Hafiz Quran dan Potret Keburaman Islam Masa Depan Islam - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Sunday, August 4, 2019

Hafiz Quran dan Potret Keburaman Islam Masa Depan Islam


Tarbiyah.online – Hafiz quran tapi awam ilmu tauhid, fikih dan tasawuf adalah potret buram masa depan generasi Aceh dan Indonesia 10 tahun ke depan.

Kita tidak ingin terulang sejarah buram, hafiz, qari dan rajin ibadah tapi berpaham radikal, cukuplah ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM, POTRET BURAM SEORANG KORBAN PEMIKIRAN KHAWARIJ.

Oleh karena itu, kebenaran pemahaman dan itikad yang baik merupakan sebuah keniscayaan dalam mengaplikasikan ajaran Islam secara benar. Dua perkara ini harus seiring-sejalan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, maka tabiat buruk bisa muncul karena mereka tidak dibimbing oleh ilmu. 

Sejarah mencatat kejahatan ‘Abdur-Rahmân bin Muljam, kaum Khawaarij ini telah melakukan pembunuhan terhadap Amîrul-Mu`minîn ‘Ali bin Abi Thâlib, yang juga kemenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

SIAPAKAH ‘ABDUR-RAHMÂN BIN MULJAM?

Merupakan kekeliruan jika ada yang menganggap ‘Abdur-Rahmân bin Muljam dahulu seorang yang jahat. Sebelumnya, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa saat siang hari dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai.

Meski demikian, ia mendapat gelar al-Muqri`. Dia mengajarkan Al-Qur`ân kepada orang lain. Tentang kemampuannya ini, Khalifah ‘Umar bin al Khaththab sendiri mengakuinya.

Dia pun pernah dikirim Khaliifah ‘Umar ke Mesir untuk memberi pengajaran Al-Qur`ân di sana, untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, ‘Amr bin al-‘Aash, karena mereka sedang membutuhkan seorang qâri.

Dalam surat balasannya, ‘Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.

Jadi, hafal quran itu penting karena kalamullah, namun dari tinjauan hukum tetap sunat, sementara belajar fardhu ain, berupa Akidah, Tauhid dan Tasawuf,  wajib ain. Agar tidak pincang, bekali generasi islam dengan ilmu fardhu ain setelah itu baru jadi hafiz. Jika tidak, akan lahir ibn muljam lainnya dan akan jatuh korban Ali berikutnya.

Fataammul ya ulil absar...!!!

Oleh Buya Mustafa Husein Woyla, S.Pd.I, Pengajar di Dayah Darul Ihsan Krueng Kale, Aceh Besar.

No comments:

Post a Comment