January 2020 - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Saturday, January 18, 2020

Kenal Ulama: Musthafa al Siba’i Ahli Hadits dan Politikus Negeri Syam

January 18, 2020 0

Tokoh Ulama | Dialah yang bernama lengkap Musthafa bin Husni Abu Hasan al Siba’i, dalam beberapa karyanya beliau biasa menulis namanya dengan sebutan Musthafa al Siba’i, dan beberapa kesempatan pula beliau menuliskan namanya dengan sebutan Mustahfa Husni al Siba’i dalam suatu persembahan dan pengantar kitab atau karyanya.

Musthafa al Siba’i dilahirkan di kota Homs, salah satu dari kota yang ada di Negara Suriah pada tahun 1915 M bertepatan pada tahun 1331 H. Adapun masa kecil beliau kurang dijelaskan dalam beberapa buku tentang biografi hidupnya.

Namun paling tidak dikatakan bahwa beliau memang berasal dari keluarga ulama yang terpandang. Sehingga berangkat dari jalur inilah yang memudahkan beliau dalam menimbah ilmu agama  dan politik terutama belajar kepada sang ayah yang merupakan seorang Mujahid dan Khatib (Syaikh Husni al Siba’i)

Menariknya, beliau tidak hanya aktif dalam dunia keislaman yang telah membesarkan namanya terutama dalam dunia hadits, melainkan beliau pun turut aktif dalam melawan penjajah (Prancis-Suriah di usia yang masih menginjak belasan tahun), dan ini dikarenakan tantangan dunia Islam dalam banyak Negara yang ingin membebaskan diri dari imperialisme barat pada waktu itu.

Dari keaktifannya inilah dalam melawan penjajah dengan beberapa bentuk partisipasi yang diantaranya dengan membagi bagikan selebaran, berpidato, dan memimpin demonstrasi di Homs sempat membuat dirinya ditangkap oleh orang orang Prancis.

Selain itu, beliau juga aktif dalam menggalang kekuatan dunia Islam untuk berjuang melawan tentara Israel demi mempertahankan Bait al Maqdis, maka tak berlebihan rasanya jikalau Musthafa al Siba’i yang selain dikenal sebagai Ulama hadits pun dikenal sebagai pejuang yang berkemampuan retorik.

Masih pada kisah hidup beliau, ketika menginjak usia 18 tahun (1933), barulah Mustahafa al Siba’i berpindah ke Mesir demi memperoleh pengalaman intelektual dan politik sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang pemikiran Muhammad Abduh di al Azhar, yang sekaligus merupakan tempat beliau memperoleh gelar doktor di bidang hadits.

Dari ketekunan dan kepiawaiannya-lah dalam bidang ilmu hadits, rupanya mengantarkan beliau pada pemikiran kritisnya terhadap pemikiran Ahmad Amin, baik itu tentang Pamalsuan hadits pada masa Rasulullah Saw., tentang pembukuan hadits, tentang ‘Adalat al Shahabah dan lainnya yang membahas tentang Hadits.

Karya karya beliau

Sebagai seorang tokoh yang dikenal dalam masyarakat, maka belum lengkap rasanya jikalau hidupnya tidak dibumbuhi dengan karya tulis yang menjadikan namanya semakin dikenal  dan dikenang.

Sama halnya dengan Musthafa al Siba’i, sepanjang hidupnya kurang lebih ada 21 kitab dan risalahnya yang mampu beliau susun atas kegigihan dan semangat besarnya, dan berikut beberapa karya dan garis besar isi dari karyanya tersebut:

1. Istikariyat al Islam, karya ini sudah dikenal di Indonesia sejak dekade 1970-an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam edisi terjemahan oleh Moh. Abday Ratoni dengan judul Sosialisme Islam. Buku ini paling tidak membahas pemikiran politik dengan memberi gambaran tentang perbaikan pada seluruh masyarakat Islam dalam membentuk sebuah negara, atau sebuah masyarakat yang lebih maju dari segi ekonomi, politik dan sosial yang berlandaskan pada syri’at Islam.

2. Al Sunnah wa Makanatuha fa al Tasyri’ al Islami, yakni salah satu karya fundamentalnya yang cukup populer di kalangan muslim Indonesia, yang diterjemahkan pada tahun 1993 oleh Dja’far Abd. Muchith dan kemudian diterbitkan oleh CV, Dipenogoro.

3. Al Istisyraq wa al Mustsyriqun, yaitu karya yang berisikan tentang pembongkaran beliau terhadap kepalsuan hadits. Selain itu, lewat karya inilah beliu menggambarkan tentang langkah langkah yang diambil para orientalis dalam menghancurkan Islam serta sarana sarana yang dipakai demi merealisasikan tujuan tersebut.

3. Al Mar’ah Bayn al Fiqh wa al Qanun, yaitu membahas tentang wanita diantara fiqh dan undang undang, yang mana lebih jelasnya menerangkan tentang toleransi Islam dalam sikapnya terhadap wanita dan hak hak yang ditetapkan baginya termasuk hal hal yang sesuai dengan tabiatnya.

4. Min Rawa’i’ Hadlaratina, karya ini disusun oleh Musthafa al Siba’i yang bertujuan untuk membuktikan bahwa aspek aspek kemanusiaan yang abadi dalam peradaban kita lebih kuat dan indah, serta untuk menolak fitnah fitnah orang yang mendakwahkan peradaban Islam yang katanya memiliki kaiban dan kekurangan.

Adapun karya lainnya ialah:

Akhalquna al Ijtima’iyyah
Al Qala’id min Fara’id al Fawa’id
Al Washaya wa al Fara’id
‘Azhama ‘una fi al Tharikh
Hadza Huwa al Islam
Ahkam al Shiyam wa Falsafatuhu
Ahkam al Mawarits
Ahkam al Zawaj wa Inkhillalih
Manhajuna fi al Ishlah
Al Sirah al Nabawiyyah, Tarikhuha wa Durusuha
Al Ikhwan al Muslimun fi Harb Falasthin
Al Nizham Al Ijtima’ fi Al Islam
Al ‘Alaqah Bayn Al Muslimin wa Al Mashihiyyin fi Al Tharikh

Dari berbagai karya karyanya yang sempat disebutkan diatas secara tidak langsung telah melukiskan tentang sosok Musthafa al Siba’i yang merupakan penulis produktif dan termasuk tokoh yang alim dibidang Hadits, hukum Islam, Sejarah peradaban, sosialisalisme dan bidang ilmu lainnya.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Friday, January 17, 2020

Kenal Ulama: Abon Aziz Samalanga, Ahli Mantiq Pengkader Ulama Aceh Abad Ini

January 17, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Aziz Samalanga bernama lengkap Teungku/Tgk Abdul Aziz bin Tgk Muhammad Shaleh bin Tgk Abdullah. Ibunda beliau bernama Tgk Hj. Halimah binti Makam bin Keuchik Lamblang Jeunib. Samalanga di Ujung nama beliau adalah dinisbahkan kepada kecamatan tempat kelahirannya.

Tgk. H Abdul Aziz atau kerap disapa Abu Aziz atau Abon Aziz Samalanga ini lahir di desa Kandang kecamatan Samalanga Kabupaten Aceh Utara pada bulan Ramadhan tahun 1351 H.

Ayahanda beliau adalah seorang Ulama, tokoh masyarakat yang merupakan salah seorang pendiri dayah Darul ‘Atiq Jeunib. Juga pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Jeunib, Aceh Utara. Sedang sang Ibunda adalah seorang guru agama di pesantren Jeunib.

Masa-masa kecil Abu Aziz lebih banyak dilaluinya di Jeunieb, Desa Ibundanya. Setelah beranjak dewasa, beliau menikah dengan perempuan yang bernama Tgk Hj. Fatimah, putri dari seorang Ulama yang bernama Tgk H. Hanafiah atau lebih dikenal dengan sebutan Tgk di Ribee. Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai lima orang anak.

Latar Belakang Pendidikannya

Abu Aziz Samalanga menempuh pendidikan sekolah umum di Sekolah Rakyat (SR) selama tujuh tahun dan menamatkannya ditahun 1945, disaat itu beliau juga belajar di dayah Ayahnya yakni Dayah Darul ‘Atiq Jeunib.

Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya selama dua tahun di Dayah Mesjid Raya Samalanga yang saat itu dipimpin oleh Tgk. H. Muhammad Hanafiah. Setelahnya beliau melanjutkan  pendidikannya  ke dayah Matang Kuli yang dipimpin oleh Tgk. Ben (Tgk Tanjungan) pada tahun 1948. Di dayah ini beliau belajar pada seorang guru yang bernama Tgk. Idris Tanjungan sampai dengan tahun 1949.

Kemudian beliau pun kembali  ke pesantren Mesjid Raya Samalanga, lalu mengabdi disana menjadi seorang guru.

Namun karena ketidak puasan beliau terhadap ilmu pengetahuan yang masih secuil pada dirinya, beliau memutuskan untuk kembali merantau mencari ilmu, dengan berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji yang dipimpin oleh seorang Ulama Kharismatik Yang Tersohor, Abuya Syekh Mudawaly Al-Khalidy. Di dayah ini Abu Aziz Samalanga mendami ilmu mantiq, tasawuf, nahu-sharaf, ilmu kalam, ilmu hadits, tafsir, ilmu ma’ani, balaghah dan lain-lain.

Kiprahnya Dalam Dunia Pendidikan

Setelah menetap di dayah Darussalam Labuhan haji selama 8 tahun, kemudian Abu Aziz pulang kembali ke tanah kelahirannya Samalanga pada tahun 1958. Mertuanya yang memimpin pesantren Mesjid Raya Samalanga pun meninggal dunia pada tahun itu. Oleh karenanya, Abu Aziz kemudian segera menjadi pimpinan di pesantren tersebut.

Semenjak berada dibawah pimpinan beliau, pesantren tersebut mengalami banyak perkembangan, dan perubahan-perubahan pun terjadi. Terutama menyangkut dengan kurikulum pendidikan yang semula hanya bermaterikan kitab-kitab arab (tradisional) kemudian disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Seperti penambahan ilmu Bahasa inggris dan beberapa bidang ilmu pengetahuan umum lainnya (modern). Sehingga kurikulum yang digunakan di pesantren ini nyaris sama dengan kurikulum di sekolah MAN pada masa sekarang ini. Dayah Mesjid Raya pun semakin lama semakin maju dan semakin banyak santri yang berdatangan untuk belajar di dayah ini.

Dalam memimpin dan membina murid-muridnya, Abu Aziz Samalanga berupaya dengan semaksimal mungkin agar mereka semua kelak dapat menjadi Ulama-ulama yang mandiri, berkualitas dan sanggup menghadapi tantangan zaman. Banyak santri-santrinya yang kelak menjadi Ulama dan membangun dayah di daerah masing-masing.

Meskipun Abu Aziz Samalanga tidak pernah menduduki jabatan di pemerintahan, namun beliau selalu memberi dukungan terhadap berbagai kebijakan pemerintah selama tidak bertentangan dengan  ajaran Islam.

Bahkan dalam hal-hal tertentu beliau mendukungnya seperti pembangunan sekolah-sekolah umum, berlakunya asas tunggal terhadap setiap organisasi politik dan lain sebagainya. Karena inilah beliau selalu menjalin persahabatan dengan pejabat di pemerintahan, bahkan murid-muridnya juga banyak yang menjadi pejabat pemerintah.

Akhir Hayatnya

Setelah mencapai usia lebih kurang 59 tahun, Abu Aziz Samalanga meninggal dunia. Tepatnya pada tanggal 15 April 1989 M, bertepatan dengan Jumadil Akhir 1409 H, dan dimakamkan di tanah kelahirannya Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Saat ini Kabupaten Bireun).

Semoga Allah SWT menerima segala amalannya, mengampuni segala dosanya, dan menempatkan beliau disisi-Nya bersama para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam. Wallahua’lambisshawab!

[Referensi: Disarikan dari “Biografi Ulama Aceh Abad XX”, Jilid II Cet. ke-II, ditulis oleh Drs. Shabri A. dkk]

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Thursday, January 16, 2020

Kenal Ulama: Teungku Abu Bakar Aceh, Ulama Produktif Asal Aceh

January 16, 2020 0

Ulama Nusantara | Beliau bernama lengkap Prof. Dr. Tgk. H. Abu Bakar bin Tgk. H. Abdurrahman. Ayahnya berasal dari Peureumbeu, Aceh Barat, sedangkan ibunya bernama Hj. Naim, berasal dari Peulanggahan, Banda Aceh. Teungku Abu Bakar Aceh lahir dari keluarga Ulama di Peureumbeu, Aceh Barat pada tanggal 7 Rabiul Akhir 1327 H atau bertepatan dengan 28 April 1909 M. (Biografi Ulama Aceh Abad 19, Jilid 2, Cet. ke-2)

Beliau memiliki dua orang istri, dari istri pertama yang bernama Suwarni beliau dikarunian enam orang anak, sedangkan dari istrinya yang kedua tidak mempunyai anak.

Pendidikannya

Masa kecilnya lebih banyak dihabiskannya dengan belajar membaca Al-Quran pada orang tuanya ketimbang menghabiskan waktu dengan bermain. Disamping itu beliau juga memperdalam ilmu agama lainnya dari beberapa Teungku (Kiyai) di Desanya.

Semenjak kecil bakatnya sudah mulai menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Oleh karena itu ia juga sempat memperdalam ilmu agama pada Teungku H. Abdussalam Meuraxa dan di Dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di desa Peulanggahan, Banda Aceh, setelah lulus dari Volkschool di Meulaboh.

Setelah mempelajari ilmu agama di Dayah-dayah di Aceh, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool Islamiyah di Sumatera Barat. Kemudian Teungku Abu Bakar Aceh berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu lainnya, khususnya dalam bidang ilmu Bahasa.

Cakrawalanya semakin terbuka semenjak berada di Jakarta. Disana beliau berinteraksi dengan berbagai orang serta bersentuhan dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau sangat menyadari bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, mestilah menguasai Bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Karena itulah beliau memutuskan untuk mendalami berbagai Bahasa asing selama berada di Jakarta, melalui kursus-kursus yang ada disana kala itu. Sehingga akhirnya beliau dapat menguasai beberapa Bahasa asing seperti Arab, Inggris dan Belanda.

Teungku Abu Bakar Aceh masih sangat haus akan ilmu pengetahuan, sehingga beliau pun berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah sekaligus melaksanakan Ibadah Haji ke Baitullah Yang Mulia. Selama di Mekkah dan Madinah, beliau mengikuti orang tuanya dan sempat berkenalan dengan dengan beberapa Ulama besar disana dan mempelajari ilmu dari mereka.

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Pengetahuannya yang luas dalam bidang ilmu agama Islam sebisa mungkin diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Teungku Abu Bakar Aceh pernah menjabat sebagai Departemen Agama Republik Indonesia dan hingga akhir hayatnya beliau menetap di Jakarta.

Sebelum menetap di Jakarta, beliau sempat terlebih dulu tinggal beberapa lama di Yogyakarta dalam rangka menjalani tugas sebagai pegawai Depag dan menimba ilmu pengetahuan disana. Dikarenakan dirinya yang berwibawa besar dan memiliki ilmu agama yang luas, beliau menjadi pemimpin masyarakat Aceh di Yogyakarta kala itu dan menjadi tempat bertanya seputar agama dan juga masalah lainnya.

Teungku Abu Bakar Aceh adalah Ulama yang produktif, hal ini bisa kita lihat dari berbagai karya tulisnya yang beliau sumbangkan untuk ummat dimasa yang akan datang. Diantara karya-karya beliau adalah:

Sejarah Al-Quranul Karim
Sejarah Mesjid
Sejarah Ka’bah
Riwayat Hidup Nabi Muhammad
Teknik Khutbah
Islam dan Kemerdekaan Beragama
Pengantar Ilmu Tarekat
Ibnu ‘Arabi Tokoh Tasawuf dan Filsafat Agama
Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf
Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Madzhab
Perjuangan Wanita Islam
Ahlussunnah Wal-Jama’ah
Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia
Ilmu Ketuhanan
Pendidikan Sufi
Islam Sumber Jihad dan Ijtihad
Syiah Rasionalisme dalam Islam
Tarekat dalam Tasawuf
Wasiat Ibn Arabi
dan lain-lain.

Suri tauladan yang baik yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta sikap kepekaannya dalam berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat telah membuatnya menjadi orang yang dicintai oleh rakyat.

Dalam Setiap konflik, beliau juga selalu muncul sebagai salah seorang penengah yang bijak. Oleh karenanya, pemerintah daerah pernah mengundang beliau untuk menjadi penengah dalam penyelesaian “Peristiwa Aceh” tahun 1953.

Akhir Hayat

Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya maut. Teungku Abu Bakar Aceh rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 27 Muharram 1400 H, bertepatan dengan 17 Desember 1979.

Beliau meninggal dunia setelah beberapa waktu lamanya menderita sakit. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta pada keesokan harinya, yakni 18 Desember 1979.

Demikian biografi singkat Ulama Nusantara asal Aceh yang dikagumi oleh Presiden Soekarno terkait keluasan ilmu pengetahuannya, yang kemudian Sang Presiden pertama RI tersebut  membubuhkan nama “Atjeh/Aceh” diujung nama Teungku Abu Bakar sehingga terkenallah beliau dengan sebutan “Teungku Haji Abu Bakar Aceh”. Sekian, semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Tuesday, January 14, 2020

Kenal Ulama: Abu Hasan Krueng Kalee, Ulama Sufi Sekaligus Pakar Ilmu Falak Asal Aceh

January 14, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Hasan Krueng Kalee adalah salah seorang Ulama kharismatik Aceh, Tokoh Ulama Sufi sekaligus Pakar Ilmu Falakiyah, yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Aceh. Beliau memiliki nama lengkap Teungku Muhammad Hasan bin Teungku Muhammad Hanafiyah.

Abu Hasan Krueng kalee lahir pada tanggal 13 Rajjab 1303 H/18 April 1886 M, di desa Meunasah Letembu, Langgoe Kabupaten Pidie. Saat itu ayah beliau yang merupakan pimpinan dayah Krueng Kalee sedang dalam pengungsian di daerah tersebut akibat perang dengan Belanda yang berkecamuk di wilayah Aceh Besar.

Pendidikan Abu Hasan Krueng Kalee

Setelah situasi mulai sedikit tenang, Muhammad Hasan kecil dibawa kembali oleh orang tuanya ke kampung halaman mereka di Krueng Kalee. Di sanalah perjalanan keilmuannya dimulai di bawah asuhan sang ayah, Tgk. Muhammad Hanafiyah yang lebih dikenal dengan panggilan Teungku Haji Muda. Selain itu ia juga belajar agama di Dayah Tgk. Chik di Keubok pada Tgk. Musannif yang menjadi guru pertama setelah ayahnya sendiri.

Ketika beranjak dewasa, Abu Hasan Krueng Kalee melanjutkan pendidikannya ke Malaysia, tepatnya di Negeri Yan, Kedah. Beliau berguru kepada Salah seorang Ulama Aceh yang turut mengungsi kesana akibat situasi perang, yakni Tgk. Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu.

Selanjutnya beliau berangkat ke Mekkah bersama dengan adik kandungnya, Tgk. Abdul Wahhab untuk melaksanakan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Namun setiba mereka di sana, adiknya tersebut meninggal dunia karena sakit.

Akan tetapi Hal tersebut tidak membuat Abu hasan patah semangat, ia tetap sabar dan teguh melanjutkan pendidikannya, belajar kepada para ulama besar Mesjid al-Haram hingga lebih kurang 7 tahun lamanya.

Selain belajar ilmu agama pada umumnya, ia juga mendalami ilmu falak dari seorang pensiunan jenderal kejaaan Turki Ustmani yang menetap di Mekkah. Hingga kemudian membuatnya ahli dalam bidang Falakiyah dan digelar dengan sebutan “Tgk. Muhammad Hasan Al-Asyie Al-Falaky.”

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Sepulangnya dari Mekkah, Abu Hasan Krueng Kalee tidak langsung pulang ke Aceh, namun beliau terlebih dahulu menyempatkan diri tuk singgah di Pesantren gurunya Tgk. M. Irsyad Ie Leubeu di Kedah. Di pesantren ini Abu Krueng Kalee sempat mengajar beberapa tahun dan kemudian dijodohkan oleh gurunya dengan seorang gadis yatim yang juga keturunan Aceh bernama Nyak Safiah binti Husein.

Lalu Abu Hasan berangkat ke Meunasah Baro untuk mengajar di dayah pamannya, Tgk. Muhammad Sa’id. Tak lama kemudian beliau membuka pesantren sendiri di meunasah blang yang sekarang terletak di desa Siem bersebelahan dengan desa Krueng Kalee, Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Di Dayahnya inilah beliau mengabdikan segala ilmu yang telah diperolehnya hingga akhirnya berhasil mencetak kader-kader ulama yang berpengaruh dan berpencar ke seluruh Aceh. Seperti misalnya Tgk. H. Abdul Rasyid Samlako, Tgk. H. Sayid Sulaiman, Tgk. H. Mahmud Blang Bladeh, Tgk. H. Idris Lamreung, dan banyak lagi lainnya.

Abu  Hasan Krueng Kalee memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan agama di Aceh pada masa berikutnya. Begitu pula dengan kiprahnya dalam bidang politik yang telah memberi arti penting, dukungan dan semangat bagi kelangsungan Republik Indonesia yang ketika itu baru seumur jagung.

Kiprahnya Dalam Dunia Politik

Meskipun Abu Krueng Kalee seorang Ulama Sufi terkemuka di Aceh, namun beliau tetap berusaha untuk terjun dalam dunia politik. Misalanya dalam upaya untuk mengusir penjajah Belanda, beliau membentuk laskar mujahidin yang beranggotakan para santri dan masyarakat untuk mengusir kolonial Belanda dari tanah Serambi Mekkah.

Beliau juga memberikan dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia ketika itu dengan menerbitkan “Maklumat Ulama Seluruh Aceh” pada tanggal 15 oktober 1945.

Maklumat tersebut berisikan tentang fatwa bahwa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah sama halnya dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil/Jihad Fii Sabilillah, dan merupakan lanjutan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan Alm. Tgk. Chik Di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya.

Keluarnya Maklumat Ulama seluruh Aceh ini sangat memberi dampak positif bagi pemeritah baru RI saat itu dan munculnya semangat dukungan fisik dan materil dari rakyat Aceh untuk membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh beserta segenap rakyatnya adalah modal utama bagi kemerdekaan RI.”

Sekitar tahun lima puluhan, Abu Hasan Krueng Kalee beserta beberapa tokoh lainnya memprakarsai lahirnya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) di Aceh, kemduian beliau memimpin organisasi ini hingga tahun 1968.

Kiprah beliau dalam dunia politik terus berlanjut hingga pernah diangkat menjadi Dewan Konstituante pasca pemilu 1955 mewakili PERTI. Beliau Juga terus Istiqamah memberikan ilmu-ilmunya kepada masyarakat melaui konsultasi dan pengajian-pengajian.

Karyanya dalam Bidang Tasawuf

Abu Hasan Krueng Kalee Terkenal juga dengan Kesufiannya, beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan sekaligus mengembangkan Thariqat al-Haddadiyah di Aceh, hal ini sesuai dengan keterangan yang dijelaskan dalam sanad thariqat.

Guna menyebarkan Thariqat tersebut, beliau menuliskan sebuah kitab panduan dalam Ilmu pengamalan thariqat al-Haddadiyah yang bernama “Risalah Lathifah Fi Adab adz-Dzikr wa al-Tahlil wa Kaifiyatu Tilawah al-Shamadiyah ‘ala Thariqat Quthb al-Irsyad habib Abdullah al-Haddad”.

Akhir Hayat

Abu Hasan Krueng kale rahimahullah meninggal dunia Pada malam Jum’at sekitar pukul 3 dini hari tanggal 19 Januari 1973. Beliau meninggalkan tiga orang istri, yakni Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem, Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong.

Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee Meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putri. Salah seorangnya yaitu Tgk. H. Syech Marhaban yang sempat menjabat Mentri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Demikian sekilas sejarah dan Biografi singkat Abu Hasan Krueng Kalee, Seorang Ulama Sufi Nusantara yang sangat terkenal. Ahli Ilmu Falak yang berasal dari Tanah Rencong. Semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Monday, January 13, 2020

Sirah Sahabat: Mu’adz bin Jabal, Sahabat yang Dikenal Sangat Memahami Hukum Islam

January 13, 2020 0

Sirah Sahabat | Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat yang terkemuka Rasululloh SAW. yang terkenal dengan kecerdasan dan keberaniannya, dan dinyatakan “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”. Siapakah beliau? Berikut kami sajikan biografinya.

Ia adalah Muadz bin jabal RA, seorang pemuda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat, Perhatian dengan sikap dan ketenangannya.
Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya.

Muadz bin jabal RA memiliki kelebihan dan keitstimewaan yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Ketika Rasulullah SAW hendak memerintahkan Muadz untuk pergi ke negeri Yaman, terlebih dulu ia ditanya oleh Rasululloh, “Apa yang menjadi peganganmu dalam menghakimi sesuatu perkara, hai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Kitabullah (Al-Qur’an)” . Nabi bertanya lagi, “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul,” jawabnya. “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”, tanya Rasulullah. “Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu’adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”.

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih.

Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka.

Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

“Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin Jabal,” tutur A’idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, “Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya.”

Di masa Kahilafah Abu Bakar RA Mu’adz diutus untuk kembali ke Yaman. Dan Umar mengetahui bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu’adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

“Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat”, kata Umar.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar.

Ketika sampai di sana, Mu’adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. “Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satu pun yang akan kuambil darimu,” ujar Abu Bakar.

“Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik,” kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz. Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya.

Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz. Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan.

Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara.”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda.

Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun! Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberikannya langsung.

Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?””Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya. “Setiap kebenaran ada hakikatnya,” kata Nabi pula, “maka apakah hakikat keimananmu?”

“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi.

Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka.”

Maka sabda Rasulullah SAW, “Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”

Menjelang akhir hayatnya, Mu’adz berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.”

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan…” Dan nyawa Mu’adz pun melayanglah menghadap Allah. Subhanallah!

Semoga Kisah ini menjadi khazanah dan ibrah bagi kita, sehingga tiada satu katapun yang tertinggal untuk kita amalkan.

Karena satu kenangan terindah apabila kita meninggalkan jejak langkah yang bermanfaat untuk umat manusia.

Oleh Faisol Abdurrahman, Alumni dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah | Sarjana Komunikasi Islam IAIN Pontianak | Bidang Dakwah dan Kajian Keislaman Ikatan Santri dan Alumni Al-Khaliliyah (Insaniyah).

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Saturday, January 11, 2020

Sirah Sahabat: Tahun Kekeringan di Masa Khalifah Umar bin Khattab

January 11, 2020 0

Sirah Sahabat | Pada tahun 18 Hijriah, terjadi musim kemarau di Madinah Rasulullah, saat itu Sahabat Agung Umar bin Khattab yang menjadi Khalifah Rasulullah serta Amirul Mukminin. Kemarau dan gagal panen itu berlangsung hampir 9 bulan. 

Tahun ini disebut “Aam Ramadah” (Tahun Berabu), karena musim kemarau dan kering melanda Madinah, angin kencang meniup debu-debu sehingga langit dan pemukiman tertutup debu hitam. Ada juga yang mengatakan kenapa disebut Aam Ramadah karena pada tahun itu banyak manusia dan ternak serta tumbuhan yang mati. Secara dalam bahasa Arab “ramadah” juga berarti mati atau hancur.

Tahun itu benar-benar musibah luar biasa, sampai binatang buas saja tidak mampu memangsa hewan lain saking lemahnya, bahkan kalau ada yang menyembelih ternak tak akan mau dimakan, karena ternak sudah sangat kurus, melihatnya saja menjijikkan.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab menyurati semua Gubernurnya meminta bantuan, beliau menyurati Gubernur Mesir, Sahabat Amr bin Ash meminta bantuan, beberapa hari kemudian Amr bin Ash membalas surat itu.

“Bismillahirrahmanirrahim, kepada Hamba Allah Amirul Mukminin dari Amr bin Ash. Salamalaik. Aku memuji Allah dan berharap anda selalu baik-baik saja, La ilaha Illallah. Bantuan akan segera datang, tunggulah. Aku akan mengirim bantuan yang akan dibawa oleh unta, dimana unta pertama di depan pintu Madinah dan terakhir di pintuku, dan aku usahakan juga mengirimnya lewat kapal laut”. 

Sahabat Amr bin Ash mengirim 1.000 unta yang membawa gandum, dan mengirim 20 kapal laut berisi pakaian serta kebutuhan makanan lainnya dari Mesir ke Madinah.

Amirul Mukminin menyurati Gubernur Damascus, sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan, beliau juga menyurati Gubernur Yaman dan wilayah kekuasaannya yang lain. Semua Gubernur itu mengirim bantuan.

Ketika bantuan datang, Umar sendiri turun tangan menurunkan barang-barang dan membawanya ke rumah-rumah masyarakat yang sedang kelaparan. Sekali jalan beliau membawa dua karung gandum di atas pundaknya dan minyak samin di tangannya, diantar ke setiap rumah. Beberapa sahabat yang melihat itu menangis melihat Amirul Mukminin memikul karung gandum. Tidak hanya itu, kalau ada rumah yang isinya anak yatim kecil, beliau malah memasak makanan untuk mereka setelah itu baru pergi ke tempat lainnya.

Sahabat Abdullah bin Umar mengatakan bahwa pada tahun itu, sahabat Umar bin Khattab melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukannnya. Setiap malam setelah shalat isya bersama masyarakat, beliau pulang ke rumah dan shalat sunnah, smapai tengah malam, setelah itu beliau keluar rumah menuju lereng gunung, disana beliau bersimpuh dan berdoa, “Ya Allah…janganlah Engkau hancurkan umat Muhammad di tanganku, saat aku memimpin mereka…”, terus saja doa itu diulang-ulang setiap malam sambil menangis.

Kebanyang nggak orang yang kalau lewat gang A, setan-setan kabur nggak berani lewat gang A, nyari gang lain karena mereka takut sama orang itu, itulah Umar bin Khattab, setan saja kabur melihat beliau, nah orang seperti itu menangis, merengek-rengek pada Allah.

Suatu hari, saking capeknya Amirul Mukminin ketiduran di masjid Rasulullah, tiba-tiba terdengar suara orang teriak, “Umar! Umar!”, beliau terkejut dan mencari arah suara, orang-orang yang hadir disitu memperingatkan pemilik suara, “Itu Amirul Mukminin!”. Amirul Mukminin bangun dan mendekati laki-laki itu, “Siapa yang menyakitimu?”, beliau mengira laki-laki itu terzalimi. “Kami kelaparan”. Kata laki-laki itu. Amirul Mukminin memegang kepalanya, dan menunduk, “Umar! Umar! kok bisa-bisanya kamu itu kenyang, sedangkan umat Islam kelaparan!”. Akhirnya beliau mengirimkan makanan ke kampung laki-laki itu.

Para sahabat Rasulullah mengatakan, “Kalau saja Allah tidak tidak mengangkat musibah itu, mungkin Umar sudah meninggal karena kesedihannya memikirkan nasib umat Islam”.

Suatu ketika pada tahun Aam Ramadah, Amirul Mukminin mendapat kiriman roti gandum bercampur daging dan minyak samin, salah satu makanan istimewa. Beliau mengajak seorang laki-laki badui yang lewat untuk makan bersamanya, mereka berdua makan dengan lahap, tetapi laki-laki badui itu lebih lahap, 

“Sepertinya kamu suka sekali pada daging dan minyak samin?”, kata Umar. “Ya, saya tidak makan daging dan minyak samin ini sejak sekian lama, bahkan tak pernah melihat orang makan itu, ini pertama sejak sekian lama….”. Jawab laki-laki itu sambil makan. Sepertinya dia juga tidak tahu kalau sedang makan bersama Amirul Mukimin yang menguasai hampir seluruh wilayah Timur Tengah hari ini! Sejak itu, Umar bin Khattab bersumpah tidak akan makan daging dan minyak samin sebelum Madinah subur kembali.

Selama Aam Ramadah, perut Umar sering kali bersuara, karena beliau hanya makan minyak, terkadang beliau memegang perutnya saat bersuara dan berkata, “Teriak-teriak saja sepuasmu, tak ada lain yang akan kamu makan, selama umat Islam masih kelaparan!”. Selama Aam Ramadah, muka Amirul Mukminin berubah hitam, karena hanya makan minyak.

Suatu hari, ada penyembelihan unta, hati unta dan daging pahanya dibuat bubur dan disajikan kepada Amirul Mukminin, “Dari mana ini?”, “Ini yang kita sembelih hari ini”, kata pembantunya. “Bagus..Bagus…aku akan jadi pemimpin paling buruk kalau aku makan begini, sedangkan umat Islam kelaparan! Ambil makanan biasa”. Kata Umar pada pembantunya, makanan biasa ya roti gandum keras dan minyak. “Oia, sudah beberapa hari aku tidak berkunjung ke si Fulan, bungkus itu makanan untuk mereka, pasti mereka butuh”.

Suatu hari, ada susu dan keju di pasar, ketika belanja pembantu Amirul Mukminin membeli susu dan keju itu seharga 40 dirham. Ketika sampai di rumah dia mengatakan pada Amirul Mukminin, “wahai Amirul Mukminin, doa anda terkabulkan, aku melihat susu dan keju di pasar, akupun membelinya untuk anda, harganya 40 dirham”.

“Mahal sekali harganya, pasti masyarakat tak mampu membeli, ambil dan sedekahkan itu susu dan keju, aku tidak mau makan makanan mahal-mahal saat ini. Bagaimana aku bisa cinta dan perhatian pada rakyat kalau aku tidak pernah merasakan kepedihan mereka”.

Selama Aam Ramadah, sayyidina Umar tidak pernah makan di rumah bersama anak-anaknya atau istrinya saja, selalu makan bersama masyarakat.

Suatu hari, Amirul Mukminin berpidato di atas mimbar rasulullah, beliau berkata, “Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian pada Allah, sesungguhnya kita semua sedang diuji Allah, entah Allah murka padaku karena aku menjadi pemimpin kalian, entah Allah sedang murka pada kita semua. Mari kita semua berdoa, semoga Allah membersihkan hati kita semua, dan semoga Allah merahmati kita dengan segera mengangkat musibah ini…”, pada hari itu, Umar mengangkat tangannya berdoa, sambil menangis dan umat Islam yang hadirpun menangis bersama beliau.

Saat hujan tak kunjung datang, Umar berdoa, “Ya Allah, aku sudah lelah, usahaku sudah habis, Engkau lebih tahu bagaimana nasib hamba-Mu…”. Selama Aam Ramadah, paling banyak dilakukan Amirul Mukminin adalah bersitighfar, beristighfar dan beristighfar.

10 tahun menjadi Khalifah, Umar bin Khattab banyak meninggalkan kisah-kisah indah dan teladan bagi pemimpin setelahnya, makanya tidak aneh kalau cucunya, Umar bin Abdul Aziz puluhan tahun kemudian mengeluarkan perintah pertama setelah dilantik menjadi Khalifah , "Kumpulkan semua kisah tentang Umar bin Khattab, aku ingin meneladaninya".

Oleh Ustad Saifannur (Saief Alemdar)
Read More

Friday, January 10, 2020

Kenal Ulama: Al Hafzih Ibnu Hajar Al Asqalani, Ahli Hadits Termasyhur Sepanjang Zaman

January 10, 2020 0

Tokoh Ulama | Pada akhir abad kedelapan hijriah dan pertengahan abad kesembilan hijriah termasuk masa keemasan para ulama dan terbesar bagi perkembangan madrasah, perpustakaan dan halaqah ilmu, walaupun terjadi keguncangan sosial politik. Hal ini karena para penguasa dikala itu memberikan perhatian besar dengan mengembangkan madrasah-madrasah, perpustakaan dan memotivasi ulama serta mendukung mereka dengan harta dan jabatan kedudukan. Semua ini menjadi sebab berlombanya para ulama dalam menyebarkan ilmu dengan pengajaran dan menulis karya ilmiah dalam beragam bidang keilmuan. Pada masa demikian ini muncullah seorang ulama besar yang namanya harum hingga kini Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, tepatnya 12 Sya’ban tahun 773H. Berikut biografi singkat beliau:

Nama dan Nashab

Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Asqalani Al-Mishri. (Lihat Nazhm Al-‘Uqiyaan Fi A’yaan Al-A’yaan, karya As-Suyuthi hal 45)

Gelar dan Kunyah Beliau

Beliau seorang ulama besar madzhab Syafi’i, digelari dengan ketua para qadhi, syaikhul islam, hafizh Al-Muthlaq (seorang hafizh secara mutlak), amirul mukminin dalam bidang hadist dan dijuluki syihabuddin dengan nama pangilan (kunyah-nya) adalah Abu Al-Fadhl. Beliau juga dikenal dengan nama Abul Hasan Ali dan lebih terkenal dengan nama Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi’i. Guru beliau, Burhanuddin Ibrahim Al-Abnasi memberinya nama At-Taufiq dan sang penjaga tahqiq.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan tanggal 12 Sya’ban tahun 773 Hijriah dipinggiran sungai Nil di Mesir kuno. Tempat tersebut dekat dengan Dar An-Nuhas dekat masjid Al-Jadid. (Lihat Adh-Dahu’ Al-Laami’ karya imam As-Sakhaawi 2/36 no. 104 dan Al-badr At-Thaali’ karya Asy-Syaukani 1/87 no. 51).

Sifat beliau

Ibnu Hajar adalah seorang yang mempunyai tinggi badan sedang berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. Dia adalah seorang yang pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya, bercita-cita tinggi, kurus badannya, fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, pintar bersyair dan menjadi pemimpin dimasanya.

Pertumbuhan dan belajarnya

Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim, ayah beliau meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Ayah beliau meninggal pada bulam rajab 777 H. setelah berhaji dan mengunjungi Baitulmaqdis dan tinggal di dua tempat tersebut. Waktu itu Ibnu Hajar ikut bersama ayahnya. Setelah ayahnya meninggal beliau ikut dan diasuh oleh Az-Zaki Al-Kharubi (kakak tertua ibnu Hajar) sampai sang pengasuh meninggal. Hal itu karena sebelum meninggal, sang ayah berwasiat kepada anak tertuanya yaitu saudagar kaya bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad Al-Kharubi (wafat tahun 787 H.) untuk menanggung dan membantu adik-adiknya. Begitu juga sang ayah berwasiat kepada syaikh Syamsuddin Ibnu Al-Qaththan (wafat tahun 813 H.) karena kedekatannya dengan Ibnu Hajar kecil.

Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu yang menjaga iffah (menjaga diri dari dosa), sangat berhati-hati, dan mandiri dibawah kepengasuhan kedua orang tersebut. Zaakiyuddin Abu Bakar Al-Kharubi memberikan perhatian yang luar biasa dalam memelihara dan memperhatikan serta mengajari beliau. Dia selalu membawa Ibnu Hajar ketika mengunjungi dan tinggal di Makkah hingga ia meninggal dunia tahun 787 H.

Pada usia lima tahun Ibnu Hajar masuk Al-Maktab (semacam TPA sekarang) untuk menghafal Alquran, di sana ada seorang guru yang bernama Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy. Akan tetapi, ibnu Hajar belum berhasil menghafal Alquran sampai beliau diajar oleh seorang ahli fakih dan pengajar sejati yaitu Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al Muqri’. Kepada beliau ini lah akhirnya ibnu Hajar dapat mengkhatamkan hafalan Alqurannya ketika berumur sembilan tahun.

Ketika Ibnu Hajar berumur 12 tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Ketika sang pengasuh berhaji pada tahun 784 H. Ibnu Hajar menyertainya sampai tahun 786 H. hingga kembali bersama Al-Kharubi ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir pada tahun 786 H. Ibnu Hajar benAr-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga ia hafal beberapa kitab-kitab induk seperti Al-‘Umdah Al-Ahkaam karya Abdulghani Al-Maqdisi, Al-Alfiyah fi Ulum Al-Hadits karya guru beliau Al-Haafizh Al-Iraqi, Al-Haawi Ash-Shaghi karya Al-Qazwinir, Mukhtashar ibnu Al-Haajib fi Al-Ushul dan Mulhatu Al-I’rob serta yang lainnya.

Pertama kali ia diberikan kesenangan meneliti kitab-kitab sejarah (tarikh) lalu banyak hafal nama-nama perawi dan keadaannya. Kemudian meneliti bidang sastra Arab dari tahun 792 H. dan menjadi pakar dalam syair.

Kemudian diberi kesenangan menuntut hadits dan dimulai sejak tahun 793 H. namun beliau belum konsentrasi penuh dalam ilmu ini kecuali pada tahun 796 H. Diwaktu itulah beliau konsentrasi penuh untuk mencari hadits dan ilmunya.

Saat ketidakpuasan dengan apa yang didapatkan akhirnya Ibnu Hajar bertemu dengan Al-Hafizh Al-Iraqi yaitu seorang syaikh besar yang terkenal sebagai ahli fikih, orang yang paling tahu tentang madzhab Syafi’i. Disamping itu ia seorang yang sempurna dalam penguasaan tafsir, hadist dan bahasa Arab. Ibnu Hajar menyertai sang guru selama sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam dan yang lainnya. Ditangan syaikh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin Al-Iraqi untuk mengajarkan hadits. Sang guru memberikan gelar Ibnu Hajar dengan Al-Hafizh dan sangat dimuliakannya. Adapun setelah sang guru meninggal dia belajar dengan guru kedua yaitu Nuruddin Al-Haitsami, ada juga guru lain beliau yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, ia memberi saran untuk perlu juga mempelajari fikih karena orang akan membutuhkan ilmu itu dan menurut prediksinya ulama didaerah tersebut akan habis sehingga Ibnu Hajar amat diperlukan.

Imam Ibnu Hajar juga melakukan rihlah (perjalanan tholabul ilmi) ke negeri Syam, Hijaz dan Yaman dan ilmunya matang dalam usia muda himgga mayoritas ulama dizaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar.

Beliau mengajar di Markaz Ilmiah yang banyak diantaranya mengajar tafsir di Al-madrasah Al-Husainiyah dan Al-Manshuriyah, mengajar hadits di Madaaris Al-Babrisiyah, Az-Zainiyah dan Asy-Syaikhuniyah dan lainnya. Membuka majlis Tasmi’ Al-hadits di Al-Mahmudiyah serta mengajarkan fikih di Al-Muayyudiyah dan selainnya.

Beliau juga memegang masyikhakh (semacam kepala para Syeikh) di Al-Madrasah Al-Baibrisiyah dan madrasah lainnya (Lihat Ad-Dhau’ Al-Laami’ 2/39).

Para Guru Beliau

Al-Hafizh Ibnu Hajar sangat memperhatikan para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:

Al-Mu’jam Al-Muassis lil Mu’jam Al-Mufahris.
Al-Mu’jam Al-Mufahris.
Imam As-Sakhaawi membagi guru beliau menjadi tiga klasifikasi:

Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun hanya satu hadits
Guru yang memberikan ijazah kepada beliau
Guru yang beliau ambil ilmunya secara mudzkarah atau mendengar darinya khutbah atau karya ilmiahnya.
Guru beliau mencapai lebih dari 640an orang, sedangkan Ibnu Khalil Ad-Dimasyqi dalam kitab Jumaan Ad-Durar membagi para guru beliau dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang.

Dalam kesempatan ini kami hanya menyampaikan beberapa saja dari mereka  yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan beliau agar tidak terlalu panjang biografi beliau ini.

Diantara para guru beliau tersebut adalah:

Bidang keilmuan Al-Qira’aat (ilmu Alquran):

Syeikh Ibrahim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwaan At-Tanukhi Al-Ba’li Ad-Dimasyqi (wafat tahun 800 H.) dikenal dengan Burhanuddin Asy-Syaami. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian Alquran, kitab Asy-Syathibiyah, Shahih Al-Bukhari dan sebagian musnad dan Juz Al-Hadits. Syeikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.

Bidang ilmu Fikih:

Syeikh Abu Hafsh Sirajuddin Umar bin Ruslaan bin Nushair bin Shalih Al-Kinaani Al-‘Asqalani Al-Bulqini  Al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, haafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiah, diantaranya: Mahaasin Al-Ish-thilaah Fi Al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala Ar-Raudhah serta lainnya.

Syeikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah Al-Anshari Al-Andalusi Al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu Al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: Al-I’laam Bi Fawaa`id ‘Umdah Al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) dan Takhrij ahaadits Ar-Raafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan Syarah Shahih Al-Bukhari dalam 20 jilid.

Burhanuddin Abu Muhammad Ibrahim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnaasi  (725-782 ).

Bidang ilmu Ushul Al-Fikih :

Syeikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah Al-Kinaani Al-Hamwi Al-Mishri (Wafat tahun 819 H.) dikenal dengan Ibnu Jama’ah seorang faqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar Mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H. sampai 819 H.

Bidang ilmu Sastra Arab :

Majduddin Abu Thaahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar  Asy-Syairazi Al-Fairuzabadi (729-827 H.). seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazaaq Al-Ghumaari 9720 -802 H.).

Bidang hadits dan ilmunya:

Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrahim Al-Mahraani Al-Iraqi (725-806 H. ).
Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaimanbin Abu Bakar bin Umar bin Shalih Al-Haitsami (735 -807 H.).

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, guru-guru Ibnu Hajar, antara lain:

Al-Iraqi, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
Al-Haitsami, seorang yang paling hafal tentang matan-matan.
Al-Ghimari, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab.
A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
Al-Ghifari, seorang yang hebat hafalannya.
Al-Abnasi, seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
Al-Izzu bin Jamaah, seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
At-Tanukhi, seorang yang terkenal dengan qira’atnya dan ketinggian sanadnya dalam qira’at.

Murid Beliau

Kedudukan dan ilmu beliau yang sangat luas dan dalam tentunya menjadi perhatian para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka berlomba-lomba mengarungi lautan dan daratan untuk dapat mengambil ilmu dari sang ulama ini. Oleh karena itu tercatat lebih dari lima ratus murid beliau sebagaimana disampaikan murid beliau imam As-Sakhawi.

Diantara murid beliau yang terkenal adalah:

Syeikh Ibrahim bin Ali bin Asy-Syeikh bin Burhanuddin bin Zhahiirah Al-Makki Asy-Syafi’i (wafat tahun 891 H.).
Syeikh Ahmad bin Utsmaan bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karmaani Al-hanafi (wafat tahun 835 H.) dikenal dengan Syihabuddin Abul Fathi Al-Kalutaani seorang Muhaddits.
Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan Al-Anshari Al-Khazraji (wafat tahun 875 H.) yang dikenal dengan Al-Hijaazi.
Zakariya bin Muhammad bin Zakariya Al-Anshari wafat tahun 926 H.
Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsmaan As-Sakhaawi Asy-Syafi’i wafat tahun 902 H.
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd Al-Hasyimi Al-‘Alawi Al-Makki  wafat tahun 871 H.
Burhanuddin Al-Baqa’i, penulis kitab Nuzhum Ad-Dhurar fi Tanasub Al-Ayi wa As-Suwar.
Ibnu Al-Haidhari.
At-Tafi bin Fahd Al-Makki.
Al-Kamal bin Al-Hamam Al-Hanafi.
Qasim bin Quthlubugha.
Ibnu Taghri Bardi, penulis kitab Al-Manhal Ash-Shafi.
Ibnu Quzni.
Abul Fadhl bin Asy-Syihnah.
Al-Muhib Al-Bakri.
Ibnu Ash-Shairafi.
Menjadi Qadhi

Wafatnya

Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar jatuh sakit dirumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jamadal Akhir tahun 852 H. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika ia sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.” Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla’. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadhi bolak balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Imam As-Sakhaawi berkata, “Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakit tha’un telah muncul.  Kemudian pada malam sabtu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 852 H. berselang dua jam setelah shalat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.”

Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang nonmuslim pun ikut meratapi kematian beliau. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung. Semua para pembesar dan pejabat kerajaan saat itu datang melayat dan bersama masyarakat yang banyak sekali menshalatkan jenazah beliau. Diperkirakan orang yang menshalatkan beliau lebih dari 50.000 orang dan Amirul Mukminin khalifah Al-Abbasiah mempersilahkan Al-Bulqini untuk menyalati Ibnu Hajar di Ar-Ramilah di luar kota Kairo. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Al-Qarafah Ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani Al-Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam Syafi’i dengan Syaikh Muslim As-Silmi.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Al-Hafizh As-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya, namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”

Al-Iraqi berkata, “Ia adalah syaikh, yang alim, yang sempurna, yang mulia, yang seorang muhhadits (ahli hadist), yang banyak memberikan manfaat, yang agung, seorang Al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin Asy-Syaikh, Al-Imam, Al-Alim, Al-Auhad, Al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh, yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai Al-Muwafaqat dan Al-Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dhaif, yang banyak menemui para ahli hadits,dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek.” Dan masih banyak lagi Ulama yang memuji dia, dengan kepandaian Ibnu Hajar.

Karya Ilmiah Beliau

Al-Haafizh ibnu Hajar telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya dengan lisan, amalan dan tulisan. Beliau telah memberikan jasa besar bagi perkembangan beraneka ragam bidang keilmuan untuk umat ini.

Murid beliau yang ternama imam As-Sakhaawi dalam kitab Ad-Dhiya’ Al-Laami’ menjelaskan bahwa karya tulis beliau mencapai lebih dari 150 karya, sedangkan dalam kitab Al-Jawaahir wad-Durar disampaikan lebih dari 270 karya.

Tulisan-tulisan Ibnu Hajar, antara lain:

Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
Taghliq At-Ta’liq.
At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
Taqrib At-Tahdzib.
Tahdzib At-Tahdzib.
Lisan Al-Mizan.
Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

Referensi:
Muqaddimah kitab an-Nukaat ‘Ala ibni ash-Shalaah oleh Syeikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
Muqaddimah kitab Subul As-Salaam


Oleh Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.

Artikel ini telah tayang di KisahMuslim.com
Read More