merupakan sebuah keniscayaan dalam mengaplikasikan ajaran Islam secara benar. Dua perkara ini harus seiring-sejalan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, maka tabiat buruk bisa muncul karena mereka tidak dibimbing oleh ilmu. 

Sejarah mencatat kejahatan ‘Abdur-Rahmân bin Muljam, kaum Khawaarij ini telah melakukan pembunuhan terhadap Amîrul-Mu`minîn ‘Ali bin Abi Thâlib, yang juga kemenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

SIAPAKAH ‘ABDUR-RAHMÂN BIN MULJAM?

Merupakan kekeliruan jika ada yang menganggap ‘Abdur-Rahmân bin Muljam dahulu seorang yang jahat. Sebelumnya, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa saat siang hari dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai.

Meski demikian, ia mendapat gelar al-Muqri`. Dia mengajarkan Al-Qur`ân kepada orang lain. Tentang kemampuannya ini, Khalifah ‘Umar bin al Khaththab sendiri mengakuinya.

Dia pun pernah dikirim Khaliifah ‘Umar ke Mesir untuk memberi pengajaran Al-Qur`ân di sana, untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, ‘Amr bin al-‘Aash, karena mereka sedang membutuhkan seorang qâri.

Dalam surat balasannya, ‘Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.

Jadi, hafal quran itu penting karena kalamullah, namun dari tinjauan hukum tetap sunat, sementara belajar fardhu ain, berupa Akidah, Tauhid dan Tasawuf,  wajib ain. Agar tidak pincang, bekali generasi islam dengan ilmu fardhu ain setelah itu baru jadi hafiz. Jika tidak, akan lahir ibn muljam lainnya dan akan jatuh korban Ali berikutnya.

Fataammul ya ulil absar...!!!

Oleh Buya Mustafa Husein Woyla, S.Pd.I, Pengajar di Dayah Darul Ihsan Krueng Kale, Aceh Besar.
Read More

Saturday, April 14, 2018

MEMAKNAI MUKJIZAT PERISTIWA ISRA' DAN MI'RAJ

April 14, 2018 2
Tarbiyah.OnlineHampir seluruh umat muslimin tahu tentang kisah isra dan mi'raj ini, atau setidaknya pernah mendengar meski sekali saja dalam hidupnya. Yaitu, perjalanan di malam hari dari kota mekah (mesjidil haram) ke yarussalem (masjidil aqsa). Dan perjalanan menuju sidratul muntaha (menembus lapis langit ke tujuh) dengan mengendarai satu makhluk bernama Buraq yang ukurannya sedikit lebih besar dari keledai, kecepatannya sejauh mata memandang. Rasulullah Muhammad SAW ditemani malaikat Jibril AS sepanjang perjalanan, kecuali ketika ia sampai di Sidratul Muntaha.

Dimana dalam perjalanan tersebut Rasul SAW dibebankan syari'at shalat 5 waktu sehari semalam, di tempat yang sangat istimewa. Dimana Malaikat dan Jin sekalipun tak dapat menembus hijab tersebut. Yaitu sidratul muntaha.

Kisah Isra' dan Mi'raj ini diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya, Surah Al Isra dimulai dari ayat pertama. Demikian pula dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan secara panjang dalam kitab shahih bukhari dan muslim.

Di siang hari, Rasul SAW bercerita tentang kisahnya di hadapan kaum Quraiys, namun banyak diantara mereka yang memungkiri, mendustakan apa yang dikatakan oleh Nabi SAW.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:

لمّ كذّبتني قريش قمت فى الحجر فجعلّى الله لى بيت المقدس فطفقت أخبرهم عن ايته وانا انظرو اليه.
"Ketika kaum Quraisy mendustakan aku. Aku berdiri di Hijr Ismail, lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis padaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya daripada apa yang aku lihat."

Ketika berita ini didengar oleh kaum Quraiys. Mereka datang kepada Abu Bakar dan menceritakan hal tersebut dengan harapan Abu Bakar akan ikut mendustakan apa yang Muhammad sampaikan seperti hal keadaan mereka lakukan. Namunya ternyata Abu Bakar menjawab, "Jika memang benar Muhammad yang mengatakan hal tersebut, maka dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari pada itu". Ini pula yang menjadikan Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (membenarkan Nabi SAW secara mutlak).

Setelah peristiwa Isra dan Mi'raj, pada pagi harinya malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW di setiap waktu-waktu tertentu sebagai penanda masuk dan batas waktu shalat. Dan diajarkannya shalat sebagaimana shalat yang disyari'atkan kepada Muhammad SAW, setelah sebelumnya ibadah/ ritual shalat yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah mengikuti syari'at shalat Nabi Ibrahim AS.

Ibrah dari Peristiwa Mukjizat Isra dan Mi'raj yang dapat kita petik antara lain:

1. Ketika kita menyebutkan Isra' dan Mi'raj sebagai mukjizat, maka banyak perihal logika tertembusi. Kejadian luar biasa yang ada pada Nabi SAW dan Para Rasul AS lainnya disebut dengan Mukjizat.
Jumhur ulama (hampir semuanya) mengatakan Perjalanan yang dilakukan pada malam itu dilakukan dengan jasad dan ruh, maka perjalanan tersebut juga bukan sebuah mimpi, sebagaimana yang disebutkan oleh para orientalis dan pemuja logika. Karena Nabi SAW mampu menceritakan sebegitu detailnya peristiwa tersebut dan dirasakan oleh tubuhnya yang mulia menembusi alam ruh.
Mustahil? Tidak ada yang mustahil  bagi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al An'am ayat 109: "...Katakanlah,"Sesungguhnya, mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah....".

Dalam Syarhul Muslim, Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum muslimin, ulama salaf, fuqaha, ahli hadits dan ilmu tauhid adalah bahwa Nabi SAW di-Isra dan Mi'raj-kan dengan ruh dan jasadnya. Semua nash menunjukkan hal ini dan tidak boleh ditakwil zahirnya kecuali dengan adanya dalil." (Jilid 2 halaman 29).

Demikian halnya dengan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari Syarah 'ala Bukhari, " Sesungguhnya, Isra dan Mi'raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, ahli fiqh, dan ahli ilmu kalam. Semua arti zahir dari hadits-hadits shahih menunjukkan pengertian tersebut, dan tidak boleh dipalingkan kepada pengertian lain karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk mentakwilnya." (Fathul Bari 7/136-137)

2. Kedudukan Baitul Maqdis yang mulia bagi umat islam di sisi Allah SWT. Betapa kaum muslimin harus menjaga keberadaan Baitul Maqdis dari tangan-tangan keji dan bernajis Yahudi.

3. Keagungan Syari'at Shalat 5 Waktu. Satu-satunya syari'at diantara pilar agama yang paling penting, diterima oleh Nabi SAW di tempat selain bumi adalah shalat. Seolah Nabi SAW dijamu oleh Allah SWT di tempat yang agung di langit sana. Tempat dimana hanya Nabi SAW saja yang mampu menembusinya. Bahkan Jibril, Mikail dan Israfil (konon menjadi makhluk yang paling dekat dengan Allah) pun tidak mampu berdiri bahkan mendekat kepada Sidratul Muntaha tersebut. Disinilah Allah mewahyukan kepada Muhammad apa yang telah diwahyukan (syari'at shalat).


Syari'at shalat yang didapat Rasul SAW seolah berkesan dijemput oleh Nabi SAW ke tempat yang mulia. Shalat juga disebut menjadi media pendekatan (mi'raj)-nya umat kepada Allah SWT. Disebutkan dalam hadits yang panjang riwayat Bukhari dan Muslim, syari'ah shalat awalnya dibebankan oleh Allah SWT kepada umat Muhammad sebanyak 50 (waktu) kali dalam sehari. Namun para Nabi, terutama Nabi Musa AS yang dijumpai oleh Nabi Muhammad SAW menyarankan kepada Rasulullah SAW untuk meminta keringanan waktu. Sehingga dengan sifat Rahiim-Nya Allah, menjadi 5 waktu saja dalam sehari semalam dibebankannya kewajiban shalat, dengan porsi pahala yang sama dengan 50 waktu.

Untuk membaca sejarah peristiwa Isra dan Mi'raj, banyak sekali buku dan kitab-kitab yang meriwayatkan kisah Isra dan Mi'raj secara detail. Namun, demikian tidak menutup kemungkinan ada riwayat yang bercampur dengan kabar-kabar palsu. 

Dalam Buku Fiqh Sirah oleh Syeikh Asy-syahidul Mimbar Muhammad Sa'id Ramadhan al Buthi disebutkan juga agar berhati-hati kepada kitab Mi'rajul Ibni Abbas, dimana banyak sekali kisah dalam kitab tersebut yang disandarkan kepada Sahabat sekaligus sepupu dari Nabi SAW (Abdullah bin 'Abbas bin Abdul Mutthalib). Kata Syeikh, setiap orang yang berakal dan terpelajar (agama) pasti mengetahui bahwa Ibn Abas terbebas dari segala kedustaan yang dituliskan didalam buku tersebut. (Terj. Fiqh Sirah: Sirah Nabawiyah 142).

Syeikh Al Buthi juga mengatakan, sejarah peristiwa luar biasa ini hanya bisa didapat dan dipercaya melalui riwayat-riwayat shahih. Karena keghaiban yang terjadi di dalamnya. Hindarilah riwayat-riwayat palsu yang menyesatkan umat.

Wallahu a'lam bis-shawab.
Read More

Monday, December 18, 2017

Kisah Nyata: Buah Sabar dan Amanah, Allah Gantikan Yang Haram Menjadi Halal

December 18, 2017 0
Kisah ini tertulis dibuku “Zikrayat Ali Tantowy”, karya Sheikh Aly Tantowy. Buku 8 jilid, berisi catatan harian, kisah-kisah hidup sheikh Aly Tantowy semasa kuliah dan menjadi Hakim, dan cerita tentang Damaskus. Kisah ini tidak asing bagi penduduk Damaskus dan terus diceritakan dari ayah ke anak.


Di Damaskus ada sebuah masjid besar, namanya Jamik Taubah. Wilayah ini awalnya adalah tempat  maksiat, kemudian dibeli oleh Sultan Musa Adil Al Ayyuby pada abad ke 7 Hijriah, dan dijadikan masjid, makanya disebut Jamik Taubah, atau Masjid Taubah.
Kisah ini terjadi sekitar 120 tahun yang lalu. Pada saat itu Imam Masjid Taubah adalah Syeikh Salem Mesuty, seorang Sufi dan Faqih Hanafi, aslinya berasal dari Albania, beliau sangat dihormati. Hampir semua masyarakat pernah “curhat” ke beliau apabila ada masalah. Beliau memiliki banyak murid, salah satunya seorang pemuda miskin, yang dikenal cerdas dan shaleh. Pemuda itu tinggal di salah satu raungan kosong di masjid, karena tidak memiliki rumah.
Suatu hari, pemuda itu tidak lagi mempunyai uang untuk membeli makanan, tetapi karena izzatunnafsi (kehormatan diri) yang dimiliknya, dia tidak mau meminta-minta, dia memilih menahan lapar sampai Allah memberinya rezeki dengan cara-Nya. Setelah menahan lapar selama 3 hari, tiba masanya dia hampir menyerah, sudah benar-benar lemah tidak mampu lagi bertahan. Mungkin (menurutnya) sudah sampai pada level boleh makan bangkai atau mencuri secukupnya untuk makan. Akhirnya dia memutuskan untuk mencuri.

Saat itu, rumah di Damaskus masih berdempetan, rumah lama, jadi mudah saja kalau naik ke atap untuk kemudian melompati dan berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Akhirnya pemuda itu naik ke atap masjid dan menuju keatas rumah penduduk. Ketika melewati sebuah rumah, dia melihat seorang wanita cantik, diapun menundukkan pandangannya. Diapun berpindah ke rumah lain, tiba-tiba dia melihat rumah kosong, “inilah calon korban”, pikirnya. Dan ternyata dari rumah itu tercium bau makanan yang cukup menggoda, akhirnya dia memutuskan untuk turun. Sekejap saja dia sudah di teras rumah.
Dia menuju dapur dimana sumber aroma muncul. Dengan cekatan dia masuk ke dapur dan membuka periuk, ternyata ada “makdusy” (jenis masakan Suriah), langsung saja dia mengambil satu makdusy, tanpa peduli masih panas untuk dimakannya. Ketika hendak digigit, dia sadar, “Astaghfirullah, aku pelajar Agama! Bagaimana aku bisa masuk rumah orang dan mencuri!”. Diapun meletakkan kembali makdusy dalam periuk dan pergi.
Dia sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya, sepanjang jalan atap rumah dia terus beristighfar sampai masjid. Di masjid dia langsung bergabung ke majlis pengajian Syeikh Mesuty (seorang ulama besar saat itu). Dengan kondisi yang saking laparnya, dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh sheikh.
Setelah pengajian selesai, jamaahpun bubar. Tiba-tiba seorang wanita bercadar mendekati Syeikh Mesuty dan berbicara, entah apa yang dibicarakan tidak ada yang tahu, hanya dia dan Syeikh saja yang tahu. Namun terlihat olehnya Syeikh Mesuty menganguk-angguk. Syeikh pun berpaling seakan sedang mencari seseorang, dan tidak ada seorangpun di masjid itu kecuali pemuda tadi, muridnya.
“Kamu sudah nikah, belum?” tanya Syeikh,
“Belum, Sidi”. Jawabnya.
“Apa kamu mau nikah?”
“Bagaimana saya bisa menikah wahai Syeikh, untuk makan sehari-hari saja saya tidak punya uang”.
“Wanita itu (sambil mengisyaratkan pandangan ke wanita tadi) mengatakan bahwa suaminya sudah meninggal, dia bukan orang Damaskus. Dia tidak punya siapa-siapa kecuali pamannya yang sudah tua. Ketika suaminya meninggal, dia meninggalkan rumah dan harta. Jadi, dia ingin menikah supaya tidak sendiri lagi. Bagaimana? Kamu mau?”, kata Syeikh.
“Mau, Sidi”. Jawabnya singkat.

Syeikh Memanggil wanita itu, “Kamu mau menikah dengan dia, dan kondisinya seperti itu?”, wanita itupun setuju. Lalu Syeikh pun memanggil paman wanita itu sebagai wali dan beberapa orang saksi. Akhirnya pernikahanpun dilangsungkan, dan Syeikh lah yang menanggung mahar muridnya itu.
“Sekarang kalian sudah menjadi suami istri, silahkan bawa suamimu”, kata Syeikh Mesuty.
Mereka pun berjalan ke rumah, sampai di rumah wanita itu membuka cadarnya, ternyata wanita itu masih muda dan cantik sekali. “Habibi, mau makan?”, dia menawarkan makan ke suaminya. Si pemuda itu malah takut, karena rumah itu adalah rumah yang tadi dimasukinya.
Istrinya masuk ke dapur mengambil makanan, “Masya Allah, siapa yang masuk rumah ini dan menggigit makdusy!”.

Suaminya menangis dan menceritakan kisahnya yang menyelinap masuk untuk mencuri makanan demi mengisi kekosongan perutnya.
Istrinya berkata, “Ini adalah buah dari sabar dan amanah, ketika kamu tidak memakan makdusy secara haram, Allah menggantikan yang lebih baik, makdusy, rumah dan pemiliknya secara halal”.

Sheikh Tantowy mengatakan, “Kisah ini nyata, dan aku mengenal para tokohnya. Ketika meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantikan dengan lain yang lebih baik”.
Allahummak fina bihalalika ‘an haramika wa aghnina bifadhlika ‘anman siwaka.

Read More