Kenal Ulama: Musthafa al Siba’i Ahli Hadits dan Politikus Negeri Syam - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Saturday, January 18, 2020

Kenal Ulama: Musthafa al Siba’i Ahli Hadits dan Politikus Negeri Syam


Tokoh Ulama | Dialah yang bernama lengkap Musthafa bin Husni Abu Hasan al Siba’i, dalam beberapa karyanya beliau biasa menulis namanya dengan sebutan Musthafa al Siba’i, dan beberapa kesempatan pula beliau menuliskan namanya dengan sebutan Mustahfa Husni al Siba’i dalam suatu persembahan dan pengantar kitab atau karyanya.

Musthafa al Siba’i dilahirkan di kota Homs, salah satu dari kota yang ada di Negara Suriah pada tahun 1915 M bertepatan pada tahun 1331 H. Adapun masa kecil beliau kurang dijelaskan dalam beberapa buku tentang biografi hidupnya.

Namun paling tidak dikatakan bahwa beliau memang berasal dari keluarga ulama yang terpandang. Sehingga berangkat dari jalur inilah yang memudahkan beliau dalam menimbah ilmu agama  dan politik terutama belajar kepada sang ayah yang merupakan seorang Mujahid dan Khatib (Syaikh Husni al Siba’i)

Menariknya, beliau tidak hanya aktif dalam dunia keislaman yang telah membesarkan namanya terutama dalam dunia hadits, melainkan beliau pun turut aktif dalam melawan penjajah (Prancis-Suriah di usia yang masih menginjak belasan tahun), dan ini dikarenakan tantangan dunia Islam dalam banyak Negara yang ingin membebaskan diri dari imperialisme barat pada waktu itu.

Dari keaktifannya inilah dalam melawan penjajah dengan beberapa bentuk partisipasi yang diantaranya dengan membagi bagikan selebaran, berpidato, dan memimpin demonstrasi di Homs sempat membuat dirinya ditangkap oleh orang orang Prancis.

Selain itu, beliau juga aktif dalam menggalang kekuatan dunia Islam untuk berjuang melawan tentara Israel demi mempertahankan Bait al Maqdis, maka tak berlebihan rasanya jikalau Musthafa al Siba’i yang selain dikenal sebagai Ulama hadits pun dikenal sebagai pejuang yang berkemampuan retorik.

Masih pada kisah hidup beliau, ketika menginjak usia 18 tahun (1933), barulah Mustahafa al Siba’i berpindah ke Mesir demi memperoleh pengalaman intelektual dan politik sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang pemikiran Muhammad Abduh di al Azhar, yang sekaligus merupakan tempat beliau memperoleh gelar doktor di bidang hadits.

Dari ketekunan dan kepiawaiannya-lah dalam bidang ilmu hadits, rupanya mengantarkan beliau pada pemikiran kritisnya terhadap pemikiran Ahmad Amin, baik itu tentang Pamalsuan hadits pada masa Rasulullah Saw., tentang pembukuan hadits, tentang ‘Adalat al Shahabah dan lainnya yang membahas tentang Hadits.

Karya karya beliau

Sebagai seorang tokoh yang dikenal dalam masyarakat, maka belum lengkap rasanya jikalau hidupnya tidak dibumbuhi dengan karya tulis yang menjadikan namanya semakin dikenal  dan dikenang.

Sama halnya dengan Musthafa al Siba’i, sepanjang hidupnya kurang lebih ada 21 kitab dan risalahnya yang mampu beliau susun atas kegigihan dan semangat besarnya, dan berikut beberapa karya dan garis besar isi dari karyanya tersebut:

1. Istikariyat al Islam, karya ini sudah dikenal di Indonesia sejak dekade 1970-an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam edisi terjemahan oleh Moh. Abday Ratoni dengan judul Sosialisme Islam. Buku ini paling tidak membahas pemikiran politik dengan memberi gambaran tentang perbaikan pada seluruh masyarakat Islam dalam membentuk sebuah negara, atau sebuah masyarakat yang lebih maju dari segi ekonomi, politik dan sosial yang berlandaskan pada syri’at Islam.

2. Al Sunnah wa Makanatuha fa al Tasyri’ al Islami, yakni salah satu karya fundamentalnya yang cukup populer di kalangan muslim Indonesia, yang diterjemahkan pada tahun 1993 oleh Dja’far Abd. Muchith dan kemudian diterbitkan oleh CV, Dipenogoro.

3. Al Istisyraq wa al Mustsyriqun, yaitu karya yang berisikan tentang pembongkaran beliau terhadap kepalsuan hadits. Selain itu, lewat karya inilah beliu menggambarkan tentang langkah langkah yang diambil para orientalis dalam menghancurkan Islam serta sarana sarana yang dipakai demi merealisasikan tujuan tersebut.

3. Al Mar’ah Bayn al Fiqh wa al Qanun, yaitu membahas tentang wanita diantara fiqh dan undang undang, yang mana lebih jelasnya menerangkan tentang toleransi Islam dalam sikapnya terhadap wanita dan hak hak yang ditetapkan baginya termasuk hal hal yang sesuai dengan tabiatnya.

4. Min Rawa’i’ Hadlaratina, karya ini disusun oleh Musthafa al Siba’i yang bertujuan untuk membuktikan bahwa aspek aspek kemanusiaan yang abadi dalam peradaban kita lebih kuat dan indah, serta untuk menolak fitnah fitnah orang yang mendakwahkan peradaban Islam yang katanya memiliki kaiban dan kekurangan.

Adapun karya lainnya ialah:

Akhalquna al Ijtima’iyyah
Al Qala’id min Fara’id al Fawa’id
Al Washaya wa al Fara’id
‘Azhama ‘una fi al Tharikh
Hadza Huwa al Islam
Ahkam al Shiyam wa Falsafatuhu
Ahkam al Mawarits
Ahkam al Zawaj wa Inkhillalih
Manhajuna fi al Ishlah
Al Sirah al Nabawiyyah, Tarikhuha wa Durusuha
Al Ikhwan al Muslimun fi Harb Falasthin
Al Nizham Al Ijtima’ fi Al Islam
Al ‘Alaqah Bayn Al Muslimin wa Al Mashihiyyin fi Al Tharikh

Dari berbagai karya karyanya yang sempat disebutkan diatas secara tidak langsung telah melukiskan tentang sosok Musthafa al Siba’i yang merupakan penulis produktif dan termasuk tokoh yang alim dibidang Hadits, hukum Islam, Sejarah peradaban, sosialisalisme dan bidang ilmu lainnya.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org

No comments:

Post a Comment