TARBIYAH ONLINE: Ilmu Menurut imam Ghazali

Terbaru

Showing posts with label Ilmu Menurut imam Ghazali. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Menurut imam Ghazali. Show all posts

Tuesday, December 19, 2017

Tahapan-Tahapan Ilmu Yang Harus Dilalui

December 19, 2017 0

Tahapan-tahapan menurut Hujjatul Islam al Imam Ghazali rahimahullah.

Tahapan-tahapan ilmu ada empat, sebagaimana tahapan pada harta.
  1. Istifadah, mencari. Berusaha dengan penuh keyakinan untuk mendapatkannya, ilmu didapatkan melalui proses belajar. Sedangkan harta didapat melalui bekerja. 
  2. Iktisab/ Tahshil, menyimpan. Ilmu disimpan melalui hafalan dalam ingatan. Dan harta disimpan dalam kantong, dompet, buku tabungan atau gudang.
  3. Infaq li nafsih, memanfaatkan untuk dirinya. Ilmu mesti diamalkan agar ia bermanfaat dan mencapai maksud dan tujuan, yaitu ibadah kepada Rabb dzuljalali wal ikram. Demikian juga harta, manfaatkan harta untuk kebutuhan diri, membeli makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Sungguh harta tak berguna jika hanya disimpan, tanpa dipakai.
  4. Tabshir, sebarkan/ ajarkan. Ilmu akan semakin bermanfaat dengan diajarkan kepada yang lain, demi terciptanya lingkungan berilmu, mengentaskan kejahilan. Pada harta, bersedekah dan memberi bantuan kepada yang lain akan menciptakan lingkungan yang bebas dari kefakiran.

Imam Ghazali


Untuk versi videonya bisa ditonton disini.

Tahapan-tahapan tersebut mestilah dijalankan secara tertib dan berturut. Jika tidak, kerugian dan kebinasaan akan didapat si pelaku.
Apa yang mesti disimpan jika belum memliki apa-apa? Bagaimana hendak memanfaatkan apabila tidak memilikinya sama sekali? Untuk apa membagikan kepada yang lain, sedangkan untuk diri sendiri tidak kita manfaatkan?

Mencari ilmu adalah perkara yang mulia, menyibak tabir kebodohan. Seluruh makhluk di alam raya akan memohonkan keampunan bagi para pencari ilmu, saking memiliki nilai yang sangat luar biasa. Mengusahakan harta juga sebuah kemuliaan, karena mengangkat derajat manusia dari kefaqiran. Kefaqiran sangat dekat dengan kekufuran, demikian nasihat yang diutarakan oleh sebuah ungkapan.
Menyimpan ilmu melalui hafalan dan pengulangan kajian yang terus dilakukan. Tahapan ini akan memberikan kesibukan dan kenikmatan luarbiasa dalam kehidupan. Proses ini akan meghilangkan permasalah kehidupan dan kegalauan yang tidak penting. Kesibukan dalam menghafal ilmu kadang bisa mencapai titik jenuh dan bosan. Namun, perlu diingat, jangan beranjak kepada hal lain selain menyibukkan diri dengan ilmu. Cukup beralih kepada fan ilmu yang berbeda. Seperti dari ilmu nahwu, beralih ke ilmu mantiq atau juga yang lainnya. Maka akan didapatinya kesibukan terus-menerus dan memberikan kelezatan menyelami ilmu dengan rasa yang berbeda-beda.


Ilmu

Baca juga kisah inspiratif disini.

Mengamalkan ilmu adalah sebuah kewajiban, Karena salah satu tujuan terbesar dari berilmu adalah untuk diamalkan, sedangkan amalan yang tidak didasari oleh ilmu akan tertolak. “Al ‘ilmu lil ‘amal, wal ‘amali bil ‘ilmi” (ilmu itu untuk diamalkan, dan amal mestilah dengan ilmu). Pada kasus harta, sebanyak apa pun harta yang telah kita miiki dan kita simpan tapi tidak bisa kita gunakan merupakan sebuah kerugian yang sangat luarbiasa. Untuk apa kita memiliki tabungan bermilyar-milyar di rekening tapi, malah tidak kita cairkan dan gunakan untuk membeli kebuthan makan, pakaian juga tempat tinggal. Bodoh sekali orang yang memiliki banyak uang, tapi memilih berjalan tanpa alas kaki, tidak makan berhari-hari, dan memutuskan tinggal di depan emperan pertokoan atau dibawah jembatan dengan beralaskan kardus. Gunakanlah harta yang engkau punya untuk memenuhi kebutuhan hidup mu.

ilmu
Membagikan dan mengajarkan ilmu akan membuka pintu-pintu ilmu dan wawasan baru. Ketika ada kepelikan dalam memahami detail ilmu dalam kesendirian, mengajarkan dan mendakwahkan ilmu menjadi jalan yang membawa kepada pemahaman yang lebih baik terhadap detail ilmu. Hal ini bisa terjadi lantaran proses berpikir yang semakin terbuka, perbandingan terhadap hal yang baru yang dijumpai. Karena ilmu akan semakin bertambah dengan diajarkan kepada yang lain. Tahapan ini sungguh menjadi hal yang paling mulia dalam ilmu. Dengan syarat, ia menjadi amalan bagi dirinya sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan diatas.
“Orang yang memiliki ilmu dan memiliki, mengamalkan dan menyebarkan ilmu diseru dengan seruan agung oleh penduduk langit (malaikat), ia bagaikan matahari yang menerangi dan dia sendiri bercahaya, ia seperti misk/ kesturi, ia mampu mewangikan, dan ia sendiri wangi."

Mendakwahkan dan mengajarkan ilmu sedang diri sendiri tidak sedikitpun mengamalkan, ia seperti buku. Menyimpan ilmu yang banyak, dan banyak yang dapat mengambil manfaat darinya, namun ia tidak bermanfaat bagi dirinya. Diibaratkan juga sebagaimana jarum yang bisa menjahit pakaian, sedangkan dia sendiri telanjang. Janganlah menjadi batu asah, yang hanya mampu menajamkan pisau untuk menyembelih ayam, sedangkan batu asah sendiri tidak punya kemampuan memotong. Bahkan lebih mengerikan, ia bak sumbu lampu yang menerangkan kepada yang lain sedangkan ia binasa terbakar.

Membagikan harta, tanpa melakukan pemenuhan kebutuhan bagi diri sendiri adalah suatu kecelakaan. Diri sendiri kelaparan, berhari-hari tidak makan, pakaian tak punya walau sehelai. Harta yang menumpuk hendak disedekahkan kepada orang lain? Sungguh kebodohan dan kerugian yang ia dapakan.

Sumber:
Ihya 'Ulumuddin juz 1, hlm. 55,
Syarah Ta'limul Muta'allim hlm 36 dan 42,
Ittihaf Sadatil Muttaqin Syarah Ihya 'Ulumuddin juz 1 hlm. 130).



Read More