Abu Hasan Asy-Syadzily, Gurunya Para Wali - TARBIYAH ONLINE

TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Wednesday, February 14, 2018

Abu Hasan Asy-Syadzily, Gurunya Para Wali

Hasil gambar
Abu Hasan Asy-Syadzily

Awal kehidupan tasawufnya adalah "kehendak guru (Abdul Salam Al Masyisy) yang absolute", seolah didikte. Setelah sebelumnya berguru kepada  Abu Fattah al Wasithi di Irak. Abdul Salam Al Masyasyi adalah seorang sufi besar dari Maroko. Abu Hasan cukup lama mengikuti dan diam bersama sang guru. Pertemuan keduanya terjadi di sebuh gua tempat sang Guru sering mengasingkan diri. Disitulah Asy-Syadzily merasa kagum akan ketakwaan dan kehebatan serta kedalaman ilmu yang dimiliki sang Guru. Sang Guru berpandangan, bahwa tasawuf sejati adalah ajaran yang bersumber dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah.

Di satu masa, sang Guru berpesan, "Ali, pergilah engkau ke Afrika, tinggallah engkau di sebuah negeri bernama Syadzilah, kelak Allah akan memberikan mu gelar Asy-Syadzily".

Begitulah kehidupan Sufi, perintah sang Murabbi bukanlah candaan, penglihatan mereka kasyaf. Terbayang, itulah kalam Tuhan melalui qalbu mereka untuk disampaikan kepada muridnya. Meski bayangan demikian tidak sepenuhnya benar.

Ketika hendak berangkat, Sang Guru, Abdul Salam Al Masyisy berpesan," Ali, Allah adalah Allah dan manusia adalah manusia. Bersihkan lidahmu dari menyebut mereka. Sucikan hati mu dari kecondongan kepada mereka. Jaga seluruh indra mu, laksanaka semua yang fardhu. Sungguh kedudukan mu sebagai Wali Allah telah sempurna. Bacalah selalu do'a ini: Yaa, Allah, kasihanilah kami agar tidak menyebut-nyebut mereka, tidak butuh kepada mereka. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Cukupkanlah kami dengan kebaikan-Mu sehingga tidak memerlukan kebaikan mereka. Palingkan aku khususnya dari hati mereka. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Berangkatlah Sang Wali Abu Hasan Asy-Syadzily ke Tunisia untuk (bisa dibaca disini) >>> pengembaraan tasawufnya.

Abu Hasan Asy-Syadzily, guru dari murid setia Abu Abbas al Mursi Sang Psikolog muslim paling dikenal. Yang sudah ikut bersama Sang Wali dari sejak dari Tunisia. Sang wali  juga merupakan Guru dari Sufi terpopuler Ibnu Atha'illah Al-Sakandari ketika beliau menetap di Iskadanriyah -Alexandria-, Mesir. Sang Wali semasa dengan Sulthanul Ulama 'Izuddin bin Abdussalam yang merupakan ketua dari para Ulama di masa itu. Seorang yang ke'alimannya diakui oleh seluruh ahli fiqh, ahli tasawuf seluruh dunia.

Sang Wali pernah berpesan kepada muridnya, Abu Abbas Al Mursi, "Kenalilah Allah, lalu hiduplah sesuka mu."

Sang Wali yang hidup dengan kemewahan. Secara lahiriyah, ia hidup dengan "keglamoran", makanannya keseringan lezat dan pakaiannya mewah, senang dengan kuda gagah nan cekatan. Karena baginya, "Nikmat Tuhan yang berlimpah itu, mesti dimaksimalkan, sebab kesemuanya adalah sarana menuju kebahagiaan mukmin. Tidaklah mukmin dilarang Tuhannya untuk mencicipi bahkan memiliki kelezatan dunia. Namun bukan untuk mencintainya."

Baginya, "Lezatnya makanan dan segarnya minuman, dikala selesai menyantapnya tak hanya lisan yang memuji syukur kepada Tuhan, melainkan seluruh organ terasa terpuaskan."

Sang Wali, yang menjadikan Khatamul Auliya karya Al Hakim At-Tirmidzi, Qutl Qulub-nya Abu Thalib Al Makki, Ihya Ulumuddin-nya Al Ghazali, dan Al Mawaqif wal Mukhathabat-nya Muhammad Ibn Abdul Jabar An-Nifari sebagai kitab favorit dan rujukan wajibnya dalam menjalani kehidupannya sebagai Sang Wali, Kekasih Allah.

Semoga Allah membagikan kasih-Nya kepada kita dengan keberkahan "cinta kepada orang yang Dicintai-Nya."

Diambil dari berbagai sumber, terumata :Dr. Makmun Gharib :Abu Hasan Asy-Syadzily dan Dr. Abdul Halim: Nasihat dan Wasiat Abu Hasan Asy-Syadzily

2 comments:

  1. Replies
    1. Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar saudara Disam Pilem Production.
      Mohon kiranya saudara memberi masukan jika dalam tulisan kami ada hal-hal yang kurang berkenan.

      Delete