TARBIYAH ONLINE: Fiqih

Terbaru

Showing posts with label Fiqih. Show all posts
Showing posts with label Fiqih. Show all posts

Monday, November 4, 2019

Perayaan Maulid Lebih dari Sekedar Mengenal Nama dan Nasab Nabi Saw

November 04, 2019 0

Tarbiyah.onlineApa hikmah dari memperingati perayaan maulid Nabi Muhammad SAW? apakah hanya sekedar makan-makan? Adakah hal lain yang perlu diperhatikan?

Kelahiran Baginda Rasulullah SAW adalah merupakan suatu nikmat besar lagi sangat berharga. Karena dengan lahirnya Pemuda Arab yang suci lagi mulia ini, kita dapat mengenal Allah melalui perantaraan beliau SAW.

Oleh karena inilah kita ummat Islam sedunia walaupun tidak semuanya, membuat perayaan Maulid Nabi SAW, sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat yang agung tersebut.

Namun yang sangat disayangkan adalah, jika kita perhatikan perkembangan ummat muslim sekarang ini dalam memperingati maulid Nabi, kebanyakan hanya sekedar menyanjung-nyanjung nama Rasulullah SAW, menyebut nasab keturunannya , bercerita kisah-kisah perjalanan hidupnya dan menyampaikan ajaran yang dibawanya.

Hanya sekedar itu saja, sangat kurang yang mengamalkan ajaran yang dibawanya secara komplit

Yang dimaksud dengan kata-kata “secara komplit”, adalah sebagaimana Firman Allah SWT yang tersebut didalam  Al-Quran:

قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali Imran: 164)

Cobalah kita perhatikan dengan seksama ayat tersebut diatas. Maka dapat disimpulkan bahwa hikmah diutusnya Rasul tersebut adalah untuk menyampaikan tiga perkara kepada orang-orang quraisy dan kita semua, tiga perkara itu adalah :

1. Tentang keberadaan Allah/tanda-tanda keberadaan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan Tauhid atau aqidah.

2. Tazkiyah (penyucian jiwa), yakni membersihkan nafsu dari segala macam sifat tercela dan dari syirik khafi (halus/tersembunyi) yang bersarang didalam bathin. tazkiyah Inilah yang disebut dengan tasawwuf dan kesufian.

3. Mengajarkan Kitab (hukum syari’at) dan hikmah atau kebijakan dalam mejalanai kehidupan didunia yang fana ini.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa, perayaan maulid Nabi tersebut bukan hanya sebatas mengetahui nama dan nasab keturunan, sejarah kelahiran dan kehidupan beliau saja. Akan tetapi Maulid Nabi itu dirayakan untuk memahami dan mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.

Memahami ajaran-ajaran tersebut dengan pemahaman yang benar, untuk kemudian mengamalkannya dengan baik. Jadi bukanlah hanya sekedar membangga-banggakan Sosoknya saja, tanpa mengikuti ajaran yang dibawanya.

Ibrahim bin Adham, seorang tokoh ulama shufi, Waliyullah terkenal. Beliau pernah ditanya oleh murid-muridnya perihal ayat yang berarti “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuterima”. muridnya berkata:

“Wahai guru, Kami senantiasa berdoa kepada Allah, akan tetapi sampai saat ini doa kami tersebut belum terwujudkan, belum diterima. Lalu bagaimana ayat tersebut dapat terbukti wahai guru? apa maksud ayat itu sebenarnya? dan apa kesalahan kami sehingga sampai saat ini doa kami belum  juga diterima Allah SWT?”

Sang guru, Ibrahim bin Adham pun menjawab beberapa hal yang menjadi pencegah diterimanya doa seorang hamba oleh Allah. Salah satunya adalah “Kalian membangga-banggakan Nabi Muhammad, kalian kagum padanya, bahkan kalian siap berperang bila namanya direndahkan, tetapi sayangnya kalian tidak mau mengikuti sunnah dan ajaran-ajarannya. inilah penyebab doa kalian tidak diterima” kata beliau.

Makanya Allah SWT menghikayahkan didalam Al-Quran ucapan Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim berkata:

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي

“…maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku”. (QS. Ibrahim: 36)

Pertama sekali yang kita pahami dari ayat ini adalah siapa yang mengikut maka dia termasuk golongan ku, dan yang kedua merupakan kebalikan dari itu, yakni siapa yang tidak mengikutiku maka bukanlah dari golonganku.

Maka oleh karena itu, ketika Nabi Nuh as berkata kepada Allah tentang putranya yang durhaka:
فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي

“…maka ia (Nuh) berkata : Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku” (QS. Hud: 45)

Kemudian Allah SWT pun menjawab kegelisahan Nabi  Nuh, pada ayat selanjutnya Allah SWT Berfirman:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

“Allah Berfirman: Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya tidak baik”. (QS. Hud: 46)

Padahal anak itu adalah anak kandung Nabi Nuh as, Nabi Nuh sendiri yang mengakui itu. Ketika beliau berkata demikian kepada Allah. Namun Allah menjawab bahwa bukanlah ia termasuk dalam golongan Nabi Nuh, karena ia memiliki amalan yang buruk, tidak mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Nuh as. Meskipun ia (Kan’an) berasal dari darah dagingnya sendiri, anak kandungnya.

Makanya jika dalam masalah agama, bukanlah masalah hubungan darah semata. Akan tetapi masalah ikut atau tidak.

Sebagaimana pada contoh lainnya, yaitu salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Salman al-Farisi. Beliau bukanlah dari keluarga Nabi Muhammad SAW, tidak ada hubungan nasab, bahkan tidak berasal dari Mekkah. Tetapi Nabi SAW pernah berkata tentang sosoknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Salman Farisi adalah keluargaku”. Ini dikarenakan Salman al-Farisi mengikuti ajaran-ajaran Nabi SAW (Mutaba’ah). Oleh karena ini, dalam agama bukan masalah hubungan darah, tetapi masalah mutaba’ah.

Jadi silahkan saja bila kita ingin membuat kenduri maulid, tetapi inti yang dimaksud dari perayaan maulid Nabi itu adalah sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Bukan hanya sebatas mengundang orang untuk datang dan makan bersama, lantas ajaran-ajaran Nabi SAW yang kita rayakan hari kelahirannya itu tidak kita ikuti/amalkan.

Yang perlu kita tekankan disini adalah tazkiyah (penyucian jiwa) yang ada pada surat Ali Imran ayat 164 pada awal pembahasan tadi. Ini sudah sangat kurang pembahasannya dikalangan pemuda-pemudi Islam saat ini. Apalagi dalam hal pengamalannya, sungguh jauh panggang dari api.

Kita dituntut untuk berakhlak mulia, menghilangkan ananiyah/ keakuan, dan untuk bersuhbah (berhubungan baik) dengan Allah dan semua makhluk-Nya. Dan ini semua tidak dapat kita lakukan melainkan dengan bimbingan seorang Mursyid (guru rohani). Begitulah penjelasan dari seluruh ahli sufi terdahulu yang bisa kita baca dalam berbagai kitab-kitab tashawwuf/kesufian.

Bukan hanya dengan membaca-baca saja kitab tasawuf, kemudian kita menjadi sufi, tidaklah demikian. Kesufian (tazkiyah) ini butuh kepada riyadhah lahir dan batin dibawah bimbingan seorang Mursyid yang Kamil.

Demikianlah, semoga kita dapat memetik pelajaran berharga dari tulisan ini untuk kemudian menjadi bahan renungan kedepannya, bagaiman caranya agar perayaan maulid Nabi SAW tidaklah hanya sekedar makan-makan, mengetahui nasab Nabi SAW, tempat tanggal lahir, tempat wafatnya dan kisah hidupnya.

Akan tetapi kita juga harus tahu dan mengamalkan Syariat dan Thariqatnya/hadap hatinya dan akhlak prilakunya.

Allah SWT Berfirman:

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“…Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf: 157)

Bahkan lebih dari itu, dalam ayat diatas barusan kita juga dituntut untuk mencintai, memperjuangkan dan membela ajaran-ajarannya, tentunya dengan segala kemampuan yang kita miliki walaupun nyawa sebagai taruhannya.

Jika tidak demikian, maka sungguh perayaan maulid tersebut hanya sebatas perayaan, sedikit sekali manfaatnya atau bahkan na’uzubillah!, tidak bermanfaat sama sekali. Wallahua’lambisshawab!

[Disarikan dari ceramah khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tanggal 1 November 2019, yang disampaikan oleh Abu. H Syukri Daud Pango, Pimpinan Dayah (Ponpes) Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah]

Oleh Teungku Muhammad Haekal, S.Pd.I Pengajar at Pesantren Tradisional Dayah Raudhatul. Artikel ini juga tayang di Pecihitam.org

Read More

Sunday, October 27, 2019

Sebenarnya Paha Laki-Laki Termasuk Aurat Tidak? Ini Jawaban dan Penjelasannya

October 27, 2019 0
Image result for paha laki-laki

Tarbiyah.online - Fiqih, Menutup aurat di depan khalayak ramai hukumnya wajib, karena beberapa dalil yaitu :

Firman Allah SWT dalam surah al-A’raf 28 :


وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا 

Hadits Ibnu Abbas :

(كانوا يطوفون البيت عراة فهي فاحشة)

Hadits Sy. Ali bin Abi Thalib :

(لا تبرز فخذك ولا تنظر الى فخذ حى ولا ميت)

Menurut pendapat kuat, menutup aurat ketika sendiri hukumnya wajib, karena hadits Sy. Ali diatas. Pendapat lain menyatakan tidak wajib karena alasan bahwa kewajiban menutup aurat supaya terhindar dari pandangan manusia. Dalam kondisi sendirian maka aurat tidak wajib ditutupi ketika tidak ada yang melihat.

Menutup aurat  didalam shalat hukumnya juga wajib karena hadits

لا يقبل الله الصلاة حائض الا بخمار

“Allah tidak akan menerima shalat orang yang baligh kecuali dengan adanya penutup”

Hadits ini diriwayat oleh Abu Daud dan Tirmidzi. Menurut beliau status hadits ini adalah hasan sahih. Imam al-Hakim juga meriwayat hadits ini dalam al-Mustadrak dan beliau berkata hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim.

Maksud حائض disini adalah orang yang telah baligh. Interpretasi ini karena alasan bahwa seseorang biasanya memasuki masa baligh ketika sampai batasan usia haidh.
Menutup aurat merupakan salah satu syarat shalat, bila aurat terbuka walaupun sedikit maka shalat menjadi batal. Baik shalat dikerjakan ditempat sunyi maupun dihadapan orang banyak. Bila seseorang telah selesai shalat, lalu menyadari bahwa ada bagian aurat yang terbuka, maka wajib mengulang kembali shalat yang telah dikerjakan berdasarkan pendapat mazhab. Namun, bila ada probabilitas bahwa auratnya terbuka ketika selesai shalat maka tidak wajib lagi di replay dengan tanpa khilaf.

Batasan aurat dalam shalat

Batasan aurat laki-laki terdapat 5 pendapat :

1. Shahih manshus : aurat laki-laki adalah bagian tubuh yang terletak antara pusat dan lutut. Syeikh Abu Hamid berkata, Imam Syafi’i menyebutkan bahwa aurat laki-laki yang merdeka dan budak adalah antara pusat dan lutut. Sedangkan bagian pusar dan lutut sendiri bukanlah merupakan aurat seperti keterangan dalam al-Um dan al-Imla’.
2. قيل : keduanya adalah aurat
3. قيل : pusat adalah aurat, sedangkan lutut bukan aurat
4. قيل : sebalik pendapat ketiga
5. قيل : yang menjadi aurat hanya qubul dan dubur seperti  di-hikayah oleh Imam Rafi’i dari Abi Sa’id al-Ishthikhary. Ini adalah pendapat syadz lagi mungkar.

Batasan aurat perempuan dalam shalat adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan.

Menjawab Kesalahpahaman Interpretasi Hadits Aisyah Ra

Dalam hadits Aisyah disebutkan :

حَدَّثَنَا يَحْيَي بْنُ يَحْيَي، وَيَحْيَي بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالَ يَحْيَي بْنُ يَحْيَي: أَخْبَرَنَا، وقَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي حَرْمَلَةَ، عَنْ عَطَاءٍ، وَسُلَيْمَانَ ابني يسار، وأبي سلمة بن عبد الرحمن، أن عائشة، قَالَتْ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ، فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ، فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ، قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ، قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ، فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ... أخرجه مسلم فى باب فضائل عثمان

Sebagian kalangan, seperti Malikiyyah dan lainnya, berpendapat bahwa paha tidak termasuk bagian aurat karena dasar ini hadits. Imam Nawawi berkata : Hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah batasan aurat, karena didalamnya masih ada keraguan disisi perawi bagian tubuh mana yang terbuka, apakah paha atau betis.

Referensi : Al-Majmu’ Syarah Muhazzab Juz 4 Halaman 186-193 Dar Kutub al-Ilmiyyah
Shahih Muslim Juz 8 Halaman 181 Dar al-Hadits al-Qahirah

Read More

Tuesday, October 22, 2019

Begini Tata Cara Tayamum Yang Benar Sesuai Syarat dan Ketentuannya

October 22, 2019 0
Image result for tayamum

Tarbiyah.online -  Fiqih, Salah satu syarat sahnya shalat adalah berwudhu. Sementara wudhu hanya bisa dilakukan dengan air. Pertanyaannya, bagaimana mau berwudhu sulit untuk menggunakan air, baik karena tidak ada atau karena sakit, maupun sebab yang lain?

Dalam kondisi yang tidak dapat menggunakan air seperti pertanyaan diatas, Islam telah memberikan kemudahan kepada untuk untuk bertayamum.

Tayamum ialah mengusap muka dan kedua belah tangan dengan debu yang suci. Dan pada suatu ketika tayamum dapat menggantikan wudhu dan mandi dengan syarat-syarat tertentu.

Hukum bertayamum tersebut berdasarkan firman Allah surat An-Nisa ayat 43 yang artinya sebagaimana berikut:

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu,” (Q.S. an-Nisa’ [4]: 43).

Dari keterangan ayat diatas, setidaknya terdapat beberapa sebab dibolehkannya tayamum, yaitu saat kondisi sakit dan ketiadaan air, dalam keadaan bepergian, sepulang dari buang air, atau junub.

Selain itu tayamum tidak saja bisa untuk menggantikan wudhu, tetapi juga mandi besar, berdasarkan penafsiran sebagian ulama yang memaknai ungkapan “lamastumunnis” maksudnya berhubungan suami-istri, seperti yang ditunjukkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Ubay ibn Ka‘b, ‘Amar ibn Yasir, dan yang lain.

Sebab-sebab bertayamum

Para ulama fiqih menjelaskan sebab-sebab bertayamum. Syekh Mushthafa al-Khin dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzahib al-Imam al-Syafi‘i (Terbitan Darul Qalam, Cetakan IV, 1992, Jilid 1, hal. 94) menyebutkan di antaranya ada empat alasan yang dibolehkan:

Ketiadaan air, Baik ketiadaan air secara kasat mata misalnya dalam keadaan bepergian dan benar-benar tidak ada air, dan ketiadaan air secara syara‘ misalnya air yang ada hanya mencukupi untuk kebutuhan minum.
Jauhnya air, yang keberadaannya diperkirakan di atas jarak setengah farsakh atau 2,5 kilometer.

Sulitnya menggunakan air, baik itu sulit secara kasat mata contohnya airnya dekat, tetapi tidak bisa dijangkau karena ada musuh, karena binatang buas, karena dipenjara, dan seterusnya. Adapun sulit menggunakan air secara syara‘ contohnya karena khawatir datangnya penyakit, takut penyakitnya kambuh, atau takut jika sakitnya lama sembuh.

Hal ini berdasarkan riwayat seorang sahabat yang meninggal setelah mandi, sedangkan kepalanya terluka. Kala itu, Rasulullah SAW. bersabda,
“Padahal, cukuplah dia bertayamum, membalut lukanya dengan kain, lalu mengusap kain tersebut dan membasuh bagian tubuh lainnya.” (H.R. Abu Dawud)

Kondisi sangat dingin. Artinya, jika menggunakan air, kita akan kedinginan karena tidak ada sesuatu yang dapat mengembalikan kehangatan tubuh. Akan tetapi, dengan sebab terakhir ini jika sudah ada air, seseorang harus mengqadha shalatnya lagi.

Al-Ghazali dalam salah satu kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan secara ringkas dan jelas, sebab-sebab bertayamum sebagaimana berikut:
“Siapa saja yang kesulitan menggunakan air, baik karena ketiadaannya setelah berusaha mencari, maupun karena ada yang menghalangi, seperti takut hewan buas, sulit karena dipenjara, air yang ada hanya cukup untuk minim dirinya atau minum kawannya, air yang ada milik orang lain dan tidak dijual kecuali dengan harga yang lebih mahal dari harga sepadan (normal), atau karena luka, karena penyakit yang menyebabkan rusaknya anggota tubuh atau justru menambah rasa sakit akibat terkena air, maka hendaknya ia bersabar sampai masuk waktu fardhu.” (Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulumiddin, Terbitan Darut Taqwa lit-Turats, Jilid 1, Tahun 2000, hal. 222)

Syarat-syarat Tayamum
Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan pada saat bertayamum.

Tayamum harus dilakukan setelah masuk waktu shalat.
Menggunakan debu yang suci. Artinya, tidak basah, tidak bercampur tepung, kapur, batu, dan kotoran lainnya.
Terlebih dahulu menghilangkan najis, karena tayamum hanya pengganti wudhu bukan berfungsi untuk menghilangkan najis.
Mengusap wajah dengan kedua tangan.
Tayamum hanya bisa dipergunakan untuk satu kali shalat fardhu. Jika shalat sunnah boleh beberapa kali.

Rukun Tayamum
Jika wudhu ada enam rukun yang harus dipenuhi, maka tayamum hanya ada empat rukun yaitu:
Niat dalam hati.
Mengusap wajah.
Mengusap kedua tangan,
Tertib.

Tata cara tayamum
Ucapkan basmalah lalu letakkan kedua telapak tangan pada debu dengan posisi jari-jari tangan dirapatkan.
Lalu usapkan kedua telapak tangan pada seluruh wajah disertai dengan niat dalam hati, salah satunya dengan redaksi niat berikut:

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ للهِ تَعَالَى
Artinya: Aku berniat tayamum agar diperbolehkan shalat karena Allah.

Lain dengan wudhu, dalam tayamum tidak disyaratkan untuk menyampaikan debu pada bagian-bagian yang ada di bawah rambut atau bulu wajah. Yang dianjurkan hanyalah berusaha mengusap ratakan debu pada seluruh bagian wajah. Dan itu cukup dengan satu kali menyentuh debu.

Letakkan kembali telapak tangan pada debu, kemudian mengusap dua belah tangan hingga siku dengan sekali usapan dimulai dari tangan kanan.

Tertib (berurutan). Yaitu urut di antara kedua usapan tersebut (wajah dahulu kemudian kedua tagan).

Terakhir, setelah tayamum juga dianjurkan untuk membaca doa bersuci seperti halnya doa setelah wudhu.

Keterangan: Yang dimaksud mengusap bukan sebagaimana menggunakan air dalam berwudhu, tetapi cukup menyapukan debu saja dan bukan mengoles-oles sehingga rata seperti menggunakan air. Demikian semoga bermanfaat. Wallahua’lam Bisshawab.

Oleh: Arif Rahman Hakim, Telah tayang juga di Pecihitam.org
Read More

Friday, October 18, 2019

5 Kesalahan Yang Paling Sering Terjadi Dalam Wudhu

October 18, 2019 0

Tarbiyah.online - Fiqih, Setiap umat muslim yang akan menunaikan ibadah shalat, sudah wajib tentunya berwudhu terlebih dahulu sebagai sarana penyucian diri.

Wudhu adalah cara bersuci bagi umat muslim selain mandi dan tayamum. Oleh sebab itu, ilmu tentang wudhu sudah diketahui kebanyakan muslim mengenai rukun dan sunnahnya.

Akan tetapi, ternyata ada banyak kalangan yang terkadang masih luput dalam wudhunya. Banyak yang tanpa sadar melupakan hal-hal kecil yang terlihat remeh namun sebetulnya mempengaruhi keabsahan wudhu itu.

Dalam sebagian hal, ada juga yang melakukan kemakruhan wudhu dengan melakukan hal yang dilarang. Misalnya terlalu banyak menggunakan air sampai mubazir dan lain sebagainya.

Berikut ini merupakan 5 kesalahan dalam berwudhu yang jarang diketahui oleh orang.

1. Mengucap Basmalah di dalam Kamar Kecil
Setiap hal baik disunnahkan membaca basmalah sebelum melakukannya. Itulah mengapa, disunnahkan menbaca basmalah juga sebelum berwudhu.

Nah yang menjadi problem adalah, kerap kali orang yang melakukan wudhu di kamar kecil atau kamar mandi yang menyebabkan basmalah tidak sunnahkan diucapkan. Biasanya ini terjadi bagi mereka yang tidak menemukan tempat khusus untuk wudhu.

Bagi yang sudah terbiasa melafalkan basmalah, bacaan ini seakan sudah lekat dibibir. Namun mungkin juga kadang luput sehingga masih atau tidak sengaja melakukannya di dalam kamar kecil atau kamar mandi. Padahal hal ini tidak diperbolehkan, karena di dalam basmalah terkandung nama Allah.

Hal ini juga terkait dengan adab di dalam kamar mandi, yakni tidak diperbolehkan bicara dan bersuara. Maka dari itu, basmalah cukup hanya dibatin dalam hati dan tidak perlu diucapkan dengan lisan. (Hasyiyah asy-Syibramalsi Nihayatul Muhtaj, juz I, hal 55).

2. Kaki Tidak Terangkat Saat Dibasuh
Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Sempurnakanlah wudhu.” (HR. Muslim)

Rukun wudhu yang kelima ialah membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Basuhan air harus merata sampai ke sela-sela jari dan telapak kaki.

Kasus terjadi ketika seorang berwudhu menggunakan bak atau wadah yang bukan pancuran. Ketika membasuh kaki, orang tersebut tidak mengangkat kakinya yang masih menempel di lantai.

Akibatnya, bagian bawah telapak kaki tidak terbasuh, padahal ini wajib. Ia merasa kakinya sudah basah dan mengira bahwa basuhan sudah merata. Padahal basah tersebut adalah karena lantainya yang sudah basah, bukan hasil dari basuhan. (al-Hawi fi Fiqhis Syafi’I, juz I, hal 363)

3. Hitungan Satu Kali dalam Berwudhu
Rasulullah SAW berwudhu tiga-tiga, lalu bersabda, “Beginilah wudhu. Barangsiapa yang menambah atau mengurangi, maka ia telah mencacat wudhunya dan dzalim.” (HR. Abu Dawud).

Di dalam wudhu disunnah juga tatslits (melakukan tiga kali) dalam mengusap dan membasuh. Sebagaimana yang diterangkan hadis di atas, menambah dan mengurangi hitungan maka hukumnya makruh.

Jika seseorang membasuh tangan tiga kali, air baru merata, maka itu belum disebut tastslits. Akan tetapi, hitungan satu kali basuhan ialah ketika air sudah merata di seluruh permukaan tangan. Baru kemudian basuhan kedua juga merata, dan basuhan ketiga. (Asnal Mathalib, juz I, hal 206)

4. Kuku yang Kotor ketika Berwudhu
Memanjangkan kuku merupakan hal yang tidak disunnahkan. Memotong kuku justru menjadi ajaran Nabi terlebih ketika Hari Jumat. Namun banyak saja oranng yang masih memanjangkan kukunya entah dengan dengan alasan apa.

Memang ada yang merawat dan membersihkan kuku secara rutin, ada juga yang membiarkan kotoran hitam bersarang di bawahnya. Lalu, apakah wajib membersihkan kuku sebelum berwudhu?

Hal wajib yang musti dilakukan dalam wudhu ialah meratakan air ke seluruh permukaan kulit yang wajib dibasuh. Dan orang yang berwudhu juga wajib menghilangkan segala sesuatu yang menghalangi masuknya air kedalam kulit, seperti lem, lilin, cat dan lain sebagainya.

Begitu pula dalam masalah kotoran kuku, harus dibersihkan jika itu menghalangi masuknya air ke bawah kuku. Apalagi jika kotoran tersebut termasuk benda yang najis, maka sudah barang tentu wajib dihilangkan. (Mughnil Muhtaj, juz I, hal 240)

5. Tidak Mencelupkan Kaki
Ini adalah fenomena yang terjadi pada banyak orang, terutama yang tidak menyadari keberadaan najis di telapak kakinya. Dan ternyata masjid yang sering menjadi korban ketidaktahuan mereka, apalagi masjid yang tempat wudhunya berdampingan dengan tempat buang air kecil.

Seringkali orang yang hendak masuk ke dalam masjid tidak mencelupkan kakinya terlebih dahulu ke dalam bak atau kolam yang telah disediakan. Ini penting, karena bak tersebut nantinya bisa menghilangkan keraguan suci tidaknya kaki.

Selain itu ada juga, orang yang sengaja melompati dan melewatkan bak kolam tersebut tersebut. Hal ini berakibat kemungkinan najis yang dibawanya pada kaki, walaupun tidak disadarinya, tersebar ke mana-mana.

Oleh sebab itu, sebaiknya setiap ada kolam cuci kaki (kobokan) hendaknya mutawadhi’ (orang yang wudhu) terlebih dahulu mencelupkan kaki di situ, sebagai kehati-hatian wudhunya. Demikian semoga bermanfaat. Wallahua’lam Bisshawab.

Oleh: Arif Rahman Hakim, Telah tayang juga di Pecihitam.org
Read More