TARBIYAH ONLINE: Biografi Ulama Hadits

Terbaru

Showing posts with label Biografi Ulama Hadits. Show all posts
Showing posts with label Biografi Ulama Hadits. Show all posts

Friday, January 10, 2020

Kenal Ulama: Al Hafzih Ibnu Hajar Al Asqalani, Ahli Hadits Termasyhur Sepanjang Zaman

January 10, 2020 0

Tokoh Ulama | Pada akhir abad kedelapan hijriah dan pertengahan abad kesembilan hijriah termasuk masa keemasan para ulama dan terbesar bagi perkembangan madrasah, perpustakaan dan halaqah ilmu, walaupun terjadi keguncangan sosial politik. Hal ini karena para penguasa dikala itu memberikan perhatian besar dengan mengembangkan madrasah-madrasah, perpustakaan dan memotivasi ulama serta mendukung mereka dengan harta dan jabatan kedudukan. Semua ini menjadi sebab berlombanya para ulama dalam menyebarkan ilmu dengan pengajaran dan menulis karya ilmiah dalam beragam bidang keilmuan. Pada masa demikian ini muncullah seorang ulama besar yang namanya harum hingga kini Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, tepatnya 12 Sya’ban tahun 773H. Berikut biografi singkat beliau:

Nama dan Nashab

Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Asqalani Al-Mishri. (Lihat Nazhm Al-‘Uqiyaan Fi A’yaan Al-A’yaan, karya As-Suyuthi hal 45)

Gelar dan Kunyah Beliau

Beliau seorang ulama besar madzhab Syafi’i, digelari dengan ketua para qadhi, syaikhul islam, hafizh Al-Muthlaq (seorang hafizh secara mutlak), amirul mukminin dalam bidang hadist dan dijuluki syihabuddin dengan nama pangilan (kunyah-nya) adalah Abu Al-Fadhl. Beliau juga dikenal dengan nama Abul Hasan Ali dan lebih terkenal dengan nama Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi’i. Guru beliau, Burhanuddin Ibrahim Al-Abnasi memberinya nama At-Taufiq dan sang penjaga tahqiq.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan tanggal 12 Sya’ban tahun 773 Hijriah dipinggiran sungai Nil di Mesir kuno. Tempat tersebut dekat dengan Dar An-Nuhas dekat masjid Al-Jadid. (Lihat Adh-Dahu’ Al-Laami’ karya imam As-Sakhaawi 2/36 no. 104 dan Al-badr At-Thaali’ karya Asy-Syaukani 1/87 no. 51).

Sifat beliau

Ibnu Hajar adalah seorang yang mempunyai tinggi badan sedang berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. Dia adalah seorang yang pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya, bercita-cita tinggi, kurus badannya, fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, pintar bersyair dan menjadi pemimpin dimasanya.

Pertumbuhan dan belajarnya

Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim, ayah beliau meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Ayah beliau meninggal pada bulam rajab 777 H. setelah berhaji dan mengunjungi Baitulmaqdis dan tinggal di dua tempat tersebut. Waktu itu Ibnu Hajar ikut bersama ayahnya. Setelah ayahnya meninggal beliau ikut dan diasuh oleh Az-Zaki Al-Kharubi (kakak tertua ibnu Hajar) sampai sang pengasuh meninggal. Hal itu karena sebelum meninggal, sang ayah berwasiat kepada anak tertuanya yaitu saudagar kaya bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad Al-Kharubi (wafat tahun 787 H.) untuk menanggung dan membantu adik-adiknya. Begitu juga sang ayah berwasiat kepada syaikh Syamsuddin Ibnu Al-Qaththan (wafat tahun 813 H.) karena kedekatannya dengan Ibnu Hajar kecil.

Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu yang menjaga iffah (menjaga diri dari dosa), sangat berhati-hati, dan mandiri dibawah kepengasuhan kedua orang tersebut. Zaakiyuddin Abu Bakar Al-Kharubi memberikan perhatian yang luar biasa dalam memelihara dan memperhatikan serta mengajari beliau. Dia selalu membawa Ibnu Hajar ketika mengunjungi dan tinggal di Makkah hingga ia meninggal dunia tahun 787 H.

Pada usia lima tahun Ibnu Hajar masuk Al-Maktab (semacam TPA sekarang) untuk menghafal Alquran, di sana ada seorang guru yang bernama Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy. Akan tetapi, ibnu Hajar belum berhasil menghafal Alquran sampai beliau diajar oleh seorang ahli fakih dan pengajar sejati yaitu Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al Muqri’. Kepada beliau ini lah akhirnya ibnu Hajar dapat mengkhatamkan hafalan Alqurannya ketika berumur sembilan tahun.

Ketika Ibnu Hajar berumur 12 tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Ketika sang pengasuh berhaji pada tahun 784 H. Ibnu Hajar menyertainya sampai tahun 786 H. hingga kembali bersama Al-Kharubi ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir pada tahun 786 H. Ibnu Hajar benAr-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga ia hafal beberapa kitab-kitab induk seperti Al-‘Umdah Al-Ahkaam karya Abdulghani Al-Maqdisi, Al-Alfiyah fi Ulum Al-Hadits karya guru beliau Al-Haafizh Al-Iraqi, Al-Haawi Ash-Shaghi karya Al-Qazwinir, Mukhtashar ibnu Al-Haajib fi Al-Ushul dan Mulhatu Al-I’rob serta yang lainnya.

Pertama kali ia diberikan kesenangan meneliti kitab-kitab sejarah (tarikh) lalu banyak hafal nama-nama perawi dan keadaannya. Kemudian meneliti bidang sastra Arab dari tahun 792 H. dan menjadi pakar dalam syair.

Kemudian diberi kesenangan menuntut hadits dan dimulai sejak tahun 793 H. namun beliau belum konsentrasi penuh dalam ilmu ini kecuali pada tahun 796 H. Diwaktu itulah beliau konsentrasi penuh untuk mencari hadits dan ilmunya.

Saat ketidakpuasan dengan apa yang didapatkan akhirnya Ibnu Hajar bertemu dengan Al-Hafizh Al-Iraqi yaitu seorang syaikh besar yang terkenal sebagai ahli fikih, orang yang paling tahu tentang madzhab Syafi’i. Disamping itu ia seorang yang sempurna dalam penguasaan tafsir, hadist dan bahasa Arab. Ibnu Hajar menyertai sang guru selama sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam dan yang lainnya. Ditangan syaikh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin Al-Iraqi untuk mengajarkan hadits. Sang guru memberikan gelar Ibnu Hajar dengan Al-Hafizh dan sangat dimuliakannya. Adapun setelah sang guru meninggal dia belajar dengan guru kedua yaitu Nuruddin Al-Haitsami, ada juga guru lain beliau yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, ia memberi saran untuk perlu juga mempelajari fikih karena orang akan membutuhkan ilmu itu dan menurut prediksinya ulama didaerah tersebut akan habis sehingga Ibnu Hajar amat diperlukan.

Imam Ibnu Hajar juga melakukan rihlah (perjalanan tholabul ilmi) ke negeri Syam, Hijaz dan Yaman dan ilmunya matang dalam usia muda himgga mayoritas ulama dizaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar.

Beliau mengajar di Markaz Ilmiah yang banyak diantaranya mengajar tafsir di Al-madrasah Al-Husainiyah dan Al-Manshuriyah, mengajar hadits di Madaaris Al-Babrisiyah, Az-Zainiyah dan Asy-Syaikhuniyah dan lainnya. Membuka majlis Tasmi’ Al-hadits di Al-Mahmudiyah serta mengajarkan fikih di Al-Muayyudiyah dan selainnya.

Beliau juga memegang masyikhakh (semacam kepala para Syeikh) di Al-Madrasah Al-Baibrisiyah dan madrasah lainnya (Lihat Ad-Dhau’ Al-Laami’ 2/39).

Para Guru Beliau

Al-Hafizh Ibnu Hajar sangat memperhatikan para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:

Al-Mu’jam Al-Muassis lil Mu’jam Al-Mufahris.
Al-Mu’jam Al-Mufahris.
Imam As-Sakhaawi membagi guru beliau menjadi tiga klasifikasi:

Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun hanya satu hadits
Guru yang memberikan ijazah kepada beliau
Guru yang beliau ambil ilmunya secara mudzkarah atau mendengar darinya khutbah atau karya ilmiahnya.
Guru beliau mencapai lebih dari 640an orang, sedangkan Ibnu Khalil Ad-Dimasyqi dalam kitab Jumaan Ad-Durar membagi para guru beliau dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang.

Dalam kesempatan ini kami hanya menyampaikan beberapa saja dari mereka  yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan beliau agar tidak terlalu panjang biografi beliau ini.

Diantara para guru beliau tersebut adalah:

Bidang keilmuan Al-Qira’aat (ilmu Alquran):

Syeikh Ibrahim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwaan At-Tanukhi Al-Ba’li Ad-Dimasyqi (wafat tahun 800 H.) dikenal dengan Burhanuddin Asy-Syaami. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian Alquran, kitab Asy-Syathibiyah, Shahih Al-Bukhari dan sebagian musnad dan Juz Al-Hadits. Syeikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.

Bidang ilmu Fikih:

Syeikh Abu Hafsh Sirajuddin Umar bin Ruslaan bin Nushair bin Shalih Al-Kinaani Al-‘Asqalani Al-Bulqini  Al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, haafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiah, diantaranya: Mahaasin Al-Ish-thilaah Fi Al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala Ar-Raudhah serta lainnya.

Syeikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah Al-Anshari Al-Andalusi Al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu Al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: Al-I’laam Bi Fawaa`id ‘Umdah Al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) dan Takhrij ahaadits Ar-Raafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan Syarah Shahih Al-Bukhari dalam 20 jilid.

Burhanuddin Abu Muhammad Ibrahim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnaasi  (725-782 ).

Bidang ilmu Ushul Al-Fikih :

Syeikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah Al-Kinaani Al-Hamwi Al-Mishri (Wafat tahun 819 H.) dikenal dengan Ibnu Jama’ah seorang faqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar Mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H. sampai 819 H.

Bidang ilmu Sastra Arab :

Majduddin Abu Thaahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar  Asy-Syairazi Al-Fairuzabadi (729-827 H.). seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazaaq Al-Ghumaari 9720 -802 H.).

Bidang hadits dan ilmunya:

Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrahim Al-Mahraani Al-Iraqi (725-806 H. ).
Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaimanbin Abu Bakar bin Umar bin Shalih Al-Haitsami (735 -807 H.).

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, guru-guru Ibnu Hajar, antara lain:

Al-Iraqi, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
Al-Haitsami, seorang yang paling hafal tentang matan-matan.
Al-Ghimari, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab.
A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
Al-Ghifari, seorang yang hebat hafalannya.
Al-Abnasi, seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
Al-Izzu bin Jamaah, seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
At-Tanukhi, seorang yang terkenal dengan qira’atnya dan ketinggian sanadnya dalam qira’at.

Murid Beliau

Kedudukan dan ilmu beliau yang sangat luas dan dalam tentunya menjadi perhatian para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka berlomba-lomba mengarungi lautan dan daratan untuk dapat mengambil ilmu dari sang ulama ini. Oleh karena itu tercatat lebih dari lima ratus murid beliau sebagaimana disampaikan murid beliau imam As-Sakhawi.

Diantara murid beliau yang terkenal adalah:

Syeikh Ibrahim bin Ali bin Asy-Syeikh bin Burhanuddin bin Zhahiirah Al-Makki Asy-Syafi’i (wafat tahun 891 H.).
Syeikh Ahmad bin Utsmaan bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karmaani Al-hanafi (wafat tahun 835 H.) dikenal dengan Syihabuddin Abul Fathi Al-Kalutaani seorang Muhaddits.
Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan Al-Anshari Al-Khazraji (wafat tahun 875 H.) yang dikenal dengan Al-Hijaazi.
Zakariya bin Muhammad bin Zakariya Al-Anshari wafat tahun 926 H.
Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsmaan As-Sakhaawi Asy-Syafi’i wafat tahun 902 H.
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd Al-Hasyimi Al-‘Alawi Al-Makki  wafat tahun 871 H.
Burhanuddin Al-Baqa’i, penulis kitab Nuzhum Ad-Dhurar fi Tanasub Al-Ayi wa As-Suwar.
Ibnu Al-Haidhari.
At-Tafi bin Fahd Al-Makki.
Al-Kamal bin Al-Hamam Al-Hanafi.
Qasim bin Quthlubugha.
Ibnu Taghri Bardi, penulis kitab Al-Manhal Ash-Shafi.
Ibnu Quzni.
Abul Fadhl bin Asy-Syihnah.
Al-Muhib Al-Bakri.
Ibnu Ash-Shairafi.
Menjadi Qadhi

Wafatnya

Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar jatuh sakit dirumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jamadal Akhir tahun 852 H. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika ia sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.” Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla’. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadhi bolak balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Imam As-Sakhaawi berkata, “Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakit tha’un telah muncul.  Kemudian pada malam sabtu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 852 H. berselang dua jam setelah shalat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.”

Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang nonmuslim pun ikut meratapi kematian beliau. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung. Semua para pembesar dan pejabat kerajaan saat itu datang melayat dan bersama masyarakat yang banyak sekali menshalatkan jenazah beliau. Diperkirakan orang yang menshalatkan beliau lebih dari 50.000 orang dan Amirul Mukminin khalifah Al-Abbasiah mempersilahkan Al-Bulqini untuk menyalati Ibnu Hajar di Ar-Ramilah di luar kota Kairo. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Al-Qarafah Ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani Al-Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam Syafi’i dengan Syaikh Muslim As-Silmi.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Al-Hafizh As-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya, namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”

Al-Iraqi berkata, “Ia adalah syaikh, yang alim, yang sempurna, yang mulia, yang seorang muhhadits (ahli hadist), yang banyak memberikan manfaat, yang agung, seorang Al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin Asy-Syaikh, Al-Imam, Al-Alim, Al-Auhad, Al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh, yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai Al-Muwafaqat dan Al-Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dhaif, yang banyak menemui para ahli hadits,dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek.” Dan masih banyak lagi Ulama yang memuji dia, dengan kepandaian Ibnu Hajar.

Karya Ilmiah Beliau

Al-Haafizh ibnu Hajar telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya dengan lisan, amalan dan tulisan. Beliau telah memberikan jasa besar bagi perkembangan beraneka ragam bidang keilmuan untuk umat ini.

Murid beliau yang ternama imam As-Sakhaawi dalam kitab Ad-Dhiya’ Al-Laami’ menjelaskan bahwa karya tulis beliau mencapai lebih dari 150 karya, sedangkan dalam kitab Al-Jawaahir wad-Durar disampaikan lebih dari 270 karya.

Tulisan-tulisan Ibnu Hajar, antara lain:

Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
Taghliq At-Ta’liq.
At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
Taqrib At-Tahdzib.
Tahdzib At-Tahdzib.
Lisan Al-Mizan.
Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

Referensi:
Muqaddimah kitab an-Nukaat ‘Ala ibni ash-Shalaah oleh Syeikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
Muqaddimah kitab Subul As-Salaam


Oleh Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.

Artikel ini telah tayang di KisahMuslim.com
Read More

Tuesday, January 7, 2020

Kenal Ulama: Biografi KH Ali Mustafa Yaqub, Ulama Ahli Hadits Nusantara

January 07, 2020 0

Ulama Nusantara | Kyai Ali Mustafa Yaqub adalah satu dari sekian banyak ulama Indonesia yang muncul dari pedalaman kampung. Beliau lahir tanggal 2 Maret 1952 M di desa Kemiri, kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dari pasangan bernama Yaqub dan Siti Habibah.

Mengaitkan Kemiri dengan kyai Ali Mustafa Yaqub membawa kita pada sketsa wajah tersebut di era tahun 60-an. Kemiri di masa-masa itu sangat jauh dengan keadaan di masa sekarang.

Dagi segi religiusitas, tidak di jumpai seorang ulama yang dapat dijadikan tempat mengadu permasalahan agama. Alih-alih konsultasi agama, orang yang memperhatikan dan mempraktikan keislamannya saja bisa dibilang minim.

Kalaupun ada orang yang pantas menyandang gelar ulama Kemiri waktu itu, maka kyai Yaqub-lah (ayah kyai Ali Mustafa Yaqub) orangnya. Itupun karena memang tidak ada orang yang dianggap lebih tahu tentang ajaran islam dibanding beliau.

Masa kecil kyai Ali Mustafa Yaqub tidak jauh berbeda dengan teman-teman sebayanya. Jika teman-temannya lebih banyak bermain, maka demikian halnya dengan kyai Ali pada masa kecilnya.

Beliau memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SR), yaitu sekolah-sekolah yang dirintis oleh para pejuang bangsa Indonesia di masa penjajahan dahulu.

Setiap hari, kyai Ali pergi ke SR yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Hanya dipisahkan oleh kebun milik ayahnya. Karenanya, ketika istirahat tiba, beliau sering kali memilih pulang ke rumahnya. Jika paginya belum makan, maka waktu istirahat menjadi pengganti waktunya untuk menyantap sarapan buatan ibunya.

Selain sekolah, pada masa kecilnya, kyai Ali memiliki kebiasaan ngangon (mengembala) kerbau bersama temannya. Setiap hari setelah pulang sekolah, beliau lantas shalat dhuhur dan makan sejenak, lalu keluar bersama temennya untuk mengembala kerbau. Sembari menunggu kerbau memakan rerumputan, beliau menikmati semilir angin lereng bukit bersama temannya.

Ketika menginjak kelas 3 SMP, kyai Ali mulai belajar mengenal organisasi. Yaitu Nahdlatul Ulama, organisasi yang banyak dianut oleh kalangan akar rumput pedesaan. Organisasi ini mengakar kuat dalam tradisi-tradisnya yang berkembang di masyarakat, seperti tahlilan, maulidan, dan tarekat. 

Meskipun masih kecil, keikutsertaan kyai Ali dalam wadah GP Anshor menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang gemar berorganisasi. Dengan masuk dalam keanggotaan organisasi ini, jiwa ke-NU-annya sedikit demi sedikit terbentuk. Siapa sangka, jika akhirnya beliau menjadi seorang kyai besar yang duduk di jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Kyai Ali Mustafa pada masa kecilnya kerap merasakan perilaku tidak mengenakkan dari kepala sekolahnya lantaran keaktifannya di NU. Puncak dari ketegangan ini adalah keputusan Kyai Ali untuk keluar dari SMP, padahal beliau sedang duduk di kelas 3 dan akan mengakhiri studinya 4 bulan lagi.

Namun apa mau dikata beliau sering mengeluh kepada ayahnya. Setelah bermusyawarah dengan ayah dan kakaknya, maka lahirlah keputusan untuk keluar dari SMP. Selanjutnya, ayahnya membawanya ke Jombang untuk dipondokkan disana.

Dengan diantar ayahnya, beliau berangkat menuju sebuah pesantren di Jombang, Jawa Timur pada tahun 1966. Dari sinilah perjalannan Kyai Ali sebagai santri 24 karat bermula. Kyai Yaqub mengantarkan putranya itu ke kota Jombang dan memilih pesantren Seblak sebagai tempat berlabuhnya dalam menuntut ilmu agama.

Pasca boyong (pulang) dari pesantren Seblak, Kyai Ali tidak lantas pulang ke kampung. Kehausannya akan ilmu agama masih butuh kucuran yang banyak. Pesantren Seblak telah menjadi oase pertamanya dalam menuntut ilmu di pesantren. Untuk melengkapinya Kyai Ali memilih Pesantren Tebuireng sebagai tempat bertapa selanjutnya.

Di pesantren Tebuireng, Kyai Ali melanjutkan pendidikannya dengan menempuh Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng. Tingkatan ini beliau lalui selama 3 tahun mulai dari tahun 1969 hingga 1972.

Tidak hanya itu, beliau juga melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Syariah IKAHA Tebuireng terhitung mulai 1972 sampai 1975. Selain menempuh pendidikan formalnya, beliau juga menekuni kitab-kitab kuning dibawah asuhan para kyai senior.

Tercatat, Kyai Ali memperoleh ijazah sanad Shahih al-Bukhari dari Kyai Syansuri Badawi  pada tanggal 1 Oktober 1974. Jumlah ulama yang menyambungkan sanadnya hingga Imam al-Bukhari berjumlah 19 ulama. Sebenarnya beliau juga memperolah sanad Shohih Muslim, hanya saja hingga akhir hayatnya sanad tersebut belum di temukan.

Pada tahun 1976, di usianya yang ke-24, Kyai Ali mendapatkan panggilan untuk melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Maulana bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia. Di Riyadh, beliau menyelesaikan studinya sampai lulus S1 dengan ijazah Licence pada tahun 1980.

Masih di kota yang sama, Riyadh, Kyai Ali melanjutkan studi S2 di Universitas Kang Saud, Departemen Studi Islam jurusan Tafsir dan Hadits, sampai lulus dengan gelar ijazah Master pada tahun 1985.  

Pada tahun 1985, Kyai Ali pulang ke Indonesia dan mengakhiri jejaknya di bumi Saudi Arabia. Beliau kemudian mengajar di IIQ, Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, serta perguruan tinggi lainnya. Beliau juga mulai aktif di beberapa organisasi keislaman serta aktif berdakwah dan mendirikan Peantren Darus-Sunnah di Ciputat.

Atas saran gurunya, Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, beliau pun melanjutkan doktoralnya di Universitas Nizamiah, Hyderabad, India pada tahun 2005. Studi ini tidak bersifat residensial (belajar di kampus), tetapi melalui komunikasi jarak jauh by research.

Pada tahun 2008 beliau menyelesaikan disertasinya dengan hasil penelitian Kriteria Halal untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika yang Tidak Ditemukan dalam al-Qur’an  maupun Hadits. Dari sidang disertasi ini, Kyai Ali Mustafa dinyatakan lulus dengan gelar Doktor dalam bidang Hukum Islam.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa beliau memperoleh gelar ini justru setelah 10 tahub menyandang Guru Besar Madya (Profesor) dalam bidang Ilmu Hadits dari IIQ Jakarta.

Dengan melekatnya gelar doktor ini, maka lengkaplah titel yang beliau sandang menjadi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Meskipun telah menyandang sederet gelar, Kyai Ali tetaplah sosok yang haus ilmu.

Untuk memenuhi dahaganya tersebut , beliau selalu membaca buku atau kitab sertiap harinya. Untuk itu beliau sering berkata “Nahnu Thullabul Ilmi ila Yaumil Qiyamah (kami adalah pencari ilmu hingga hari kiamat)”.  

Demikialah biografi singkat Kyai Ali Mustafa Yaqub, salah Seorang Ulama Nusantara. Biografi ini belum seberapa dibanding perjalanan beliau dalam menuntut ilmu yang tiada habisnya hingga akhir hayatnya.

Sebab, jika di tuangkan dalam artikel ini rasanya 20 lembar pun tidak cukup untuk menceritakan perjalanan beliau. Semoga kita dapat meneladani semangat beliau dalam menuntut ilmu. Wallahu A’lam.

Biografi ini dikutip dari karangan salah seorang murid Kyai Ali Mustafa Yaqub, Ustadz Ulin Nuha Mahfuddhon, dalam bukunya yang berjudul Meniti Dakwah di Jalan Sunnah.

Oleh Nur Faricha, Aktivis at LPM Nabawi Darus-Sunnah, sekaligus Santri Pondok Pesantren Darus Sunnah yang juga Mahasiswa Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah.

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Tuesday, December 31, 2019

Kenal Ulama: Biografi Imam Tirmidzi, Penyusun Kitab Sunan At Tirmidzi

December 31, 2019 0

Tokoh Ulama | Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin adl Dlahhak atau lebih terkenal dengan nama Imam Tirmidzi. Nasab Beliau adalah As Sulami, yaitu nisbah kepada satu kabilah yang dijadikan sebagai afiliasi beliau, dan nisbah ini merupakan nisbah keakraban. Kemudian kata At Tirmidzi, dinisbahkan kepada negeri tempat beliau di lahirkan (Tirmidz), yaitu sebuah kota yang terletak di selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran.

Kelahiran

Para pakar sejarah tidak menyebutkan tahun kelahiran Imam Tirmidzi secara pasti, akan tetapi sebagian yang lain memperkirakan bahwa kelahiran Imam Tirmidzi pada tahun 209 hijriah. Sedang Adz Dzahabi berpendapat dalam kisaran tahun 210 hijriah. Imam Tirmidzi beliau pernah bercerita bahwa kakeknya adalah orang Marwa, kemudian berpindah dari Marwa menuju ke Tirmidz, dengan ini menunjukkan bahwa beliau lahir di Tirmidzi.

Ada satu berita yang mengatakan bahwa Imam Tirmidzi dilahirkan dalam keadaan buta, padahal berita yang akurat adalah, bahwa Imam at-Tirmidzi mengalami kebutaan di masa tua, setelah mengadakan lawatan ilmiah dan penulisan Imam at-Tirmidzi terhadap ilmu yang ia miliki. Masa kecil beliau tumbuh di daerah Tirmidz mendalami ilmu di daerah ini sebelum memulai rihlah ilmiah beliau.

Menimba Ilmu

Berbagai literatur-literatur yang ada tidak menyebutkan dengan pasti kapan imam Tirmidzi memulai mencari ilmu, akan tetapi yang tersirat ketika kita memperhatikan manaqib beliau, bahwa beliau memulai aktifitas mencari ilmunya setelah menginjak usia dua puluh tahun. Maka dengan demikian, beliau kehilangan kesempatan untuk mendengar hadits dari sejumlah tokoh-tokoh ulama hadits yang kenamaan, meski tahun periode beliau memungkinkan untuk mendengar hadits dari mereka, tetapi beliau mendengar hadits mereka melalui perantara orang lain. Yang nampak adalah bahwa beliau memulai rihlahnya pada tahun 234 hijriah.

Beliau memiliki kelebihan hafalan yang begitu kuat dan kemampuan otak yang cepat menangkap ilmu pelajaran. Sebagai permisalan yang dapat menggambarkan kecerdasan kecerdasan dan kekuatan hafalan beliau adalah, satu kisah perjalanan beliau ketika menuju Mekkah, yaitu :

“Pada saat aku dalam perjalanan menuju Mekkah, ketika itu aku telah menulis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh. Kebetulan Syeikh tersebut berpapasan dengan kami. Maka aku bertanya kepadanya, dan saat itu aku mengira bahwa “dua jilid kitab” yang aku tulis itu bersamaku. Tetapi yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang masih putih bersih belum ada tulisannya. Aku memohon kepadanya untuk memperdengarkan hadits kepadaku, dan ia mengabulkan permohonanku itu. Kemudian ia membacakan hadits dari lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat bahwa kertas yang kupegang putih bersih. Maka dia menegurku: ‘Tidakkah engkau malu kepadaku? Maka aku pun memberitahukan kepadanya perkaraku. Dan aku berkata: ‘Aku telah menghafal semuanya’, maka syeikh tersebut berkata: ‘bacalah!’, maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya, tetapi dia tidak mempercayaiku, maka dia bertanya: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak’ jawabku. Kemudian aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits, lalu berkata: ‘Coba ulangi apa yang kubacakan tadi’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun.”

Rihlah Beliau

Imam At Tirmidzi keluar dari tempat kelahirannya menuju ke Khurasan, Iraq dan Haramain dalam rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mendengar ilmu dari kalangan ulama yang beliau temui, sehingga dapat mengumpulkan hadits dan memahaminya. Akan tetapi sangat di sayangkan beliau tidak masuk ke daerah Syam dan Mesir, sehingga hadits-hadits yang beliau riwayatkan dari ulama kalangan Syam dan Mesir harus melalui perantara, kalau sekiranya beliau mengadakan perjalanan ke Syam dan Mesir, niscaya beliau akan mendengar langsung dari ulama-ulama tersebut, seperti Hisyam bin ‘Ammar dan yang lainnya.

Para pakar sejarah berbeda pendapat tentang masuknya imam At Tirmidzi ke daerah Baghdad, sehingga mereka berkata : “Kalau sekiranya dia masuk ke Baghdad, niscaya dia akan mendengar dari Imam Ahmad bin Hanbal.”

Al Khathib tidak menyebutkan at Tirmidzi (masuk ke Baghdad) di dalam tarikhnya, sedangkan Ibnu Nuqthah dan yang lainnya menyebutkan bahwa beliau masuk ke Baghdad. Ibnu Nuqthah menyebutkan bahwasanya beliau pernah mendengar di Baghdad dari beberapa ulama, diantaranya adalah : Al Hasan bin AshShabbah, Ahmad bin Mani’ dan Muhammad bin Ishaq Ash Shaghani.

Sehingga kemudian diprediksi bahwa beliau masuk ke Baghdad setelah wafatnyanya Imam Ahmad bin Hanbal, dan ulama-ulama yang disebutkan oleh Ibnu Nuqthah meninggal setelah sang Imam Ahmad. Sedangkan pendapat Al Khathib yang tidak menyebutkannya, itu tidak berarti bahwa beliau tidak pernah memasuki kota Baghdad sama sekali, sebab banyak sekali dari kalangan ulama yang tidak disebutkan Al Khathib di dalam tarikhnya, padahal mereka memasuki Baghdad.

Setelah pengembaraannya, Imam At Tirmidzi kembali ke negerinya, kemudian beliau masuk Bukhara dan Naisapur, dan beliau tinggal di Bukhara beberapa saat.

Negeri-negeri yang pernah dimasuki Imam At Tirmidzi adalah:

Khurasan
Bashrah
Kufah
Wasith
Baghdad
Makkah
Madinah
Ar Ray

Guru-Guru Beliau

Imam at Tirmidzi menuntut ilmu dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di antara mereka adalah :

Qutaibah bin Sa’id
Ishaq bin Rahuyah
Muhammad bin ‘Amru As Sawwaq al Balkhi
Mahmud bin Ghailan
Ismai’l bin Musa al Fazari
Ahmad bin Mani’
Abu Mush’ab Az Zuhri
Basyr bin Mu’adz al Aqadi
Al Hasan bin Ahmad bin Abi Syu’aib
Abi ‘Ammar Al Husain bin Harits
Abdullah bin Mu’awiyyah al Jumahi
‘Abdul Jabbar bin al ‘Ala’
Abu Kuraib
‘Ali bin Hujr
‘Ali bin Sa’id bin Masruq al Kindi
‘Amru bin ‘Ali al Fallas
‘Imran bin Musa al Qazzaz
Muhammad bin Aban al Mustamli
Muhammad bin Humaid Ar Razi
Muhammad bin ‘Abdul A’la
Muhammad bin Rafi’
Imam Bukhari
Imam Muslim
Abu Dawud
Muhammad bin Yahya al ‘Adani
Hannad bin As Sari
Yahya bin Aktsum
Yahya bin Hubaib
Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Abi Asy Syawarib
Suwaid bin Nashr al Marwazi
Ishaq bin Musa Al Khathami
Harun al Hammal

Murid-Murid Beliau

Kumpulan hadits dan ilmu-ilmu yang dimiliki Imam Tirmidzi banyak yang meriwayatkan, diantaranya adalah :

Abu Bakr Ahmad bin Isma’il As Samarqandi
Abu Hamid Adullah bin Daud Al Marwazi
Ahmad bin ‘Ali bin Hasnuyah al Muqri’
Ahmad bin Yusuf An Nasafi
Ahmad bin Hamduyah an Nasafi
Al Husain bin Yusuf Al Farabri
Hammad bin Syair Al Warraq
Daud bin Nashr bin Suhail Al Bazdawi
Ar Rabi’ bin Hayyan Al Bahili
Abdullah bin Nashr saudara Al Bazdawi
‘Abd bin Muhammad bin Mahmud An Safi
‘Ali bin ‘Umar bin Kultsum as Samarqandi
Al Fadhl bin ‘Ammar Ash Sharram
Abu al ‘Abbas Muhammad bin Ahmad bin Mahbub
Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad An Nasafi
Abu Ja’far Muhammad bin Sufyan bin An Nadlr An Nasafi al Amin
Muhammad bin Muhammad bin Yahya Al Harawi al Qirab
Muhammad bin Mahmud bin ‘Ambar An Nasafi
Muhammad bin Makki bin Nuh An Nasafi
Musbih bin Abi Musa Al Kajiri
Makhul bin al Fadhl An Nasafi
Makki bin Nuh
Nashr bin Muhammad bin Sabrah
Al Haitsam bin Kulaib

Karya-Karyanya

Imam Tirmidzi menitipkan ilmunya di dalam hasil karya beliau, diantara buku-buku beliau ada yang sampai kepada generasi kita dan ada juga yang tidak sampai.

Diantara hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah :

Kitab Al Jami’, atau terkenal dengan sebutan kitab Sunan at Tirmidzi
Kitab Al ‘Ilal
Kitab Asy Syama’il an Nabawiyyah
Kitab Tasmiyyatu ashhabi rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Adapun karangan beliau yang tidak sampai kepada kita adalah :

Kitab At-Tarikh
Kitab Az Zuhd
Kitab Al Asma’ wa al kuna

Pujian Para Ulama

Para ulama banyak memberikan kesaksian terhadap keilmuan dan kecerdasan Imam Tirmidzi, yang antara lain adalah;

Al Hafiz ‘Umar bin ‘Alak menuturkan; “at-Tirmidzi meninggal, dan ia tidak meninggalkan di Khurasan orang yang seperti Abu ‘Isa dalam hal ilmu, hafalan, wara’ dan zuhud.”

Ibnu Hibban menuturkan; “Abu ‘Isa adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal dan mengadakan diskusi dalam hal hadits.”

Abu Ya’la al Khalili menuturkan; “Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah menurut kesepatan para ulama, terkenal dengan amanah dan keilmuannya.”

Abu Sa’d al Idrisi menuturkan; “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang di ikuti dalam hal ilmu hadits, Imam at-Tirmidzi telah menyusun kitab al jami’, tarikh dan ‘ilal dengan cara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang alim. Imam Tirmidzi ialah seorang ulama yang menjadi contoh dalam hal kuatnya hafalan.”

Al Mubarak bin al Atsram menuturkan; “Imam Tirmidzi merupakan salah seorang imam hafizh dan tokoh.”

Al Hafizh al Mizzi menuturkan; “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya.

Adz Dzahabi menuturkan; “Imam Tirmidzi adalah seorang hafizh, alim, dan imam yang cakap.

Ibnu Katsir menuturkan: “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam dalam bidangnya pada zaman Imam at-Tirmidzi.”

Wafatnya Beliau

Setelah perjalanan panjang beliau dalam mencari ilmu, mencatat, berdiskusi dan bertukar pikiran serta mengarang kitab, pada akhir hayatnya beliau mendapat musibah kebutaan, dan dalam beberapa tahun lamanya beliau hidup sebagai tuna netra. Dan dalam keadaan seperti inilah akhirnya Imam At-Tirmidzi wafat. Beliau wafat di kampung halamannya Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H bertepatan dengan 8 Oktober 892, dalam usia beliau pada saat itu 70 tahun.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Monday, December 2, 2019

Kenal Ulama: Biografi Imam Abu Dawud, Penyusun Kitab Sunan Abu Dawud

December 02, 2019 0

Tokoh | Imam Abu Dawud, nama lengkapnya adalah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi as-Sijistani. Beliau adalah seorang tokoh ahli bidang hadits, dan pengarang kitab sunan. Beliau dilahirkan tahun 202 H. di daerah bernama Sijistan.

Pengembaraan mencari ilmu

Sejak kecil Abu Dawud sangat mencintai ilmu dan sudah bergaul dengan para ulama untuk menimba ilmunya. Sebelum dewasa, beliau sudah mempersiapkan diri untuk melanglang ke berbagai negeri. Beliau belajar hadits dari para ulama yang ditemuinya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri lainnya. Pengembaraannya ke beberapa negeri itu menunjang beliau untuk mendapatkan hadits sebanyak-banyaknya yang kemudian hadits itu disaring, dan ditulis pada kitab Sunan.

Imam Abu Dawud sudah berulang kali mengunjungi Bagdad. Di sana beliau mengajar ilmu hadits dan fiqih dengan menggunakan kitab sunan. Saat kitab sunannya itu ditunjukkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, sang Imam mengatakan bahwa kitab tersebut sangat bagus. Kemudian kitab tersebut (Sunan Abu Dawud) dianggap sebagai kitab ketiga dari Kutubussittah setelah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Guru-gurunya

Jumlah guru Imam Abu Dawud sangat banyak. Di antara gurunya yang paling menonjol antara lain: Ahmad bin Hanbal, al-Qan’abi, Abu Amar ad-Darir, Abu Daud bin Ibrahim, Abdullah bin raja’, Abdul Walid at-Tayalisi dan lain–lain. Sebagian gurunya juga termasuk guru Imam Bukhari seperti Ahmad bin Hanbal, Usman bin Abu Syaibah dan Qutaibah bin sa’id.

Murid-muridnya

Beberapa murid yang juga meriwayatkan hadits-nya antara lain:

Abu Isa at-Tirmizi.
Abu Abdur Rahman an-Nasa’i.
Putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud.
Abu Awana, Abu Sa’id aI-Arabi.
Abu Ali al-Lu’lu’i.
Abu Bakar bin Dassah.
Abu Salim Muhammad bin Sa’id al-Jaldawi dan lain-lain.

Sifat dan akhlak kepribadiannya

Imam Abu Dawud termasuk ulama yang mencapai derajat tinggi dalam beribadah, kesucian diri, kesalihan dan wara’ yang patut diteladani.

Beberapa ulama berkata: “Perilaku,sifat dan kepribadiannya menyerupai dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad menyerupai Waki’; seperti Sufyan asy-Sauri, Sufyan seperti Mansur, Mansur menyerupai Ibrahim an-Nakha’i, Ibrahim menyerupai Alqamah, “Alqamah seperti Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Mas’ud seperti Nabi Muhammad SAW.

Kepribadian dan sifat seperti ini menggambarkan kesempurnaan beragama, prilaku dan akhlak Imam Abu Dawud. Beliau mempunyai falsafah tersendiri dalam berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Jika ada yang bertanya, beliau menjawab: “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedang yang satunya tidak diperlukan. Kalau dia lebar, berarti pemborosan.”

Ulama yang memujinya

Imam Abu Dawud adalah seorang tokoh ahli hadits yang menghafal dan memahami hadits beserta illatnya. Beliau mendapatkan kehormatan dari para ulama, terutama dari gurunya,yaitu Imam Ahmad.

Al-Hafidz Musa bin Harun mengatakan: “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk Hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama darinya.”

Sahal bin Abdullah at-Tastari, seorang ulama yang alim berkunjung pada Imam Abu Dawud dan berkata: “Saya adalah Sahal, datang untuk mengunjungimu.” Imam Abu Dawud menyambutnya dengan hormat dan mempersilakannya duduk. Lalu Sahal berkata: “Saya ada keperluan.” Imam Abu Dawud bertanya: “Keperluan apa?” Sahal menjawab: “Akan saya katakan, asalkan engkau berjanji memenuhi permintaanku.” Imam Abu Dawud menjawab: “Jika aku mampu pasti kuturuti.” Lalu Sahal berkata: “Julurkanlah lidahmu yang engkau gunakan untuk meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW agar aku dapat menciumnya” Lalu Abu Dawud menjulurkan lidahnya kemudian dicium Sahal.

Ketika Imam Abu Dawud menulis kitab Sunan, Ibrahim al-Harbi, yang juga Ulama hadits, berkata: “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan untuk Nabi Dawud.”

Ungkapan itu merupakan perumpamaan bagi keistimewaan seorang ahli hadits. Ia telah mempermudah yang sulit dan mendekatkan yang jauh.

Seorang Ulama ilmu hadits dan fiqih terkenal yang bermazhab Hanbali, Abu Bakar al-Khallal, berkata: “Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as as-Sijistani merupakan Imam terkemuka pada zamannya, penggali beberapa bidang ilmu dan juga mengetahui tempatnya, serta tak seorang pun di masanya dapat me-nandinginya.”

Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin Sadaqah sering memuji Abu Dawud, dan mereka memberi pujian yang belum pernah diberikan kepada siapa pun di masanya.

Madzhab yang diikuti Imam Abu Dawud dalam Tabaqatul Fuqaha menggolongkan Abu Dawud sebagai murid Imam Ahmad bin Hanbal. Penilaian ini dikarenakan, Imam Ahmad adalah guru Abu Dawud yang istimewa.Nmaun ada pula yang mengatakan bahwa Imam Abu Dawud bermazhab Syafi’i.

Memuliakan ilmu dan ulama

Dikisahkan oleh Imam al-Khattabi dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Imam Abu Dawud. Ia berkata: “Aku bersama Abu Dawud tinggal di Baghdad. Suatu ketika, saat kami usai melakukan shalat magrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang, lalu kubuka pintu dan seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq minta ijin untuk masuk. Kemudian aku memberitahu Abu Dawud dan ia pun mengijinkan, lalu Amir duduk.

Abu Dawud bertanya: “Apa yang mendorongmu ke sini?” Amir pun menjawab “Ada tiga kepentingan”. “Kepentingan apa?” Tanya Abu Dawud. Amir mengatakan: “Sebaiknya anda tinggal di Basrah, agar para pelajar dari seluruh dunia belajar kepada anda. Dengan demikian kota Basrah akan makmur lagi. Karena Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji.”

Abu Dawud berkata: “itu yang pertama, lalu yang kedua?” Amir menjawab: “Hendaknya anda mau mengajarkan Sunan kepada anak-anakku.” “Yang ketiga?” tanya Abu Dawud. “Hendaklah anda membuat majelis tersendiri untuk mengajarkan hadits kepada keluarga khalifah, sebab mereka enggan duduk bersama orang umum.”

Abu Dawud menjawab: “Permintaan ketiga tidak bisa kukabulkan. Karena derajat manusia itu, baik pejabat terhormat ataupun rakyat biasa, dipandang sama dalam menuntut ilmu.” Ibnu Jabir mengatakan: “Sejak saat itu putra-putra khalifah datang menghadiri majelis taklim, duduk bersama rakyat biasa, dengan diberi tirai pemisah”.

Begitulah seharusnya, bukan ulama yang datang kepada raja atau penguasa, namun merekalah yang harus mendatangi ulama. Itulah kesamaan derajat dalam mencari ilmu pengetahuan.

Metodologi Sunan Abu Dawud

Imam Abu Daud menyusun kitabnya di Baghdad. Minat utamanya adalah syariat, sehingga kumpulan hadits-haditsnya berfokus murni pada hadits tentang syariat. Setiap hadits dalam kumpulannya diperiksa kesesuaiannya dengan Al-Qur’an, begitu pula sanadnya. Dia pernah memperlihatkan kitab Sunannya itu kepada Imam Ahmad untuk meminta saran dan koreksi.

Kitab Sunan Abu Dawud diakui oleh mayoritas ulama sebagai salah satu kitab hadits yang paling autentik dan shahih. Namun, diketahui bahwa kitab ini mengandung beberapa hadits lemah (yang sebagian ditandai dan sebagian tidak).

Banyak ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau, diantaranya Imam Tirmidzi dan Imam an Nasa’i. Al Khatoby mengomentari bahwa kitab tersebut adalah sebaik-baik tulisan dan isinya lebih banyak memuat fiqih daripada kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Ibnul A’raby berkata, barangsiapa yang sudah menguasai Al-Qur’an dan kitab “Sunan Abu Dawud”, maka dia tidak membutuhkan kitab-kitab lain lagi. Imam Ghazali juga mengatakan bahwa kitab “Sunan Abu Dawud” sudah cukup bagi seorang mujtahid untuk dijadikan landasan hukum.

Beliau adalah imam dari para Imam Ahlussunnah wal Jamaah yang hidup di Bashroh, kota berkembangnya kelompok Qadariyah. Demikian pula berkembang disana pemikiran Khowarij, Mu’tazilah, Murji’ah dan Syi’ah Rafidhoh serta Jahmiyah dan lain-lainnya. Tetapi walaupun demikian beliau tetap istiqomah di atas Sunnah dan beliau pun membantah Qadariyah dengan kitabnya Al Qadar.

Demikian pula bantahan beliau atas Khowarij dalam kitabnya Akhbar Al Khawarij, dan juga membantah terhadap pemahaman yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam yang telah disampaikan olah Rasulullah SAW.

Maka tentang hal itu bisa dilihat pada kitabnya As Sunan yang terdapat bantahan-bantahan beliau terhadap Jahmiyah, Murji’ah dan Mu’tazilah.

Beliau lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta masyhur akan kewara’annya dan kezuhudannya. Kefaqihannya terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum. Selain itu terlihat dalam penjelasan bab-bab fiqih atas sejumlah karyanya, seperti Sunan Abu Dawud.

Sepanjang sejarah telah muncul para pakar hadits yang berusaha menggali makna hadits dalam berbagai sudut pandang dengan metode pendekatan dan sistem yang berbeda. Sehingga dengan upaya yang sangat berharga itu mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya guna memahami hadits Nabi dengan baik dan benar.

Di samping itu, mereka pun telah bersusah payah menghimpun hadits-hadits yang diperselisihkan dan menyelaraskan di antara hadits yang tampak saling menyelisihi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kewibawaan dari hadits secara umum.

Abu Muhammad bin Qutaibah (wafat 267 H) dengan kitab dia Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis telah membantah habis pandangan kaum Mu’tazilah yang mempertentangkan beberapa hadis dengan al-Quran maupun dengan rasio mereka.

Salah satu kitab yang terkenal adalah yang disusun oleh Imam Abu Dawud yaitu sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat 4800 hadis terseleksi dari 50.000 hadis.

Sebagai ahli hukum, Imam Abu Dawud pernah berkata: Cukuplah manusia dengan empat hadits, yaitu:
1. Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya.
2. Termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.
3. Tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridho terhadap saudaranya apa yang ia ridho terhadap dirinya sendiri.
4. Yang halal sudah jelas dan yang harampun sudah jelas pula, sedangkan di antara keduanya adalah syubhat.

Beliau menyusun karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushul, tauhid dan terutama hadits. Kitab sunan dialah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu di antara kompilasi hadis hukum yang paling menonjol saat ini.

Tentang kualitasnya ini Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata: Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats as-sijistani rahimahullah adalah kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya. Di dalam banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum di antara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif mengambil hukum.

Kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridho, karena sesungguhnya ia telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam, dan menyusunnya dengan sebagus-bagus susunan, serta mengaturnya dengan sebaik-baik aturan bersama dengan kerapnya kehati-hatian sikapnya dengan membuang sejumlah hadis dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka dan mem- berikannya pula atas para pelanjutnya.

Karya Imam Abu Dawud

Abu Dawud mempunyai karangan yang banyak, antara lain:

Kitab as-Sunan
Kitab al-Marasil
Kitab al-Qadar
An-Nasikh Wal Mansukh
Fada’ilul A’mal
Kitab az-Zuhud
Dalailun Nubuwah
Ibtida’ul Wahyu
Ahbarul Khawarij

Akhir Hayatnya

Setelah hidup penuh dengan kegiatan ilmu, mengumpulkan dan menyebarluaskan hadits, Imam Abu Dawud wafat di Basrah. Beliau wafat tanggal 16 Syawal 275 H. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridanya kepada-nya. Imam Abu Dawud meninggalkan seorang putra bernama Abu Bakar Abdullah bin Abu Dawud. Ia adalah seorang Imam hadits dan putra seorang imam hadits pula. Dilahirkan tahun 230 H. dan wafat tahun 316 H.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More