2020 - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Friday, February 14, 2020

Kenal Ulama: Imam al Mawardi, Imuwan Muslim Peletak Dasar Ilmu Politik Islam

February 14, 2020 0

Tokoh Ulama | Imam al Mawardi, ialah sang pemikir ulung terkait konsep kenegaraan dan hukum yang pernah ada. Bahkan pemikiran beliau dibidang politik tertuang banyak dalam karya besarnya yang salah satunya berjudul al ahkaam al Shultoniyah (Hukum dan Prinsip kekuasaan) sekaligus menjadi masterpiece-nya yang sempat diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Abu al Hasan Ali bin Habib al Mawardi, atau yang sering disebut dengan nama Imam al Mawardi. Beliau lahir di kota pusat peradaban Islam Klasik (Baghdad) pada tahun 386 H/975 M. Dalam menempuh pendidikan pertamanya, beliau tetap menjadikan tanah kelahirannya sebagai tempat belajar terutama pada ilmu hukum dari (ahli hukum yang bermazhabkan Imam Asy Syafi’i).

Usai itu, beliau berpindah ke Baghdad dalam menuntut ilmu-ilmu lainnya seperti tata bahasa dan kesusastraan dari Abdullah al Bafi dan Syaikh Abdul Hamid al Isfrani. Sebagai penuntut ilmu yang memang memiliki kecerdasan yang luar biasa, tentu membuat al Mawardi menguasai berbagai disiplin ilmu dalam waktu yang singkat.

Dari kepiawaiannya inilah mengantarkan beliau pada kedudukan penting diantara sarjana sarjana muslim pada waktu itu. Bahkan beliau mendapatkan pengakuan sebagai seorang ahli hukum terbesar di zamannya (dalam pemerintahan Daulah Abbasiyyah).

Sedangkan sumbangsih lainnya, beliau mengemukakan fiqh mazhab Syafi’i dalam karyanya al Hawi yang digunakan sebagai sumber rujukan tentang  Mazhab Syafi’i oleh para ahli hukum.

Saat memasuki tahun 1037 M, Khalifah pada masa itu yakni al Qadir atau yang bernama lengkap Ahmad bin Ishaq bin Al-Muqtadir mengundang empat ahli hukum mewakili keempat mazhab fikih (Mazhab Hanafi, Malik, Syafi’i dan Hanbali). Keempat ahli hukum ini rupanya diminta untuk menulis sebuah buku fikih, dan rupanya al mawardi terpilih dalam menulis buku fikih Mazhab Syafi’i.

Dan setelah selesai perintah sang khalifah, diantara keempat ahli hukum hanya ada dua orang yang memenuhi atas dasar yang diperintah Khalifah. Yakni al Quduri dalam bukunya al Mukhtashor dan al Mawardi dengan kitabnya kitab al igna’.

Tidak sampai disana, kitab yang disusun al Mawardi pada saat itu diperintahkan oleh sang raja untuk kepada para penulis untuk menyalin kitabnya, berhubung kitab dari al Mawardi ini dinilai sebagai kitab terbaik. 

Pemikirannya tentang Seorang Imam (Pemimpin)

Adapun pandangan atau pemikiran Imam al Mawardi terkait seorang Imam (Raja, Presiden ataupun Sultan) maka baginya itu adalah suatu keniscayaan. Artinya sesuatu yang memang sangat dibutuhkan dalam bermasyakarat dan bernegara, karena tanpa seorang Imam tentulah kehidupan bermasyarakat akan mengalami kekacauan dan tak terkontrol.

Mengingat seorang imam adalah seorang pemimpin bagi rakyat rakyatnya, tentulah kepemimpinan ini harus dipegang oleh orang benar benar terpercaya dan dapat mengembang amanah guna membentuk negara yang tata hidup masyarakat didalamnya aman, tenteram damai dan sejahtera.

Maka tak salah jika Imam al Mawardi beranggapan bahwa Imamah (Kepemimpinan) dibentuk untuk menggantikan fungsi kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia.

Memandang hal ini, al Mawardi memiliki beberapa syarat bagi seorang pemimpin yang hendak dipilih,

1. Adil dalam arti yang luas, punya ilmu untuk dapat melakukan ijtihad didalam menghadapi persoalan persoalan dan hukum.
2. Sehat pendengaran mata dan lisannya supaya dapat berurusan langsung dengan tanggung jawabnya.
3. Sehat badan sehingga tidak terhalang untuk melakukan gerakan dan melangkah cepat.
4. Pandai dalam mengendalikan urusan rakyat dan kemashalahatan umum.
5. Berani dan tegas membela rakyat dan menghadapi musuh, dan keturunan quraish.
6. Selain itu, beliau pun menentapkan 3 syarat yang perlu dimiliki oleh seorang pemilih imam, yakni
7. Kredibilitas pribadinya atau keseimbangan (al ‘Adalah) memenuhi semua kriteria.
8. Mempunyai ilmu sehingga tahu siapa yang berhak dan pantas memangku jabatan kepala negara dengan syarat syaratnya,
9. Dan memiliki pendapat yang kuat dan hikmah yang membuatnya dapat memilih siapa yang paling pantas untuk memangku jabatan kepala negara dan siapa yang paling mampu dan pandai dalam membuat kebijakan yang dapat mewujudkan kemashalahatan umat.

Sedangkan masalah pemecatan seorang pemimpin, beliau menyebutkan dua alasan yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam pemecatan seorang pemimpin yaitu

Pertama, cacat akibat keadilannya dan itu karena syahwat ataupun karena syubhat
Kedua, cacat tubuh seperti hilang ingatan secara permanen dan hilang pengliatan. Selain itu cacat organ tubuh dan cacat tindakan. Adapun cacat yang tidak menghalanginya untuk dipilih atau diangkat menjadi seorang pemimpin ialah, seperti cacat hidung yang mengakibatkannya tidak mampu lagi mencium bau sesuatu dan cacat alat perasa seperti tidak lagi bisa membedakan rasa makanan.

Pemikirannya tentang konsep Jihad

Dalam konsep ini, al Mawardi tidak hanya beranggapna bahwa jihad yang dimaksud agama adalah jihad dalam memerangi orang orang kafir, melainkan mereka yang beragama Islam sekalipun yang dibaginya atas tiga bagian, diantaranya:

1. Jihad melawan orang orang murtad, bagi al mawardi orang orang murtad yang dimaksud dibagi atas dua kondisi, yakni mereka yang berdomisili negara Islam dan tidak memiliki wilayah otonom dan mereka yang memiliki wilayah otonom dan berada diluar wilayah Islam.
2. Jihad melawan para pemberontak yaitu Jihad dalam melawan pemberontak yang merupakan salah satu kelompok kaum muslimin kemudian menentang pendapat dari jamaah kaum muslimin dan menganut pendapat mereka sendiri.
Dan yang terakhir ialah Jihad dalam melawan para pengacau keamanan.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Saturday, February 8, 2020

Kenal Ulama: Al Khawarizmi, Matematikawan Muslim Penemu Angka Nol

February 08, 2020 0

Tokoh Ulama | Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia matematika, tentu kerap kali kita akan dipertemukan dengan deretan angka angka dan rumus matematika, dan tentu angka nol salah satu angka yang paling rajin muncul diberbagai lembaran matematika sekalipun nilainya adalah nol. Namun siapa sangka? Rupanya si pencetus dari angka tersebut adalah al Khawarizmi sang Matematikawan Muslim.

Dialah yang bernama lengkap Muhammad bin Musa al Khawarizmi atau yang dikenal pula dengan nama Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff. Sedangkan di dunia barat beliau dikenal dengan nama al Cowarizmi, al Karismi, al Goritmi dan sebutan lainnya.

Sedangkan waktu kapan beliau lahir beberapa sumber mengalami perbedaan pendapat, diantaranya ada yang mengatakan beliau lahir sekitar awal pertengahan abad ke 9 M, adapula yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 194 H/780 M di Uzbekistan dan wafat pada tahun 266 H/850 M.

Beliau hidup pada masa Khalifah al Ma’mun yang dimana pada waktu itu, Khalifah al Ma’mun adalah seroang khalifah yang sangat disenangi oleh para ilmuwan yang salah satunya oleh al Khawarizmi. Maka tak heran jikalau al Khawarizmi termasuk dalam salah satu anggota Baitul Hikmah Baghdad yang memang langsung didanai oleh Khalifah Dinasti Abbasiyah untuk melakukan penelitian terkait keilmuwan.

Selain itu, beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa beliau merupakan satu satunya ahli astronomi yang diikutsertakan dalam proyek pimpinan al Ma’mun untuk mengukur panjang satu derajat lingkar bumi sepanjang satu busur.

Sedangkan jika kita menoleh pada karya-karya tulisnya yang mencakup tentang keilmuwan, diantaranya ialah Kitab al Jabr w’ al Muqabalah (The book of restoring and balancing) buku ini merupakan titik awal aljabar dalam dunia Islam.

Selain itu Kitab al Tam wa’l Tafriq bi Hisab al Hid (Book of Addition and Subtraction by the method of calculation) karya ini dikenal sebagai pelajaran pertama yang ditulis dengan menggunakan sistem bilangan decimal serta merupakan titik awal pengembangan matematika dan sains.

Kontribusi al Khawarizmi dalam Bidang Ilmu

Dalam matematika sendiri, beliau kerap kali dijuluki sebagai bapak Aljabar atau bapak ilmu pengetahuan Aljabar. Sekalipun konsep Aljabar telah ada sebelum al Khawarizmi mengembangkan teori tersebut menjadi teori yang lebih kompleks.

Adapun dalam beberapa sumber terselip nama Diophantus dari Yunani yang dipercaya sebagai penemu aljabar sekalipun belum dinamakan aljabar pada waktu itu, yang dimana teori Diaphontus sendiri lebih cenderung menggunakan aljabar untuk aplikasi teori teori bilangan.

Selain itu, beliau juga dikenal dengan teori algoritmanya dan sebagai orang yang memperkenalkan angka nol (0) dan menggunakannya sebagai basis baru dalam perhitungan.

Dari angka nol inilah kemudian orang orang barat menggunakan angka tersebut sekitaran dua abad kemudian. Tentu tidak bisa kita bayangkan tentang bagaimana jadinya dunia matematika itu tanpa angka nol bukan?

Sedangkan dalam dunia astronomi beliau berhasil membuat tabel khusus dalam pengelompokan ilmu perbintangan, maka tak heran jikalau beliau sempat mencoba untuk membuat ramalan tentang masa hidup Baginda Nabi Saw., melalui ilmu astronominya itu terlebih pada kepiawaiannya dalam dunia perbintangan.

Pandangan Para Ilmuwan

Sebagai orang hebat dibidang keilmuwan tentu Al Khawarizmi memiliki penilaian yang baik dimata para ilmuwan. Seperti dalam kacamata George Sarton (Seorang ahli kimia dan sejarawan Amerika yang berkelahiran Belgia) mengatakan bahwa Al Khawarizmi merupakan ilmuwan muslim terbesar dan terbaik sampai sampai menggolongkan periode antara abad ke 4 dan 5 M sebagai Zaman al Khawarizmi.

Sedangkan dalam pandangan David Eugene Smith (seorang ahli matematika, pendidik dan editor Amerika) dan Karpinski menggambarkan al Khawarizmi sebagai salah satu tokoh besar pada masa keemasan Baghdad, salah satu penulis muslim yang mampu menggabungkan antara ilmu matematika klasik barat dan timur serta sebagai tokoh peneliti yang sangat berkontribusi dalam perkembangan ilmu aljabar dan aritmatika.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Thursday, February 6, 2020

Kenal Ulama: Al Battani, Ahli Astronomi Muslim Penemu Jumlah Hari

February 06, 2020 0

Tokoh Ulama | Al Battani atau jika di barat yang disebut dengan nama Albategnius atau Albagteni, sedangkan nama lengkap beliau ialah Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan ar Raqqi al Harranni as Sabi’ al Battani. Ilmuwan Muslim satu ini lahir di Battan, Harran (Suriah) sekitar tahun 858 M.

Selain itu, keluarganya merupakan penganut sekte Sabbian yang menyembah Bintang, akan tetapi al Battani memilih untuk tidak ikut dengan pemahaman keluarganya itu melainkan memilih untuk memeluk Agama Islam.

Sedangkan jika kita berbicara terkait ketertarikan beliau dalam dunia Astronomi, itu tidak lain karena kecintaannya dengan benda benda langit yang kemudian dirinya terdorong untuk menekuni dunia astronomi.

Dan yang semakin menguatkan tekadnya dalam mempelajari dunia Astronomi ialah pendidikan dan darah keilmuan yang didapatkan dari sang ayah yang ternyata juga seorang ilmuwan yakni Jabir bin al Battani.

Selain itu, beliau hidup pada masa kejayaan ilmu Astronomi Arab dan masa ditemukannya berbagai penemuan ilmiah di Arab dalam bidang ini.

Namun sayangnya terkait guru dan masa pendidikan beliau tidak banyak dimuat dalam buku buku sejarah, paling tidak Ali bin Isa al Asthurlabi dan Yahya bin Abu Manshur yang merupakan ilmuwan muslim yang hidup pada masanya waktu itu memberikan kita kemungkinan bahwa Al Battani sempat berguru pada salah satunya, atau berguru pada sebagian muridnya.

Sedangkan menurut Ibnu al Nadim (Penulis dan seorang Ilmuwan muslim) dalam bukunya “Al Fihrist”  dijelaskan bahwasanya Al Battani baru memulai perjalanannya dalam dunia Astronomi sejak tahun 264 H/878 M.

Selain itu dikatakan pula bahwa beliau sempat membuat teropong bintang yang disebut dengan “Teropong al Battani” di kota Anthakiyyah (Utara Suriah).

Selain itu, beliau tahu banyak tentang dunia astronomi dari buku buku astronomi yang telah banyak terbit pada masanya, terutama buku Almagest karangan Ptolomeus, yang dimana beliau pernah melontarkan komentar dan kritikannya pada buku tersebut.

Selain Harran yang merupakan tempat kelahiran dan tempat belajarnya, beliau pun menjadikan Kota Raqqah (terletak di tepi Sungai Eufrat) sebagai tempat berbagai penelitian.

Hingga pada akhirnya dia menemukan berbagai penemuan cemerlang yang salah satunya menggunakan prinsip trigonometri, tepatnya ketika saat melakukan observasi astronomi di observatorium yang dibangun khalifah Makmun al Rasyid, Khalifah Dinasti Abbasyiah.

Bahkan karena Al Battani pada waktu itu sangat berjasa terhadap perkembangan astronomi, rupanya mendorong khalifah Makmun al Rasyid membangun sejumlah Istana di kota tersebut. Hingga pada akhirnya kota Raqqah tersebut menjadi pusat kegiatan baik pada ilmu pengetahuan maupun perniagaan yang cukup amat ramai.

Pandangan Ilmuwan lain

Di mata ilmuwan barat nama Al Battani sangat di hormati, bahkan beberapa pakar mengakui kehebatan al Battani yang beberapa diantaranya ialah pakar Astronomi.

Edmund Halley mengakui ketelitian al Battani dalam mengamati bintang bintang, begitupun dengan pakar sejarah George Sarton yang sangat mengagumi Al Battani sebagai Astronom terkemuka Arab.

Maka tak heran jikalau para ilmuwan barat turut mengapresiasi kehebatan beliau dengan mengabadikan namannya sebagai nama dari salah satu lembah di bulan.

Sebagaimana juga yang disebutkan dalam Ensiklopedia Marcmillan  yang berisi ilmu Astronomi (Macmillan Dictionary of Astronomy) bahwa Al Battani merupakan salah satu astronom terkemuka sepanjang sejarah.

Sedangkan dalam buku Al Fihrist milik Ibnu Nadim dikatakan bahwa Al Battani-lah yang merupakan ahli astronomi yang memberikan gambaran akurat terkait bulan dan matahari.

Adapun seorang pemikir Islam berkebangsaan India. Sayyid Amir Ali dalam bukunya “Ruhul Islam” dikatakan bahwa “Tabel astronomi yang dibuatnya dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin telah menjadi kaidah ilmu astronomi di Eropa selama berabad abad. Meskipun begitu, Al Battani lebih dikenal dalam sejarah ilmu matematika karena beliaulah yang pertama kali memasukkan sinus dan sinus sempurna sebagai ganti dari angka ganjil dalam ilmu hitung astronomi dan ilmu hitung trigonometri”

Kontribusi al Battani dalam dunia Astronomi

Mungkin yang sempat membuat kita bertanya tanya ialah apa sebenarnya pemikiran dari al Battani yang cukup terkenal dan mendapatkan pengakuan dunia? Dan jawabannya ialah pemikiran beliau terkait lamanya bumi mengelilingi matahari.

Berdasarkan perhitungannya beliau menyatakan bahwa lamanya bumi mengelilingi pusat tata surya tersebut dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

Adapun alat Gnom yang diciptakan oleh al Battani ternyata merupakan jalan bagi para ilmuwan untuk menciptakan satu persamaan waktu atau jam yang kita kenal saat ini.

Tidak hanya itu, beliau juga sukses membuat daftar label sinus, kosinus, tangen, dan kotangen dari 0 derajat dan 90 derajat secara cermat. Dimana tabel itu dengan tepat ia terapkan dalam operasi aljabar dan trigonometri untuk segitiga sferis, dan beliau pun juga menemuka sejumlah persamaan trigonometri.

Sedangkan jikalau kita merujuk pada karya karya beliau, maka buku yang terkenal darinya tentang astronomi ialah kitab al Zij. Buku ini diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa yang diantaranya bahasa latin pada abad ke 21, dengan judul De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli dan ke dalam bahasa Spanyol yang muncul pada abad ke 13 M.

Selain itu, hadir pula beberapa buku lainnya seperti yang membahas tentang Ilmu Falak (Ilmu tentang lintasan benda benda langit) seperti kitab Ma’rifat Matali Al Buruj Fi ma Bayna Arba’ al Falak, Risalah fi Tahqiq Akdar al Ittishalat, dan Syath al Maqalat Al Arba’ li Batlamius. Dan karya karyanya inilah yang cukup berpengaruh  bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa hingga datangnya masa pencerahan.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Monday, February 3, 2020

Kenal Ulama: Biografi Singkat Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf

February 03, 2020 0

Ulama Nusantara | Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf, beliau adalah seorang Habib kelahiran Solo 20 September 1961. Beliau merupakan putra dari Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf seorang yang alim nan tawadhu’.

Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf sedari kecil dulu sudah terbiasa menguras samudra keilmuan dari guru terbesarnya yang tidak lain adalah ayahnya. Ayah Habib Syekh memiliki 16 putra, dan Habib Syekh lah salah satunya.

Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf mengenyam pendidikannya tidak dengan bermukim disuatu pondok, namun ia belajar secara istiqamah di masjid Assegaf, Wiropaten, Pasar kliwon Solo. Setelah ba’da maghrib menjelang isya. Beliau selalu mengabdi dengan merawat masjid pada usia-usia SD nya, mulai dari menyapu, mengepel dan membersihkan masjid.

Ayahnya bukanlah seorang yang terkenal dan juga masyhur, namun sang ayah adalah orang yang sangat mencintai masjid. Dalam keadaan apapun Habib Abdul Qadir selalu berusaha untuk mengimami. Hingga pada akhir usianya, beliau diwafatkan oleh Allah dalam keadaan bersujud pada saat shalat jum’at terahir, wafat dalam keadaan yang sangat mulia, yang di impi-impikan oleh hampir seluruh kaum muslimin.

Setelah ayahnya wafat, Habib Syekh dibimbing oleh paman beliau yaitu Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang berasal dari Hadramaut. Beliau membimbing Habib Syekh bukan dengan hal yang lazim dilakukan oleh seorang guru kepada murid.

Pasalnya beliau membimbing Habib Syekh dengan cara mencaci, dan menyalahkan Habib Syekh padahal dia tidak melakukan kesalahan, bahkan hal itu hampir membuat Habib Syekh tidak kuat. Namun pada akhirnya Habib Syekh tahu bahwa itu merupakan suatu pendidikan untuk membentuk mental yang kuat terhadap dirinya.

Selain pamannya, Habib Syekh juga mendapatkan pendidikan dan perhatian oleh Habib Muhammad Anis bin Alwy Al-Habsyi seorang yang Arifbillah ia merupakan imam masjid Riyadh dan pemegang maqom al Habsyi.

Dari guru-gurunya itulah ia mempelajari islam yang ramah, yang penuh dengan cinta hingga sampai sekarang dakwah-dakwahnya bertajukan dakwah Mahabaturrasul. Dengan selalu melantunkan sholawat dan qasidah-qasidah yang membuat pendengarnya merasakan ketenangan dan kebahagiaan juga menambah cinta dengan Rasulullah.

Habib Syekh merupakan seorang yang istiqamah terbukti dari masjlisnya yang berdiri sejak tahun 1998 hingga sampai sekarang masih tetap eksis yaitu Majlis Ahbabul Mustafa yang dalam rutinannya diikuti oleh ribuan masyarakat.

Sebelumnya majlis Ahbabul Mustafa didirikian majlis ini berupa majlis Rotibul Hadad, Burdah dan maulid simtut duror yang berada di kampung Metodranan kota Solo. Adapun rutinan dari majlis Ahbabul Mustafa yaitu:

Setiap Malam Sabtu Kliwon di Purwodadi tepatnya Masjid Agung Makmur Purwodadi Setiap Malam Rabu Pahing di Kudus tepatnya Halaman Masjid Agung Kudus Setiap Malam Sabtu Legi Jepara di Halaman Masjid Agung Jepara Setiap Malam Minggu Pahing di Sragen tepatnya Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen Setiap Malam Jumat Pahing di Jogja tepatnya Halaman PP Minhajuttamyiz, Timoho di belakang Kampus UIN Sunan Kalijaga Setiap Malam Minggu Legi di Solo tepatnya Halaman Masjid Agung Surakarta.

Sudah banyak sekali shalawat dan qasidah-qasidah yang dibawakan oleh Habib syekh dan juga sudah banyak album-album rekaman yang dapat diakses melalui kaset maupun lewat kanal youtube.

Dalam pembawaannya, Habib Syekh menggunakan rebana sebagai pengiring shalwatnya, dan hal itu lebih sering pada saat acara live, sedangkan jika pada rekaman-rekaman beliau lebih sering menggunakan alat musik modern dan dipadukan dengan rebana. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus berdakwah dengan cara lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Oleh Lukman Hakim Hidayat, Alumni Al-Iman Islamic Boarding School Purworejo
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Saturday, February 1, 2020

Kenal Ulama: Ibnu Miskawaih, Sang Pelopor Filsafat Etika

February 01, 2020 0

Tokoh Ulama | Ibnu Miskawaih, dialah salah satu cendekiawan Muslim yang cukup terkenal dengan berbagai pemikiran filsafatnya. Namun yang membuat namanya melejit di kalangan masyarakat ialah tentang filsafat etika atau rumusan rumusan darinya terkait dasar-dasar etika yang banyak dijelaskan beliau dalam beberapa kitabnya, terutama pada kitabnya yang berjudul Tahzhib al akhlaq.

Dialah Abu Ali al Kasim Ahmad bin Yaqub bin Miskawaih, beliau lahir di Rayy pada 330 H, namun beberapa sumber lainnya mengatakan bahwa beliau lahir di tahun 320 H dan wafat pada tahun 421 H. Selain itu, beliau hidup pada masa pemerintahan Dinasti Buwaihiyah (320-450 H).

Jika berbicara tentang pendidikan beliau, rupanya tidak banyak dijelaskan dalam catatan sejarah ataupun pada bacaan tentang biografinya. Namun paling tidak, diketahui bahwa beliau sangat memusatkan perhatiannya pada sejarah dan filsafat akhlak atau etika.

Dimana gurunya dalam bidang sejarah terutama pada Tarikh Ath Thabari ialah Abu Bakr Ahmad bin Kamil al Qadi, sedangkan di bidang filsafat beliau berguru pada Ibnu al Khammar. Adapun beliau mengkaji kimia bersama dengan Abu Ath Thayyib ar Razi.

Sepanjang hidupnya, beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang filsof, melainkan sebagai seorang bendaharawan, pustakawan sebagaimana beliau pernah belajar sebagai pustakawan dengan sejumlah Wazir dan Amir Bani Buwaihi, ahli bahasa dan termasuk seorang tokoh yang cukup produktif dalam dunia tulis menulis.

Sebagaimana beberapa buku dan artikelnya yang tentu tidak luput dari kepentingan pendidikan akhlak (Tahzib al Akhlak). Diantara karyanya ialah

Al Fauz al Akbar (tentang keberhasilan besar)
al Fauz al Asghar (tentang keberhasilan kecil)
Tajarib al Umam (tentang pengalaman bangsa bangsa sejak awal sampai ke masa hidupnya)
Uns al Farid (Kumpulan Syair, peribahasan dan kata kata mutiara)
Tartib as Sa’adah (tentang akhlak dan politik)
al Musthafa (Syair syair pilihan)
as Siyar (tentang aturan hidup)
al jawab fi al masa’il as Salas (jawaban tentang tiga masalah)

Filsafat Ibnu Miskawaih dalam kitab Tahzib al Akhlaq

Seperti para filsof sebelumnya, tentu mereka dikenal dengan beberapa sumbangsi mereka terhadap corak pemikiran yang cukup berpengaruh terutama dalam dunia filsafat. Dan diantara pemikiran beliau dalam kitab Tahzib al Akhlaq.

Dalam kitab ini, beliau sempat memaparkan beberapa point penting dalam pemikiranya di dunia filsafat. Paling tidak, kitab ini memperlihatkan tentang bagaimana kita dapat memperoleh watak-watak yang lurus untuk menjalankan tindakan yang secara moral benar  terorganisasi dan tersistem.

Selain itu, beliau juga mengangkat sifat dasar jiwa sebagai dasar agumentasinya. Dijelaskannya bahwa jiwa adalah subtansi ruhani yang kekal dan tidak hancur dengan kematian jasad. Sehingga kebahagiaan dan kesengaraan yang dialami usai kematian hanya akan dirasakan oleh jiwa.

Adapun yang lainnya, beliau juga beranggapan bahwa dengan jiwa, kita sebagai manusia berbeda dengan binatang. Dengan jiwa, kita berbeda dengan manusia lainnya. Dengan jiwa, kita bisa memanfaatkan badan dan bagian bagiannya. Serta dengan jiwa, pula kita bisa menjalin hubungan dengan alam wujud yang lebih spritual dan lebih tinggi.

Kemudian bagian utama dari etika itu pun dimunculkan pada bab ketiga dari kitab ini. Sebelumnya dari konsep inilah, beliau sempat tersoroti oleh filsuf lainnya, terlebih bagi mereka yang merupakan filsuf Islam.

Dan ini lagi lagi karena sebagai Umat Islam, Akhlak atau etika memang menjadi kajian utama bagi umat Islam itu sendiri, mengingat Rasulullah Saw., diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana Hadits dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam– bersabda:

 “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Dari sinilah Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa etika atau akhlak merupakan sikap mental, yang dimana sikap mental itu sendiri terbagi atas dua bagian. Yakni ada yang berasal dari watak dan ada yang berasal dari kebiasaan atau latihan.

Etika atau akhlak yang berasal dari watak dinilai sangat jarang menghasilkan akhlak yang terpuji, sebaliknya akhlak yang berasal dari kebiasaan atau latihan akan cenderung menghasilkan akhlak yang terpuji. Itulah mengapa beliau sangat menekankan pentingnya pendidikan demi membentuk akhlak yang baik.

Adapun masalah pokok yang dibicarakan beliau dalam kajian akhlak ialah meliputi Kebaikan (al Khair), kebahagiaan (al as’adah), dan keutamaan (al Fadhilah). Dari sini Ibnu Miskawaih mencoba untuk mengkorelasikan antara dua pandangan filsuf sebelumnya yakni Plato dan Aristoteles.

Dimana Plato dan beberapa tokoh lainnya beranggapan bahwa kebahagiaan yang mampu dialami oleh jiwa, oleh karenanya manusia yang masih bersama dengan jasadnya tak akan mengalami kebahagiaan.

Lain halnya dengan Aristoteles yang beranggapan bahwa kebahagaiaan dapat dinikmati di dunia walaupun jiwanya masih terkait dengan badannya.

Maka dalam mengkorelasikan dua anggapan yang saling bersebarangan seperti diatas, maka Ibnu Miskawaih beranggapan bahwa kebahagiaan meliputi antara badan dan jiwa, hanya saja kebahagiaan badan lebih rendah tingkatannya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa.

Adapun pada bab lain dari kitab ini ialah membahas tentang cinta. Cinta bagi Ibnu Miskawaih terbagi atas dua bentuk, yakni cinta kepada Tuhan yang tentu hanya orang orang yang terpilihlah dapat meraih cinta jenis ini.

Adapun cinta jenis kedua yakni cinta murid kepada guru bisa disetarakan antara cinta anak kepada orang tua. Dari cinta inilah beliau merasa bahwa cinta seorang murid kepada guru termasuk lebih mulia dan pemurah dikarenakan dengan gurulah mampu mengajarkan roh kita dan dengan petunjuk mereka kita memperoleh kebahagiaan sejati.

Itulah sepintas tentang Ibnu Miskawaih, semoga bermanfaat!

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Friday, January 31, 2020

Sirah Sahabat: Sayidina Ali bin Abi Thalib, Sahabat Sekaligus Menantu Rasulullah

January 31, 2020 0

Sirah Sahabat |  Ali bin Abi Thalib,  atau yang bernama lengkap Abu Hasan al Husein Ali bin Thalib bin Abdi Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Firh bin Malik bin  An Nadhar bin Kinanah. Sedangkan nasab dari ibunya ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay.

Adapun sang ibunda rupanya sempat masuk Islam sebelum wafat. Dan hal ini dapat dilihat ketika sang Ibunda ikut hijrah bersama Rasulullah Saw., ke Madinah hingga menghembuskan nafas terakhir. Bahkan Rasulullah Saw., sendiri yang menshalatkan jenazahnya, memimpin pemakamannya, ikut turun ke kuburnya, memakaikan kepadanya gamis beliau seraya berkata

“Wanita ini merupakan makhluk Allah yang memperlakukan saya paling baik setelah Abu Thalib”

Sedangkan jika berbicara tentang sang kakek yaitu Abdul Muthalib, beliau merupakan pembesar Quraisy dan tokoh yang disegani serta ditaati oleh kaumnya. Selain itu, beliau (Abdul Muthalib) juga merupakan seseorang yang mengurus Ka’bah bahkan senantiasa berdoa untuk menyelamatkannya ketika pasukan Abrahah hendak menghancurkan Ka’bah dengan bala tentaranya.

Ciri fisik dan sifat Ali bin Thalib

Beberapa sumber menjelaskan bahwa beliau sering menggunakan kopiah Mesir berwarna putih, mengenakan cincin di tangan kiri yang bertuliskan Allah al Mulk, wajahnya tampan, memiliki leher yang panjang, memiliki gigi yang bagus. Sedangkan ketika beliau berjalan, maka tubuhnya bergoyang layaknya cara Rasulullah Saw., berjalan.

Adapun dari segi sifat, beliau mewarisi sifat sifat terpuji dari ayah dan kakeknya. Selain itu, beliau pun tumbuh dan menyerap akhlak akhlak terpuji dari Rasulullah Saw., mengingat beliau memang tumbuh dalam didikan Rasulullah Saw.,

Selain itu, Beliau juga dikenal dengan keahliannya dalam berduel, bahkan orang orang sering menggambarkannya sebagai lelaki sempurna. Dan hal ini dikarenakan ketika beliau  berperang dan melawan musuh, tentu beliau tidak pernah kalah. Bahkan dalam beberapa kesempatan ketika ikut berperang bersama Rasulullah Saw., beliau selalu tampil sebagai jagoan Quraisy dan tentunya selalu mengalahkan para musuh.

Mengenal Istri dan anak Ali bin Abi Thalib

Sama halnya dengan Rasulullah Saw., Ali bin Abi Thalib tidak menikah sebelum Fatimah r.a., meninggal dunia. Sedangkan dari pernikahannya dengan Fatimah r.a., beliau dikarunia beberapa orang anak yakni Hasan, Husein. Sedangkan beberapa riwayat menambahkan bahwa putra ketiganya bernama Muhasin yang meninggal saat masih bayi.  Adapun dua orang putri yakni Zaenab al Kubra dan Ummu Kultsum yang dinikahi oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Dan setelah fatimah Wafat, barulah Ali bin Thalib menikah dengan beberapa perempuan yang diantaranya:

Ummul Banin Binti Hizam, yang darinya beliau dikaruniai empat orang anak yakni al Abbas, Ja’far, Abdullah dan Utsman.

Laila bin Mas’ud bin Khalid bin Malik, yang darinya beliau dikaruniai dua orang anak yakni Ubaidullah dan Abu Bakar.

Asma’ binti ‘Umais al Khats’amiyyah, yang dikaruniai dua orang anak yakni Yahya dan Aun, sebagaimana menurut al Waqidi.

Ummu Habib binti Rabi’ah bin Bujair bin al Abdi bin Alqamah, yang darinya beliau dikarunia dua orang anak yakni Umar dan Ruqayyah.

Ummu Sa’ad binti Urwah bin Mas’ud ats Tsaqafi, darinya beliau dikaruniai dua orang anak yakni Ummul Hasan dan Ramlah al Kubra.

Binti Amru’ul Qais bin Ady al Kalbiyah, darinya beliau dikaruniai seorang putri yang tidak disebutkan namanya.

Umamah binti Abil Ash bin ar Rabi’, ibunya adalah Zainab binti Rasulullah Saw., bahkan dialah yang diceritakan dalam beberapa catatan sejarah bahwasanya Umamah binti Abil Ash bin ar Rabi’ inilah yang digendong oleh Rasulullah Saw., dalam shalat, saat bangkit beliau menggendongnya dan saat sujud beliau meletakkannya. Darinya Ali memperoleh seorang putera yang bernama Muhammad al-Ausath.

Khaulah binti Ja’far bin Qais, yang darinya beliau dikaruniai seorang putra yang bernama Muhammad Akbar.

Beberapa kisah terkait kepahlawanan seorang Ali dalam perang diantaranya ialah:

Perang Badar

Yakni perang dimana kaum muslimin berada di ujung tanduk, bagaimana tidak? Jika waktu itu, kaum muslimin yang hanya berjumlah ratusan orang harus diperhadapkan dengan musuh jumlahnya mencapai ribuah orang.

Disaat itulah, Rasulullah Saw., menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Ketika kedua kaum yang hendak berperang ini bertemu, maka majulah tiga orang kaum musyrikin diantaranya ialah Uthbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah. Sedangkan dari pihak muslim ialah Ubaidah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib.

Dari ketiga penantang muslim ini yang rupanya menjadi pembuka kemenangan bagi kaum muslimin.

Perang Uhud

Perang ini ditandai dengan kekalahan kaum muslim pada waktu itu yang tidak  mengikuti perintah Rasulullah Saw., dan akhirnya panji Islam pun diserahkan kepada Mush’ab bin Umair, namun ketika Mush’ab bin Umair syahid. Barulah Rasulullah Saw., menyerahkan panji Islam selanjutnya kepada Ali bin Abi Thalib.

Sebagai pemegang panji, Ali ditantang oleh pembawa panji dari kaum musyirikin yang bernama Abu Sa’ad bin Abu talhah. Dari tantangan ini, tentulah Ali tak akan menolak ajakan tersebut.

Keduanya pun saling menyerang dan Ali memukul Abu Sa’ad bin Abu talhah dan membantingnya, kemudian berpaling dari Abu Sa’ad bin Abu talhah karena pada saat itu ia memperlihatkan auratnya.

Perang Khandak

Perang inilah yang semakin melejitkan nama Ali bin Abi Thalib sebagai sang jagoan perang. Dan tentu ini terjadi mengingat tradisi arab yang sebelum perang, mereka mempertemukan para jagoan kedua pihak dan untuk tanding terlebih dahulu, rupanya dari pihak lawan maju seorang kesatria Arab yang sudah snagat tekenal dengan kehebatannya. Yaitu Amr bin Abdi Wud, yang dianggap sebagai seseorang yang setara dengan seribu orang.

Baca Juga:  Kisah Waliyullah, Imam Ja’far Shadiq; Karomah dan Kalam Hikmahnya
Karena kehebatan seorang Amr yang memang sudah dikenal, rupanya Rasulullah Saw., mencoba mengurungkan niat Ali pada waktu itu yang sangat bersemangat untuk melawan Amr. Karena Amr telah memanggil pihak lawan sebanyak tiga kali, maka Ali pun bangkit.

Sebelumnya Amr sempat menasehati Ali untuk tidak melawannya dengan berkata:
“Wahai putra Saudaraku, di antara paman pamanmu ada yang lebih tua darimu. Dan saya tidak ingin mengalirkan darahmu”

Namun dengan kegagahan dan keberaniannya, Ali menimpalinya dan berkata:
“Tapi saya, demi Allah, sangat ingin menumpahkan darahmu!”

Mendengar hal itu, Amr bin Abdi Wud pun turun dari kudanya dan segera menyerang Ali dengan menghunuskan pedangnya hingga merobek temeng kulit Ali bin Abi Thalib. Bukannya menjadi tanda keberhasilan dengan merobek temeng kulit Ali bin Abi Thalib, malah menjadi petaka dikarenakan temeng tersebut tersangkut di pedang Amr dan menimpa kepalanya.

Ali bin Thalib pun memukul urat bahu Amr hingga tersungkur jatuh.

Wafatnya Ali bin Abi Thalib

Diperkirakan bahwa beliau wafat diusia 62 atau 63 tahun yang karena dibunuh oleh Abdrrahman bin Muljam yang berasal dari golongan Khawarij. Sama dengan sahabat sebelumnya, yakni Umar bin Khattab dan utsman bin Affan yang meninggal karena dibunuh.

Dan pembunuhan Ali bin Abi Thalib terjadi di masjid Kufah, dan beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 29 Januari atau 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

Terkait dimana beliau dikebumikan, Berberapa sumber berdalih bahwa beliau dikuburkan secara rahasia di Najaf (salah satu kota di Irak), namun beberapa sumber lain menyatakan bahwa beliau dikubur di tempat lain.

Wallahu A’lam Bissawab …

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Thursday, January 30, 2020

Sirah Sahabat: Hudzaifah Ibnul Yaman, Sahabat Sekaligus Intelnya Rasulullah

January 30, 2020 0

Sirah Sahabat | Dialah Hudzaifah (حذيفة بن اليمان), seorang sahabat yang terkenal dengan julukan Shahibu Sirri Rasullllah (Pemegang Rahasia Rasulullah), karena memang banyak hal rahasia yang Nabi sampaikan hanya pada beliau.

Ia bernama Hudzaifah Ibnul Yaman. Lahir dari keluarga muslim, dan dibesarkan dalam pangkuan kedua orang tuanya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama. Oleh sebab itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah.

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.

Dalam Perang Uhud, ia ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.

Pada pribadi dari Ibnul Yaman ink terdapat tiga keistimewaan yang menonjol:

1). cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit.
2). cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan.
3). cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat. Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah memercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman—dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya.

Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang. Dengan memercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Karena inilah, Ibnul Yaman ini digelari oleh para sahabat dengan Shahibu Sirri Rasulillah (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkanya melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.

“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!” perintah beliau.

Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan takutan dan menahan dingin yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah.”

“Demi Allah, sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa,” tutur Hudzaifah.

Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, “Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!” “Saya siap, ya Rasulullah,” jawab Hudzaifah.

Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

“Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”

Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, “Siapa kamu?”Jawabnya, “Aku si Fulan, anak si Fulan.”

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”

Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka menjawab, “Ada,” Umar turut menyalatkannya.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, “Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?” “Ada seorang,” jawab Hudzaifah.”Tolong tunjukkan kepadaku siapa?” kata Umar. Hudzaifah menjawab, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”

Diceritakan, Umar bin Khattahab sangat penasaran dengan daftar nama orang-orang munafik yang dikantongi Hudzaifah.

Umar pun masih sering bertanya kepada Hudzaifah, tapi tak pernah dijawab. Tujuan Umar ketika bertanya perihal daftar lengkap kaum munafik, bukanlah semata ingin tahu siapa saja mereka. Melainkan Umar hanya ingin tahu, apakah dirinya masuk daftar orang munafik itu.

Subhanallah! Begitu tawaddhunya Umar, dengan keimanannya yang kokoh serta pengorbanannya untuk Islam, ia masih tetap khawatir kalau-kalau dirinya masuk kategori orang munafik dalam penilaian Allah.

Hingga suatu hari, Hudzaifah mau menjawab dengan syarat tidak boleh bertanya lagi. Hudzaifah mengatakan, “Kamu bukan termasuk daftar orang munafik yang disampaikan Rasulullah”. Umar pun merasa lega dan bahagia.

Selain kuat memegang rahasia, Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia.

Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Al-Qur’an, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka, “Pukul berapa sekarang?” Mereka menjawab, “Sudah dekat Subuh.”

Hudzaifah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.” Ia bertanya kembali, “Adakah kalian membawa kafan?” Mereka menjawab, “Ada.”

Ia berkata, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”

Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup.”

Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Wallahu A’lam.
Semoga pribadi dan karakter sang penjaga rahasia Nabi ini menjadi suri tauladan bagi kita sehingga kita bisa teguh pendirian dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.

Oleh Faisol Abdurrahman, Alumni dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah, Sarjana Komunikasi Islam IAIN Pontianak dan Bidang Dakwah dan Kajian Keislaman Ikatan Santri dan Alumni Al-Khaliliyah (Insaniyah).

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Wednesday, January 29, 2020

Sirah Sahabat: Sa’ad bin Abi Waqash, Sahabat Nabi yang Gagah Berani dalam Barisan Pemanah

January 29, 2020 0

Sirah Sahabat | Sa’ad bin Abi Waqash, seorang panglima muslim yang mendapat jaminan surga pada masa Rasulullah SAW. karena eberanian, kekuatan dan kesungguhan imannya.Ia adalah paman Rasulullah SAW dari pihak ibu, Sa’ad bin Abi Waqash.

Ia adalah Sa’ad bin Abi Waqash, salah seorang sahabat sekaligus panglima jendral pasukan Islam dalam perang melawan Persia. Dia juga turut serta dalam peperangan seperti Badar dan Uhud.Di masa khalifah kedua, ia juga dipercayai menjadi panglima pasukan muslimin dalam perang Qadisiyyah dalam menghadapi Sasaniah.

Sa’ad juga diyakini dari kelompok orang orang yang menghidupkan Sunnah Rasul. Ia salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan surga, karena keberanian dan keimanannya yang kuat

Sa’ad bin Abi Waqash adalah paman Rasulullah dari pihak ibu. Wuhaib bin ‘Abdi Manaf adalah kakeknya yang hidup di Bani Zuhrah.Wuhaib adalah kakek Sa’ad. Dia adalah paman Aminah binti Wahab, ibu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang mengenal Sa’ad sebagai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari pihak ibu.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau merasa bangga kepadanya karena keberanian, kekuatan, dan kesungguhan imannya, maka beliau bersabda, “Ini adalah pamanku. Ibunya bernama Humnah putri Abu Sufyan bin Umayyah Abdu Syams.

Sa’ad seseorang dengan postur tubuh yang tidak tinggi dan gemuk, kepalanya besar, rambutnya lebat dengan potongan rambut yang pendek. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan berakhlak baik, terkadang mengenakan mantel bulu dan juga cincin emas di jarinya.

Dalam riwayat Ahlusunnah disebutkan ia memiliki banyak keutamaan diantaranya termasuk dalam ‘Asyarah Mubasyarah, yaitu 10 sahabat yang dijamin masuk surga, doanya terkabul. Ia meriwayatkan sebanyak 271 hadis dari Nabi Muhammad SAW, ikut serta dalam peperangan.

Ia adalah orang pertama yang dikenal menumpahkan darah musuh di jalan Islam yaitu dengan melukai ‘Ubaid bin Harits, dan yang pertama kali pula mendirikan kekuasaan di Kufah. Ia diangkat sebagai gubernur di Kufah oleh Khalifah Umar. Namun karena mendapat protes dan penolakan dari penduduk Kufah, pada tahun 21 H, ia meninggalkan jabatannya sebagai gubernur.

Sa’ad turut ikut serta dalam perang Badar dan Uhud dan juga dalam Perang Khandaq, Perang Khaibar, serta pembebasan Kota Mekah. Pada saat Fathu Mekah, ia adalah salah seorang dari tiga orang yang memegang bendera Kaum Muhajirin. Pada peperangan yang diikutinya beserta Nabi Muhammad SAW, ia tergabung dalam pasukan pemanah.

Menurut riwayat pada masa detik terakhir wafatnya Nabi Muhammad SAW, Sa’ad adalah diantara mereka yang berkumpul di rumah Sayidah Fatimah ra.

Sa’ad makin banyak berperan pada periode kekhalifahan Umar. Ia saat itu diangkat menjadi panglima perang memimpin pasukan Islam dalam perang Qaddasiyah menghadapi Kerajaan Sasanian pada akhir tahun 16 H.

Ia juga diangkat oleh khalifah Umar sebagai salah seorang anggota Dewan Syura yang ditugaskan untuk menetapkan khalifah pengganti. Dari litetarur yang ada, keenam orang yang berada dalam dewan syura adalah tokoh-tokoh penting dan memiliki kelayakan untuk menjadi khalifah.

Mereka adalah
1). Ali bin Abi Thalib
2). Utsman bin Affan
3). Abdurrahman bin ‘Auf
4). Sa’ad bin Abi Waqqash
5). Zubair bin ‘Awwam
6). Thalhah bin Ubaidillah

Pasca khalifah Umar wafat, anggota dewan syura berkumpul. Abu Thalhah al-Anshari berdiri di depan rumah untuk mencegah orang-orang lalu lalang di tempat tersebut. Disebutkan, Amru bin Ash dan Mughairah bin Syu’bah duduk di sisi tempat rapat yang mana kehadiran keduanya diprotes oleh Sa’ad bin Abi Waqash.

Ia berkata, “Apa maksud kalian duduk di tempat ini? Apa hendak mengaku kelak kalian juga adalah bagian dari syura dan turut hadir di dalamnya?”

Dari riwayat tersebut dapat diketahui bahwa betapa penting Sa’ad bin Abi Waqash memandang rapat syura tersebut.

Demkian biografi Sa'ad bin Abi Waqash. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat..

Oleh Faisol Abdurrahman, Alumni dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah, Sarjana Komunikasi Islam IAIN Pontianak,  Bidang Dakwah dan Kajian Keislaman Ikatan Santri dan Alumni Al-Khaliliyah (Insaniyah).

Artikel telah tanyang di Pecihitam.org
Read More

Kenal Ulama: Umar bin Abdul Aziz, Dikenal Sebagai Khulafaur Rasyidin Kelima

January 29, 2020 0

Tokoh Ulama | Sejarah Islam turut diharumi dengan adanya pemimimpin yang saleh dan bijaksana hingga kerap disebut sebagai khulafaur rasyidin kelima. Dialah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah dari Dinasti Bani Umayyah.

Ia bernama Umar bin Abdul Aziz.
Lahir 2 November 682 (26 Safar 63 H) di Madinah. Umar berasal dari Bani Umayyah cabang Marwani. Ayahnya bernama Abdul Aziz bin Marwan dan ibunya bernama Laila binti Asim bin ‘Umar, khalifah rasyid yang kedua.

Menurut tradisi Sunni, keterkaitan silsilah antara ‘Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Umar bin Khattab bermula pada suatu malam di masa ‘Umar bin Khattab. Saat sedang beronda malam, Umar bin Khattab mendengar percakapan antara seorang gadis dan ibunya dari keluarga pedagang susu.

Sang gadis menolak mencampur susu dengan air sebagaimana yang diperintahkan ibunya lantaran terdapat larangan dari khalifah mengenai hal tersebut dan mengatakan bahwa Allah melihat perbuatan mereka meski Umar bin Khattab sendiri tidak mengetahui.

Kagum akan kejujurannya, Umar memerintahkan salah seorang putranya, ‘Ashim, untuk menikahi gadis tersebut. Dari pernikahan ini, lahirlah Laila, ibunda ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

‘Umar bin Abdul Aziz lahir saat kekhalifahan dalam kepemimpinan Bani Sufyani, cabang Bani Umayyah yang merupakan keturunan Abu Sufyan bin Harb. Pada masa Khalifah Yazid, perasaan tidak suka dari penduduk Madinah terhadap Yazid meluas menjadi sentimen anti-Umayyah, sehingga semua anggota Bani Umayyah diusir dari Madinah.

Setelah masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Yazid berakhir pada 684, kendali Umayyah atas kekhalifahan sempat runtuh dan banyak pihak berbalik mendukung Abdullah bin Zubair, khalifah pesaing Umayyah yang berpusat di Mekkah.

Umayyah kembali menguatkan pengaruhnya saat Marwan diangkat menjadi khalifah di Syria. Putra Marwan, Abdul-Malik, ditetapkan sebagai Gubernur Palestina dan putra mahkota, sedangkan putra Marwan yang lain, Abdul ‘Aziz, ditetapkan sebagai Gubernur Mesir dan wakil putra mahkota.

Setelah Marwan mangkat, Abdul Malik menjadi khalifah, sedangkan kedudukan Abdul ‘Aziz naik menjadi putra mahkota sekaligus masih tetap mempertahankan kepemimpinannya atas Mesir sebagai gubernur.

Umar bin Abdul Aziz menghabiskan sebagian masa kecilnya di wilayah kekuasaan ayahnya di Mesir, utamanya di kota Helwan.Meski begitu, dia menerima pendidikan di Madinah yang saat itu kepemimpinan kota tersebut sudah diambil alih kembali oleh pihak Umayyah pada 692. Menghabiskan masa mudanya di sana, Umar menjalin hubungan erat dengan orang-orang saleh dan perawi hadits.

Di penghujung usia, Abdul Malik ingin agar tahta kelak diwariskan kepada putranya, Al-Walid, dan bukan kepada Abdul Aziz. Abdul Aziz menolak menyerahkan kedudukannya sebagai putra mahkota, tetapi perselisihan dapat dihindari lantaran Abdul Aziz wafat lebih dulu dari Abdul Malik.

Abdul Malik kemudian menobatkan Al-Walid sebagai putra mahkota. Selain itu, Abdul Malik memanggil Umar ke Damaskus dan menikahkannya dengan putrinya sendiri, Fatimah.

Al-Walid naik tahta pada 705 setelah ayahnya mangkat. Secara silsilah, Al-Walid dan Umar bin Abdul Aziz adalah sepupu. Melalui pernikahan, mereka berdua adalah saudara ipar. ‘Umar menikah dengan Fatimah, saudari Al-Walid, dan Al-Walid merupakan suami Ummul Banin, saudari ‘Umar.

Salah satu kebijakan Al-Walid adalah mengangkat ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sebagai gubernur Madinah.Di masa sebelumnya, Madinah yang menolak kepemimpinan Umayyah ditundukkan secara paksa oleh pihak Umayyah pada Pertempuran al-Harrah di masa Khalifah Yazid.

Gubernur Madinah sebelumnya, Hisyam bin Ismail al-Makhzumi, dikenal sangat keras dalam memerintah. Penunjukan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dimaksudkan untuk meredam ketegangan antara penduduk Madinah dengan pihak Umayyah dan menjembatani kedua belah pihak.’Umar mulai menjabat pada bulan Februari atau Maret tahun 706 dan wilayah kewenangannya kemudian diperluas ke Makkah dan Tha’if.

‘Umar juga kerap memimpin rombongan haji dan menunjukkan dukungan pada para ulama Madinah, khususnya Said bin al-Musayyib yang merupakan salah satu Tujuh Fuqaha Madinah. Umar tidak membuat keputusan tanpa berdiskusi dengan Said terlebih dahulu,salah satunya adalah masalah perluasan Masjid Nabawi.

Khalifah Al-Walid memerintahkan perluasan masjid yang menjadikan rumah Nabi Muhammad harus turut direnovasi.’Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah sehingga banyak dari mereka yang menangis.

Perkataan Said bin al-Musayyib, “Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui yang sesungguhnya tata cara hidupnya yang sederhana”.

Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dan keluhan-keluhan resmi ke Damaskus (ibukota kekhalifahan saat itu) berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah. ‘Umar juga cenderung longgar dalam menghadapi para ulama yang kerap melayangkan kritik terhadap pemerintahan Umayyah.

Dalam masalah pribadi, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz memiliki gaya hidup yang mewah saat menjadi gubernur.Segala kebijakan yang diambil menjadikan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sebagai pejabat yang terkenal akan kesalehan dan kebijaksanaannya.

Sepeninggal Al-Walid, Sulaiman bin ‘Abdul Malik yang merupakan adik kandungnya dinobatkan sebagai khalifah dan memimpin kekhalifahan dari Yerusalem (Al-Quds). Pada masanya, para pejabat yang berkuasa pada masa Al-Walid dilucuti satu-persatu dari jabatan mereka.

“Al-Hajjaj” sudah meninggal tatkala Sulaiman naik tahta, tapi kerabat dan sekutunya diberhentikan dan mendapat hukuman. Di sisi lain, lawan politik mereka menempati berbagai kedudukan penting pada masa Sulaiman. Salah satu di antaranya adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Sulaiman yang juga merupakan sepupu ‘Umar sangat memberikan penghormatan padanya.Bersama seorang ulama tabi’in Raja’ bin Haiwah, ‘Umar menjadi penasihat utama Sulaiman. Dia mendampingi Sulaiman dalam memimpin rombongan haji pada 716 dan sampai kembalinya di Yerusalem.

Tampaknya ia juga mendampingi Sulaiman di Dabiq saat kekhalifahan berperang melawan Kekaisaran Romawi.

Pada awalnya, Sulaiman menunjuk salah seorang putranya, Ayyub, menjadi putra mahkota, tetapi Ayyub meninggal lebih dulu pada awal 717. Sulaiman yang saat itu sakit keras kemudian berencana menunjuk putranya yang lain, Dawud, sebagai putra mahkota, tetapi Raja’ bin Haiwah tidak sepakat dengan alasan bahwa Dawud sedang berperang di Konstantinopel dan tidak ada kejelasan mengenai kembalinya.

Raja’ mengusulkan agar mengangkat ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sebagai pewaris, sebab ‘Umar dikenal sebagai salah satu tokoh yang bijaksana, cakap, dan saleh pada masa itu. Sulaiman menyepakati usulan tersebut.

Namun demi menghindari perselisihan di dalam tubuh Umayyah antara pihak ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dengan saudara-saudara Sulaiman, Sulaiman menetapkan saudaranya, Yazid, sebagai wakil putra mahkota. Hal ini bermakna bahwa setelah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Yazid yang akan menjadi khalifah. Raja’ yang dipasrahi urusan ini segera mengumpulkan anggota Bani Umayyah di masjid dan meminta mereka bersumpah setia untuk menerima wasiat Sulaiman yang masih dirahasiakan.

Setelah mereka menyatakan kepatuhan, barulah Raja’ mengumumkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang akan menjadi khalifah sepeninggal Sulaiman. Saudara Sulaiman yang lain, Hisyam, menentang keputusan tersebut, tetapi kemudian diancam akan jatuh.

Umar dibai’at sebagai khalifah pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at. Berbeda saat masih menjadi gubernur, gaya hidup ‘Umar menjadi sangat sederhana pada saat menjadi khalifah. Gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan.

Segera setelah mendengar berita kematian Khalifah Sulaiman, ‘Abdul ‘Aziz yang merupakan putra Khalifah Al-Walid langsung bergegas menuju Damaskus beserta pasukannya, tanpa mengetahui pihak yang menggantikan Sulaiman. Sebagai catatan, Al-Walid pernah berusaha melepas posisi Sulaiman sebagai putra mahkota untuk diserahkan kepada ‘Abdul ‘Aziz, tetapi Al-Walid lebih dulu meninggal sebelum keinginannya diresmikan, sehingga Sulaiman yang pada akhirnya menjadi khalifah.

‘Umar merombak ulang administrasi provinsi-provinsi di kekhalifahan.Ia melakukan pemekaran atas provinsi di kawasan timur kekhalifahan yang dibentuk pada masa Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan dan Al-Hajjaj bin Yusuf.Gubernur yang ditunjuk Sulaiman untuk provinsi besar ini, Yazid bin Muhallab, diberhentikan dan ditahan lantaran tidak menyetorkan harta rampasan perang dari penaklukan sebelumnya atas kawasan Thabaristan ke kas perbendaharaan negara. 

Umar kemudian menunjuk beberapa gubernur baru untuk beberapa provinsi. Perinciannya:

Kawasan timur
Kufah: ‘Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman bin Zaid bin Khattab (masih anggota keluarga ‘Umar bin Khattab)
Basrah: ‘Adi bin Arthah al-Fazari
Khorasan: Al-Jarrah bin ‘Abdullah
Sindh: ‘Amr bin Muslim al-Bahili
Mesopotamia Hulu: ‘Umar bin Hubairah

Kawasan barat
Al-Andalusia (semenanjung Iberia): As-Samh bin Malik al-Khaulani
Ifriqiyah (Afrika Utara): Ismail bin ‘Abdullah bin Abi al-Muhajir

Meski pejabat baru yang ditunjuk di kawasan timur ini dulunya pengikut Al-Hajjaj atau dari kelompok Qais, ‘Umar menunjuk mereka atas dasar kecakapan, bukan lantaran mereka adalah lawan politik Khalifah Sulaiman.

Pilihannya untuk gubernur Al-Andalus dan Ifriqiyah berangkat dari pandangan ‘Umar tentang netralitas mereka atas persaingan antara kelompok Qais dan Yamani, juga keadilan mereka terhadap pihak-pihak yang tertindas. 

‘Umar tampak memilih orang cakap yang dapat dia kendalikan, menunjukkan niatnya untuk benar-benar melakukan pengawasan cermat atas tiap-tiap provinsi.

Sejarawan Wellhausen mencatat bahwa ‘Umar tidak membiarkan para gubernur mengatur wilayah mereka sendiri hanya karena sudah menyetorkan pendapatan daerah ke pusat, tetapi secara aktif mengawasi administrasi para gubernurnya.

Dalam urusan militer, ‘Umar cenderung pasif bila dibandingkan pendahulunya, meskipun sejarawan Cobb mengaitkan sikap ‘Umar dengan kekhawatiran akan menipisnya perbendaharaan negara.

Wellhausen menegaskan bahwa ‘Umar tidak menyukai perang penaklukan, mengetahui bahwa mereka digaji bukan untuk kepentingan Allah, tetapi karena rampasan perang.Segera setelah menjadi khalifah, dia memerintahkan agar pasukan Muslim yang dikomando oleh Maslamah bin ‘Abdul-Malik segera ditarik dari pengepungan Konstantinopel dan mundur ke Malatya di kawasan Anatolia Timur/Armenia Barat.

Terlepas dari penarikan tersebut, ‘Umar terus melakukan serangan musim panas tahunan pada perbatasan Romawi, sebagai bagian dari kewajiban jihad. ‘Umar tetap berada di Syria utara, seringkali tinggal di tanah miliknya di Khanasir, tempat dia membangun benteng.

Pada suatu waktu di tahun 717, ‘Umar mengirim pasukan ke Azerbaijan selatan di bawah kepemimpinan Ibnu Hatim bin Nu’man al-Bahili untuk menumpas sekelompok bangsa Turki yang melakukan perusakan di kawasan tersebut. Pada 718, dia mengerahkan berturut-turut pasukan Iraq dan Syria untuk menekan pemberontakan Khawarij di Iraq, meski sebagian sumber menyatakan bahwa gerakan perlawanan ini diredam dengan diplomasi.

Di sepanjang perbatasan timur laut kekhalifahan, di Transoxiana, Islam sudah memiliki kedudukan mapan di beberapa kota, mencegah ‘Umar untuk menarik pasukan Arab dari sana.Meski demikian, dia mencegah untuk melakukan perluasan wilayah lebih jauh ke timur.Pada masa kekuasaannya, pasukan Muslim yang berpusat di Al-Andalus menaklukkan kota Narbonne di kawasan Franka selatan.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz merupakan seorang ulama dan dia sendiri dikelilingi ulama-ulama besar seperti Muhammad bin Ka’ab dan Maiumun bin Mihran. Dia menawarkan tunjangan kepada para guru dan mendorong pendidikan. Melalui teladan pribadinya, dia menanamkan kesalehan, ketabahan, etika bisnis, dan kejujuran moral di masyarakat.

Pembaharuan yang dia lakukan termasuk memperketat larangan minum-minuman keras, melarang ketelanjangan publik, menghapus pemandian umum campur laki-laki dan perempuan, dan pemberian dispensasi zakat yang adil.

Dia memerintahkan pengerjaan berbagai bangunan umum di Persia, Khorasan, dan Afrika Utara, seperti pembangunan kanal, jalan, karavanserai, dan klinik kesehatan. ‘Umar juga melanjutkan program kesejahteraan dari beberapa khalifah Umayyah terakhir dan memperluasnya, termasuk program-program untuk anak yatim dan orang miskin.

‘Umar juga dipuji lantaran memerintahkan pengumpulan resmi hadits yang pertama kali lantaran adanya kekhawatiran akan hilangnya sebagian hadits. Mereka yang diperintahkan ‘Umar melaksanakan perintah tersebut antara lain Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhri.

Beberapa pembaharuan lain yang ‘Umar lakukan:

Melarang pejabat negara untuk berbisnis Pekerja tanpa bayaran dianggap ilegal.

Tanah penggembalaan dan cagar alam yang diperuntukkan bagi keluarga para pejabat tinggi dibagikan secara merata pada orang miskin dan tujuan budidaya.

Mendesak semua pejabat untuk mendengarkan keluhan orang-orang dan pada setiap kesempatan, diumumkan bahwa jika ada yang melihat petugas yang memperlakukan masyarakat tidak sebagaimana mestinya, dia harus melaporkannya dan sang pelapor akan diberikan hadiah mulai dari 100 hingga 300 dirham.

Pada masa sebelumnya, Bani Umayyah terkenal akan permusuhannya terhadap ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad) dan mengharuskan para khatib untuk melakukan celaan pada Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib pada khutbah shalat Jum’at.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kemudian memerintahkan agar kebiasaan itu dihapus.Tanah Fadak yang dikuasai Bani Umayyah sejak masa Khalifah Marwan bin al-Hakam juga dikembalikan kepada Bani Hasyim. Sebagai catatan, tanah Fadak adalah tanah milik Nabi Muhammad di kawasan Khaibar yang berdasar perintah Nabi, hasil dari pengelolaannya diberikan kepada kalangan Bani Hasyim yang membutuhkan.

Di masa khalifah Umayyah sebelumnya, Muslim Arab memiliki hak istimewa terkait keuangan daripada Muslim non-Arab. Mualaf dari kalangan non-Arab tetap diwajibkan membayar pajak jizyah seperti saat mereka belum masuk Islam. ‘Umar kemudian menghapuskan kebijakan ini dan membebaskan semua Muslim dari pembayaran jizyah, tanpa memandang asal-usul mereka.

Meski begitu, ‘Umar juga membuat penjagaan agar keuangan negara tidak runtuh saat terjadi gelombang mualaf yang berakibat menyusutnya penerimaan jizyah. Mualaf non-Arab tidak lagi membayar jizyah, tetapi tanah mereka menjadi tanah desa dan dikenakan kharaj atau cukai tanah.

Mengikuti teladan Nabi Muhammad, ‘Umar mengirim utusan ke Tiongkok dan Tibet dan mengajak pemimpin mereka memeluk Islam. Di masa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz inilah Islam berakar kuat dan diterima sebagian besar masyarakat Persia dan Mesir. Saat para pejabat mengeluhkan merosotnya pendapatan dari jizyah lantaran terjadinya gelombang mualaf, ‘Umar membalas bahwa dia menerima tampuk kekhalifahan untuk mengajak orang-orang masuk Islam, bukan menjadi penagih pajak. Jumlah Muslim non-Arab yang semakin besar menjadikan pusat negara bergeser yang semula dari Madinah dan Damaskus menjadi Persia dan Mesir.

‘Umar juga mengajak raja-raja di India untuk memeluk Islam dan menjadi bawahan khalifah. Sebagai balasan, mereka tetap mempertahankan kedudukan mereka sebagai raja. Beberapa raja menerima tawaran tersebut dan mulai mengadopsi nama Arab.

Oleh Faisol Abdurrahman, Alumni dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah | Sarjana Komunikasi Islam IAIN Pontianak | Bidang Dakwah dan Kajian Keislaman Ikatan Santri dan Alumni Al-Khaliliyah (Insaniyah)

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More