Kenal Ulama: Biografi Ibnu Bajjah, Sang Filsuf Islam - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Friday, December 27, 2019

Kenal Ulama: Biografi Ibnu Bajjah, Sang Filsuf Islam


Tokoh Ulama | Dialah Abu Bakar Muhammad Ibn Al Sha’igh at-Tujibi bin Bajjah atau yang lebih dikenal dengan nama Ibn Bajjah, yang dimana orang orang barat lebih mengenalnya dengan nama Avenpace.

Beliau lahir ditempat yang sama dengan Ibn Rusyd (Filsuf), yakni di Al Andalusia atau yang sudah dikenal dengan nama Spanyol atau yang lebih tepatnya di Saragossa, pada abad ke 5 H atau ke 11 M.

Mendengar namanya yang sering kali muncul dibuku buku filsafat bukan berarti beliau hanya seorang filsof saja, melainkan dalam beberapa literatur menjelaskan bahwasanya beliau adalah seorang yang menguasai beberapa disiplin ilmu seperti astronom, filsuf, sastrawan, musisi, dokter, fisikawan, botanis, psikolog dan ilmuwan Muslim.

Maka tak heran jikalau Ibn Khaldun mensejajarkan Nama Ibn Bajjah dengan tokoh tokoh yang berpengaruh lainnya seperti Ibn Rusyd, Ibn Sina maupun dengan Al Farabi.

Selama hidupnya, beliau dikenal aktif dalam dunia politk, bahkan dari keaktifan dan kepiawaiannya dalam dunia politik, beliau mendapatkan perhatian dari sang Gubernur pada waktu itu yakni Abu Bakar Ibrahim (Gubernur Saragossa Daulat Al Murabith), dan berangkat dari sanalah Ibn Bajjah diangkat sebagai seorang Menteri.

Tidak berlangsung lama, beliau harus berpindah profesi dengan menjadi seorang dokter di kota Seville via Valencia. Tepatnya saat kota Sarahossa jatuh ke tangan Alfonso 1 di Aragon pada tahun 512 H/1118 m.

Kemudian dari sana beliau kembali pindah dari kota Seville via Valencia ke Granada kemudian memilih untuk berangkat ke Afrika Utara yang merupakan pusat Kerajaan Dinasti Murhabith Barat .

Namun sayangnya ketika tiba di Syatibah, beliau malah ditangkap karena dituduh kafir oleh penguasa Al Murabith, dan ini lagi lagi terjadi karena pemikiran filsafatnya yang tidak dapat diterima dikalangan masyarakat pada waktu itu. Hingga pada akhirnya beliau kembali melakukan perjalanan ke Fez, Maroko.

Di kota inilah beliau diangkat menjadi seorang Wazir oleh Abu Bakar Yahya Ibn Yusuf Ibn Tashfin selama 20 tahun (Madjid Fakhry, A History of Muslim Philoshopy, terj. Muliadi Kartanegara [Jakarta: Pustaka Jaya, 1998], h. 397), sampai pada akhirnya beliau menutup usia disana pada tahun 533 H/1138 M.

Selain itu, jika kita menoleh pemikiran Ibn Bajjah maka kita akan disuguhkan dengan beberapa pembahasan, dan berikut ulasannya

1. Metafisika (Ketuhanan)
Adapula pemikiran Ibn Bajjah tekait al maujudat (segala yang ada) dibaginya atas dua bentuk yakni antara yang bergerak dan tidak bergerak.

Yang bergerak adalah materi yang sifatnya terbatas (finite) yang merupakan Jisim (Materi), gerak ini terjadi dari perbuatan yang menggerakkan terhadap yang digerakkan. Gerakan ini tentunya digerakkan pula oleh gerakan yang lain, yang pada akhirnya rentetan gerakan ini digerakkan oleh penggerak yang tidak bergerak.

Yang tidak bergerak disini maksudnya ialah mengarah pada sesuatu yang tidak berubah (berbeda dengan jisim/materi) dan bersifat Azali, Ibn Bajjah menyebutnya dengan ‘aql.

‘aql inilah yang disebut dengan Allah (‘aql, ‘aqil dan ma’qul), sebagaimana yang dikemukakan oleh Al Farabi dan Ibn Sina. Sehingga berangkat dari sini, Ibnu Bajjah beranggapan bahwasanya Allah adalah Azali dan gerakkannya tidak terbatas.

2. Materi dan Bentuk
Pada pemikiran ini, Ibn Bajjah beranggapan bahwasanya Materi (al Hayula) tidak mungkin bereksistensi tanpa bentuk (al Shurat). Sedangkan dalam memahami bentuk, bagi Ibn Bajjah bentuk hanya bisa ditangkap dengan akal dan bukan dengan panca indera. Yang dimana pada bentuk pertamanya ialah suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi dan dikatakannya sebagai tidak mempunyai bentuk.

3. Jiwa
Membahas terkait jiwa, pastilah setiap manusia memiliki jiwa begitu pun yang dikatakan oleh Ibn Bajjah, yang dimana jiwa tersebut tidak mengalami perubahan sebagaimana dengan jasamani. Dikatakan pula bahwasanya jiwa adalah jauhar rohani, akan kekal setelah mati. Dan di akhirat jiwalah yang akan menerima pembalasan, baik balasan kesenangan (surga) maupun balasan siksaan (neraka).

4. Akal dan Ma’rifah
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwasanya akal adalah sesuatu yang paling penting dalam melengkapi diri manusia itu, karena dengannyalah maka manusia akan mengetahui segala sesuatu itu. Terkait akal, Ibn Bajjah membaginya menjadi dua bentuk

Akal Teoritis, yakni hanya bisa diperoleh berdasarkan pemahaman terhadap sesuatu yang konkret atau abstrak.
Akal Praksis, yakni akal yang diperoleh melalui penyelidikan sehingga menemukan pengetahuan.
Sehingga dari pengetian diatas dapat disimpulkan bahwasanya pengetahuan diperoleh dengan dua jenis yakni, ada yang memerlukan pemahaman dan penghayatan dan adapula yang tidak membutuhkan penghayatan namun memerlukan eksperimen atau penyelidikan sehingga menguatkan dari pengetahuan itu.

Sedangkan dalam mencapai tingkat Ma’rifah, Ibn Bajjah beranggapan bahwa puncak dari ma’rifat ialah jika ia telah dapat terlepas dari sifat kerendahan dan keburukan keburukan masyarakat, serta dapat memakai kekuatan pikirannya demi memperoleh ma’rifat dan ilmu sebesar mungkin.

5. Akhlak
Dalam hal ini, Ibn Bajjah membaginya atas dua bentuk yakni perbuatan manusiawi yang didasari dengan perbuatan rasio dan kemauan yang bersih lagi luhur, dan adapula perbuatan hewani yang didasari oleh dorongan naluri demi memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsu.

Sehingga dari sini, menurut Ibn Bajjah selayaknya manusia melakukan perbuatannya seusai dengan akal atau untuk memuaskan akal, dan dari perbuatan inilah yang disebut dengan perbuatan Ilahy. Dan tentu ini sudah menjadi keutamaan karena secara tidak langsung jiwa telah menekan keinginan jiwa hewani yang selalu menentangnya.

6. Politik
Pandangannya terkait dunia politik, Ibn Bajjah dipengaruhi oleh pandangan politik Al- Farabi. Sebagaimana Al-Farabi, dalam buku Ara’ Ahl al Madinat al-Fadhilat.

Meskipun dianggap memiliki pandangan yang sama terkait dunia politik itu, rupanya tidak menjamin bahwa semua pandangan politik dari Ibn Bajjah benar benar ikut dengan pandangan Al Farabi.

Dan kita bisa lihat pada titik penekanan masing masing yang rupanya tidak sama dalam dunia pemerintahan. Dimana Al Farabi titik tekannya pada kepala negara, sedangkan Ibn Bajjah titik tekannya pada warga negara (masyarakat).

7. Manusia penyendiri
Manusia penyendiri merupakan filsafat Ibn Bajjah yang cukup populer, dan pemikiran ini termuat dalam Kitab Tadbir al-Mutawahhid.

Jika lafal Tadbir yang berasal dari bahasa Arab yang berartikan mengatur perbuatan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan atau dengan kata lain aturan yang sempurna.

Maka tak salah jika dikatakan bahwa al tadbir ini hanya dapat dilakukan oleh manusia. Karena faktanya hanya akal lah kita bisa melakukan perbuatan perbuatan yang mengarah pada tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

Sedangkan istilah al-Mutawahhid ialah ditujukan pada manusia penyendiri, yakni dengan cara mengasingkan diri dan tidak berhubungan dengan orang lain.

Namun yang perlu diklarifikasi dalam hal ini ialah menurut Ibn Bajjah seorang filsof yang hidup pada suatu negara yang tidak sempurna, maka tentu mereka harus mengasingkan diri dari perbuatan sekelilingnya yang tidak baik/ buruk itu. Mereka cukup berhubungan dengan orang orang yang memang memiliki sifat dan sikap yang baik dalam bermasyarakat.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org

No comments:

Post a Comment