TARBIYAH ONLINE: Biografi Ulama Tafsir

Terbaru

Showing posts with label Biografi Ulama Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Biografi Ulama Tafsir. Show all posts

Monday, January 6, 2020

Kenal Ulama: Imam Ibnu Katsir, Ulama yang Memiliki Ilmu Komplit

January 06, 2020 0

Tokoh Ulama | Siapa yang tidak pernah mendengar nama Ibnu Katsir, seorang ulama kenamaan dalam bidang tafsir.

Nama, Kelahiran, dan Kunyahnya

Ibnu Katsir bernama lengkap Ismail bin Umar bin Katsir bin Dhau’i bin Katsir bin Dhau’i bin Dar’i bin al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Bushrawi ad-Dimasyqi. Ia digelari dengan ‘Imaduddin (penopang agama). Nama kunyahnya adalah Abul Fida’. Ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir, nisbat kepada sang kakek. Dalam fikih, Ibnu Katsir berpegang dengan madzhab Syafi’i. Namun begitu, ia tidak fanatik dengan madzhabnya tersebut.

Ibnu Katsir dilahirkan di Damaskus, Syam. Tepatnya di daerah Majdal yang terletak sebelah timur Bushra pada tahun 701 H (1301 M). Ayahnya dikenal sebagai khatib di Majdal. Dalam usia 2 tahun Ibnu Katsir telah menjadi yatim. Ayahnya meninggal pada tahun 703 H. Sepeninggal sang ayah tercinta, Ibnu Katsir diasuh oleh kakak kandungnya, Kamaluddin ‘Abdul Wahab. Tahun 707 H, dengan didampingi sang kakak, ia pindah ke Damaskus. Ketika itu ia berusia 6 tahun.

Belajar dan Menuntu Ilmu Sejak Dini

Beliau mulai menuntut ilmu kepada saudara kandung beliau Abdul Wahhab bin Umar bin Katsir sejak usia dini. Pada tahun 711 H beliau telah hafal al-Qur'an da-lam usia 10 tahun. Sesudah itu beliau banyak mengha-fal matan-matan, berbagai bidang ilmu agama dan ba-hasa Arab.

Beliau memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu hadits terutama dalam mencari riwayat, menelaah, il-al dan rijal.
Demikian juga, beliau memiliki perhatian yang  besar terhadap ilmu fiqih, tafsir dan qira'ah.

Beliau selalu gigih dalam menuntut ilmu sehingga me-njadi masyhur nama beliau hingga keluar negeri Syam. Banyak ulama yang memberi ijazah-ijazah sanad kepada beliau dari Baghdad, Kairo, dan kota-kota lain-nya. Demikian juga banyak para ulama dan penuntut ilmu dari seluruh penjuru negeri datang kepada beli-au untuk mereguk ilmu darinya.

Beliau terus tekun menulis karya-karya ilmiah dalam fiqih dan ushulnya, hadits dan ushulnya, tafsi, dan ta-rikh hingga beliau kehilangan pengelihatannya, keti-ka beliau sedang menulis kitab Jami'ul Masanid wa Su-nan yang belum sempat beliau selesaikan karena data-ng ajal beliau pada tahun 774 H.

Guru-gurunya

1.Syaikh Burhanuddin Ibrahim bin Abdirrahman al-Fazari yang terkenal dengan nama Ibnul Farkah (wafat 729 H).
2.Di Damsyik Syria, beliau belajar dengan Isa bin al-Muth’im,
3.Ahmad bin Abi Thalib, terkenal dengan nama Ibnu Syahnah (walat 730H),
3.Ibnul Hajjar yang (wafat 730 H),
4.Baha-uddin al-Qasim bin Muzhaffar Ibnu Asakir, ahli hadis negeri Syam yang wafat pada tahun 723 H,
5.Ibnu asy-Syirazi,
6.Ishaq bin Yahya al-Amidi Afifuddin –ulama Zhahiriyah (wafat 725 H),
7.Muhammad lbnu Zar rad, menyertai Syaikh Jamaluddin Yusuf bin az-Zaki al’Mizzi (wafat 742H), beliau mendapat banyak faedah dan menimba ilmu darinya dan akhirnya beliau menikahi puterinya.
8.Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ahmad bin Abdil Halim bin Abdis Salam bin Taimiyyah (wafat 728 H),
9.Sebagaimana beliau menimba ilmu dari Syaikh al-Hafizh, seorang ahli tarikh (sejarah), Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman bin Qayimaz adz-Dzahabi (wafat pada tahun 748 H).
10.Dan ulama Mesir yang memberi beliau ijazah adalah Abu Musa al-Qarafi,
11.Abul Fath ad-Dabbusi,
12.Ali bin Umar as-Sawani dan lain-lain.

Pujian Para Ulama Mengenai Ibnu Katsir

1. Al-Hafizh al-Kabir Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman bin Yusuf al-Mizzi.
Ibnu Katsir memfokuskan diri untuk mempelajari ilmu hadits kepada al-Mizzi. Al-Mizzi adalah guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan Ibnu Katsir. Disamping sebagai guru, al-Mizzi juga sebagai mertua Ibnu Katsir, karena beliau mempersunting putri al-Mizzi yang bernama Ammatu Rahim Zainab.

2. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim bin Abil Qasim bin Taimiyah al-Harrani.
Ibnu Katsir juga menimba ilmu sekian lamanya dengan mempelajari banyak ilmu kepada Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah pun banyak memberikan pengaruh dalam kehidupan Ibnu Katsir. Ibnu Katsir menyebutkan tentang biografi Ibnu Taimiyah dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah, “Antara aku dan beliau terjalin kecintaan dan persahabatan dari kecil.”

Saking dekatnya persahabatan dengan Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir pun ikut mendapatkan cobaan sebagaimana yang dialami oleh Ibnu Taimiyah. Dari sini ada sebuah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa perbedaan madzhab bukanlah sebagai alasan untuk bersikap fanatik. Sebab, sikap fanatik akan menghalangi seseorang dalam belajar atau mengajarkan ilmu satu sama lain. Ibnu Katsir adalah seorang tokoh ulama syafi’iyyah (madzhab syafi’i) dan Ibnu Taimiyah adalah tokoh ulama hanabilah (madzhab hanbali).

3. Al-Hafizh al-Kabir Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Utsman adz-Dzahabi.
Beliau adalah salah seorang tokoh ulama yang sangat mumpuni dalam ilmu sejarah dan ilmu hadits. Ibnu Katsir menyebutkan tentang biografi adz-Dzahabi dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah, “Beliau adalah tokoh penutup para ulama ahli hadits dan para penghafal hadits.”

Murid-murid Beliau

Di antara Murid-murid beliau adalah:
al-Imam Syihab-uddin Abul Abbas Ahmad bin Alauddin Hajji ad-Dima-syqi, al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi, al-Hafizh Waliyyud-din Abu Zur'ah bin al-Hafidz al-Iraqi, al-Hafizh Syams-uddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad al-Jaza-ri asy-Syafi'i, dan masih banyak lagi selain mereka.

Karya- Karyanya

Berikut ini adalah bagian karya- karya Ibnu Katsir yaitu:
1.   Tafsir al-Qur'anul Azhim
2.   Bidayah wa Nihayah
3.   Fushul fi Ikhtshari Sirati Rasul
4.   Maulidur Rasul صلى الله عليه وسلَّم
5.   Ikhtishar Ulumul Hadits
6.   at-Takmil fi Ma'rifati Tsiqat wa Dhu'afa' wal Majahil
7.   Jami'ul Masanid wa Sunan al-Hadi li Aqwami Sunan
8.   Ittihaful Mathalib bi Ma'rifati Ahadits Mukhtashar Ibnul Hajib
9.   Irsyadul Faqih ila Ma'rifati Adillati Tanbih
10. al-Ijtihad fi Thalabil Jihad
11. Syarh Shahih Bukhari
12. Kitabul Ahkam
13. Syarh Qith'atu Tanbih lil Imam Abi Ishaq asy-Syair- azi
14. Musnad Syaikhain Abu Bakr wa Umar
15. Musnad Umar bima Ruwiya anhu minal Hadits wal Aatsar
16. Kitabul Muqaddimat
17. Mukhtashar Kitab al Madkhal lil Baihaqi
18. Thabaqah Syafi'iyyah wa Manaqib asy-Syafi'i

Akhir Hayatnya

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Beliau hilang penglihatan di akhir hayatnya dan wafat di Damaskus, Syam pada tahun 77 4 H/ 1373 M. Semoga Allah mencurahkan rahmat seluas-luasnya kepada beliau dan menempatkan beliau di Surga-Nya yang luas.

Dari Berbagai Sumber

Artikel ini telah tayang di Laduni.id
Read More

Monday, October 21, 2019

Kenal Ulama: Biografi Syaikh Muhammad Ibnu Jarir at Thabari

October 21, 2019 0
Image result for Syaikh Muhammad Ibnu Jarir at Thabari

TarbiyahOnline - Tokoh, Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir At-Thabari atau lebih dikenal dengan Ibnu Jarir at Thabari. Adz Dzahabi mengatakan bahwa beliau adalah seorang imam, mujtahid, ulama di masanya, dan sang pemilik karya tulis yang sangat indah.

Beliau dilahirkan pada tahun 224 H (839 M) di Thabaristan tepatnya di Kota Amul. Kota ini merupakan kota terbesar di Thabaristan dan merupakan salah satu propinsi di Persia yang terletak di sebelah utara Gunung Alburz.

Adapun At Thabari diambil dari nama tempat beliau dilahirkan yaitu di Thabaristan. Beliau dari penduduk Aamuly, bagian dari daerah Thobristan, karena itulah sesekali ia disebut sebagai Amuli selain dengan sebutan yang masyhur dengan at-Thabari.

Uniknya Imam Thabari dikenal dengan sebutan kuniyah Abu Jakfar, padahal para ahli sejarah telah mencatat bahwa sampai masa akhir hidupnya Imam Thabari tidak pernah menikah. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 224 H awal tahun 225.

Para sejarawan yang menulis biografi Ibnu Jarir al-Thabari tidak banyak menjelaskan kondisi keluarga ulama besar ini. Hanya saja, dari sumber yang sangat terbatas tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga al-Thabari tergolong sederhana, kalau tidak dikatakan miskin, namun ayahnya sangat mementingkan pendidikan putranya tersebut.

Jika melihat faktor lingkungan ketika masa hidup Imam Thabari, maka di masa tersebut adalah masa dimana tradisi keilmuan Islam mengakar kuat terbukti dengan munculnya sejumlah ulama besar dari daerah Amul, seperti Ahmad bin Harun al-Amuli, Abu Ishaq bin Basyar al-Amuli, Abdullah bin Hamad al-Amuli dan ulama besar lainnya.

Selain faktor lingkungan, faktor keluarga juga sangat berperan penting dalam menumbuhkan semangat mencari ilmu pada diri Imam Thabari. Beliau pernah bercerita dihadapan murid-muridnya tentang dukungan ayahnya, Jabir bin Yazid kepadanya dalam menuntut ilmu dan pengalamannya di masa kanak-kanak.

Ibnu Jarir at Thabari berkata: “Aku sudah hafal Al Qur’an ketika aku berumur 7 tahun, dan sholat bersama manusia (jadi imam) ketika berumur 8 tahun, dan mulai menulis hadist ketika berumur 9 tahun, dan ayahku bermimpi, bahwa aku berada di depan Rasulullah dengan membawa tempat yang penuh dengan batu, lalu aku lemparkan didepan Rasulullah. Lalu penta’bir mimpi berkata kepada ayahku: “Sekiranya nanti beranjak dewasa dia akan berguna bagi Diennya dan menyuburkan syari’atnya, dari sinilah ayahku bersemangat dalam mendidikku”.


Semasa hidupnya, ia belajar di kota Ray, Baghdad, kemudian Syam dan juga di Mesir. Beliau banyak bersafar dan berguru dengan ahli sejarah, beliau juga salah seorang yang memiliki banyak disiplin, cerdas, banyak karangannya dan dan belum ada yang menyamainya.

Guru dan Muridnya

Para guru Ibnu Jarir Ath-Thabari sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabi yaitu:
Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Asy-Syawarib.
Ismail bin Musa As-Sanadi, Ishaq bin Abi Israel.
Muhammad bin Abi Ma’syar.
Muhammad bin Hamid Ar-Razi, Ahmad bin Mani’.
Abu Kuraib Muhammad bin Abd Al-A’la Ash-Shan’ani.
Muhammad bin Al-Mutsanna, Sufyan bin Waqi’.
Fadhl bin Ash-Shabbah, Abdah bin Abdullah Ash-Shaffar, dll.

Sedangkan muridnya yaitu:
Abu Syuaib bin Al-Hasan Al-Harrani.
Abul Qasim Ath-Thabarani.
Ahmad bin Kamil Al-Qadhi.
Abu Bakar Asy-Syafi’I.
Abu Ahmad Ibnu Adi.
Mukhallad bin Ja’far Al-Baqrahi.
Abu Muhammad Ibnu Zaid Al-Qadhi.
Ahmad bin Al-Qasim Al-Khasysyab.
Abu Amr Muhammad bin Ahmad bin Hamdan.
Abu Ja’far bin Ahmad bin Ali Al-Katib.
Abdul Ghaffar bin Ubaidillah Al-Hudhaibi.
Abu Al-Mufadhadhal Muhammad bin Abdillah Asy-Syaibani.
Mu’alla bin Said, dll.

Ahli Sejarah

Ibnu Jarir At-Thabari dikenal juga sebagai sejawan muslim yang sangat populer, kalau dibandingakna dengan ahli hadits sama terkenalnya dengan Bukhari dan Muslim. Dalam menulis sejarah Al-Thabari mempunyai metode-motode yang sangat unik. Inilah yang membedakan dia dengan sejarawan-sejarawan yang lain baik sejarawan sebelumnya maupun sesudahnya.

Hal-hal yang berkenaan dengan metode penulisan sejarah Al-Thabari adalah:

Berdasarkan kepada Riwayat
Dalam hal ini dia berpendapat bahwa sejarawan tidak otentik apabila hanya bersandar kepada logika dan kias. Di dalam muqodimah kitab sejarahnya ia berkata : “ Hendaknya para pembaca mengetahui bahwa semua informasi yang disajikan di dalam kitab ini adalah informasi yang aku peroleh/terima/dengar dari perawinya langsung, dan aku tidak menyandarkannya kepada alasan-alasan logika, kecuali sangat sedikit.”

Karena disandarkan hanya kepada perawinya, maka di dalam kitabnya banyak ditemukan informasi yang berbeda-beda tentang peristiwa yang sama. Dalam hal ini, al-Thabari sendiri membiarkan para pembaca untuk menyeleksi, menilai, dan memilih informasi-informasi yang disajikan itu.

Sangat Memperhatikan Sanad
Informasi yang disajikan dalam kitabnya disertai peyebutan perawi dan sanadnya sehingga sampai kepada tangan pertama. Sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli hadits dalam meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Saw.

Akan tetapi, dibagian akhir bukunya, terlihat bahwa dia tidak begitu ketat kepada sanad ini, seperti tidak lagi menyebut nama sumber pengambilan informasi. Ahmad Muhammad Hufi berpendapat bahwa sebab tidak ketatnya al-Thabari dalam menyebutkan perawi dan sanad dalam informasi-informasi yang tertuang dalam bukunya pada bagian akhir itu adalah karena informasi-informasi yang disajikan itu dapat menimbulkan kemurkaan penguasa.Oleh karena itu, al-Thabari berupaya mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap sumber informasi tersebut.

Sistematika penulisannya bersifat kronologi berdasarkan tahun (hawliyat, annalistic form).
Pada bagian bukunya yang menyajikan informasi sejarah sebelum Islam, peristiwa-peristiwa itu tidak disusun berdasarkan tahun, karena hal itu di luar kemampuannya. Bagian ini dimulainya dengan penciptaan Adam, kemudian Nabi-nabi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa masing-masing, kemudian raja-raja yang semasa dengan para nabi itu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa mereka, dan kemudian dia menyebut tentang umat-umat yang tumbuh setelah para nabi itu, sampai masa kelahiran islam.

Kemudian pada bagian yang menyajikan peristiwa-peristiwa sejarah setelah kedatangan Islam, sistematika penulisannya dilakukan berdasarkan tahun demi tahun, sejak awal sejarahnya Nabi Muhammad ke Madinah sampai tahun 302 H. pada setiap tahun disajikannya peristiwa-peristiwa yang pantas disajikan.

Informasi yang umum
Informasi-informasi sejarah yang tidak ada hubungannya dengan waktu tertentu, ditulis sendiri secara tematik. Misalnya, setelah membicarakan peristiwa-peristiwa pada masa pemerintahan khalifah tertentu, setelah itu dia membicarakan sifat-sifat, akhlak, dan keistimewaan-keistimewaan khalifah bersangkutan.
Menyajikan juga teks-teks sastra (syair)

At-Thabari banyak juga menuliskan teks-teks, sastra, syair, khitobah, surat-surat, dan perbincangan-perbincangan pada peristiwa-peristiwa sejarah. Hal ini beliau meniru para sejarawan dan satrawan sebelumnya. Kajian sejarah kitab ini berhenti pada tahun 320 H (915 M) dilanjutkan oleh para sejarawan sesudahnya.

Karya-Karya Imam Ath-Thabari

Kitab Adabul Qodho’ ( Al Hukkam)
Kitab Adabul Manasik
Kitab Adab an-Nufuus
Kitab Syarai’al-Islam
Kitab Ikhtilaful Ulama’ atau Ikhtilaful Fuqoha’ atau Ikhtilafu Ulama’il Amshor fie Akhkami Syaroi’il Islam.
Kitab Al Basith, tentang kitab ini beliau Imam Adz Dzahabi berkata: “Pembahasan pertama adalah tentang thoharoh, dan semua kitab itu berjumlah 1500 lembar.
Kitab Tarikhul Umam wal Muluk (Tarikhul Rusul wal Muluk)
Kitab Tarikhul Rijal minas Shahabah wat Tabi’in.
Kitab at-Tabshir.
Kitab Tahdzib Atsar wa Tafsiilust Tsabit ‘Ani Rasulullah Saw Minal Akhbar. Az-Dzahabi ketika mengomentari kitab ini mengatakan bahwa kitab ini termasuk salah satu kitab istimewanya Ibnu jarir, dimulai dengan sanad yang shadiq, lalu bebicara pada Ilal, thuruq dan fiqih hadits, ikhtiklaf ulama serta hujjah mereka, dalam kitab ini juga disebutkan makna-makna asing serta bantahan kepada Mulhiddin, kitab ini menjadi lebih sempurna lagi dengan adanya sanad al-Asyrah, Ahlu al-Bait, al-Mawali dan beberapa sanad dari Ibnu Abbas, dan kitab ini belum selesai pada akhir kematiaannya, lalu ia mengatakan: jika saja kitab ini dkteruskan, niscaya bisa sampai beratus-ratus jilid.
Kitab Al Jaami’ fiel Qira’at
Kitab Haditsul Yaman
Kitab Ar Rad ‘Ala Ibni ‘Abdil Hakim
Kitab az- Zakat
Kitab Al ‘Aqidah
Kitabul fadhail
Kitab Fadhail Ali Ibni Thalib
Kitab Mukhtashar Al Faraidz
Kitab Al Washaya, Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang tidak di sebutkan disini.

Akhir Hayatnya

Ahmad bin Kamil berkata, “Ibnu Jarir Ath-Thabari meninggal pada waktu sore, dua hari sisa bulan Syawal tahun 310 Hijriyah. Beliau dimakamkan di rumahnya, di mihrab Ya’qub, Baghdad.”

Abu Muhammad Al Farghani (salah seorang murid Ibnu Jarir) mengatakan Abu Bakr Ad-Dinawari berkisah bahwa ketika tiba waktu salat dhuhur pada hari meninggalnya beliau yaitu hari senin, Ibnu Jarir meminta air untuk memperbarui wudhunya. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Sebaiknya anda mengakhirkan salat dhuhur dan menjamaknya dengan salat Ashar”.

Namun beliau menolak dan mengerjakan salat dhuhur sendiri pada awal waktunya. Demikian halnya salat Ashar beliau kerjakan pada waktunya dengan tata cara salat yang sempurna dan baik.

Tatkala Ibnu Jarir akan meninggal dunia, ada beberapa orang yang yang berada di samping beliau dan di antaranya adalah Abu Bakr bin Kamil. Saat itu ada yang bertanya kepada beliau sebelum menghembuskan nafas yang terakhir. “Wahai Abu Ja’far, anda adalah hujjah antara kami dan Allah pada urusan agama kami. Apakah ada sesuatu yang hendak anda wasiatkan kepada kami terkait dengan urusan agama kami atau suatu keterangan yang kami mengharapkan keselamatan dengannya?”

Beliau pun menjawab, “Yang aku beribadah kepada Allah dengannya dan aku wasiatkan kepada kaian adalah apa yang aku ikaarkan dalam kitab-kitabku, maka amalkanlah”.

Kemudian setelah itu, beliau pun meninggal. semoga Allah merahmati beliau dan membalas kebaikan-kebaikannya. Wallahua’lam Bisshawab.

Oleh Arif Rahman Hakim, Telah tayang juga di Pecihitam.org
Read More