Kedudukan Akhlak Dalam Islam - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Tuesday, December 19, 2017

Kedudukan Akhlak Dalam Islam


 

Pengertian Akhlak

Akhlak menurut bahasa: Berasal dari kata  'khulq' yang bererti perilaku, perangai atau tabiat.
Maksud ni terkandung dalam kata-kata Aisyah berkaitan akhlak Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Quran."
Akhlak Rasulullah yang dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan, pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah s.a.w yang semuanya merupakan pelaksanaan ajaran al-Quran.
Akhlak menurut istilah:
Menurut Imam al-Ghazali, "Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu."
Menurut Ibnu Maskawih, "Akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan akal fikiran terlebih dahulu."

Hubungan Antara Akhlak dan Iman

“Aku diutus ke dunia ini untuk memnyempurnakan akhik yang baik.” (H.R Ahmad)
Jadi salah satu sebab diangkatnya Nabi Muhammad SAW menjadi nabi adalah untuk memperbaiki akhlak individu dan masyarakat. 

Ketika Rasulullah ditanya: “Siapakah orang beriman yang paling utama imannya?” Maka beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud). Akhlak memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan akidah. Allah telah menamakan iman dengan kebaikan dalam firman-Nya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (Al-Baqarah: 177).
Bahkan sabda Nabi Muhammad SAW: “Iman itu mempunyai enam puluh cabang lebih. Cabang yang paling utama adalah kalimat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan yang paling bawah adalah membersihkan gangguan dari jalan dan malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Muslim).
Allah SWT berfirman: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka.” (Al-Jumuah: 2)

Hubungan Antara Akhlak dan Ibadah

  • Shalat: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
  • Zakat: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (At-Taubah: 103). Walaupun hakikat zakat adalah berbuat kebaikan bagi manusia tetapi tujuan lainnya adalah mendidik jiwa dan membersihkannya dari akhlak yang buruk.
  • Puasa: “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183). Jadi tujuan dari puasa adalah agar bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan jahat dan melakukannya maka tidak ada bagi Allah keperluan darinya untuk meninggalkan makan dan minumnya (yakni Allah tidak menerima puasanya).” (HR. Al-Bukhari). Barangsiapa yang puasanya tidak mengubah akhlaknya terhadap manusia maka berarti puasanya belum mencapai target yang sesungguhnya. 

Akhlak Penentu Tempat di Akhirat

“Sesungguhnya dari kamu sekalian yang paling aku cintai dan tempatnya paling dekat dengan ku nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling aku benci adalahdan tempatnya paling jauh dari aku adalah At-Tsartatsarun (tukang cloteh dan tukang teriak), Al-Mutasyaddiqun (orang yang lebar sudut mulutnya), dan Al-Mutfaihiqun.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tahu arti At-Tsartatsarun dan Al-Mutasyaddiqun, tapi siapa Al--Mutfaihiqun?” Beliau menjawab, “mereka addalah orang-oran yang sombong.” (H.R Ahmad, Tarmidzi, Ibn Hibban).
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Pemurah, senang dengan kemurahan dengan akhlak yang luhur dan benci terhadap sesuatu yang rendah (buruk).” (H.R Al Baihaqi).


Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat daripada akhlak mulia yang disimpan di timbangan nanti. Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia akan sederajat dengan orang yang berpuasa dan menunaikan shalat.” (HR. At-Tirmidzi)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kebanyakan orang masuk surga karena takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Juga sabdanya “Sesungguhnya yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat posisinya dariku pada hari kiamat nanti adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Sabdanya, “Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun dia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun dia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus.” (HR. Abu Dawud)

Gambaran Akhlak Rasulullah



Ketika Fathu Makkah Ia SAW berjalan kaki, dan terlihatlah bagaimana Sayyidul Khalq (Tuannya para makhluk) yang melebihi keagungan serta kewibawaan para raja dan di akhirat kedudukannya lebih mulya lagi disisi Tuhannya.

Rasulullah Saw disibukkan untuk mengatur dunia dan syariat bagi dirinya dan umatnya. Ketika beliau berjalan kaki dengan pasukannya, beliau menemukan anjing betina sedang menggonggong kepada anak-anaknya-sambil kencing kepada mereka- karena ketakutan, ketakutan anjing betina tadi karena kewibawaan para pasukan muslim yang melakukan perjalanan menuju Fathu Makkah. Maka Nabi memanggil Juail bin Suraqah dan memerintahkannya untuk berhenti, sedang beliau menjaga serta melindungi anjing betina dan anak-anaknya tadi dari pasukan-pasukan yang lain, beliaupun berdiri didekat Anjing betina sehingga para pasukan berlalu.

Dalam sebuah kajian Syeikh Ali Jumu’ah pernah bertanya kepada jama’ah :
”Apakah kalian merenungkan apa yang Nabi ajarkan untuk kita? Hewan lemah yang menurut mayoritas ahli fiqih najis namun Nabi berinteraksi dengannya sebagai makhluk yang diciptakan Allah, sabdanya, "Pada setiap makhluk yang masih memiliki kehidupan terdapat pahalanya". Rasulullah adalah Tuan para makhluk, Tuannya dua dunia bersedia berdiri dan menyibukkan perhatiannya terhadap anjing betina yang sedang ketakutan kalau terjadi apa-apa terhadap anak-anaknya, sebagai kasih sayang kepada anjing betina dan pengajaran bagi kita semua.”




Kesimpulan

Akhlak terpuji mengajak kepada fitrah salimah (asal keselamatan). Orang-orang yang menggunakan akal sehat sepakat bahwa jujur, menepati janji, dermawan, sabar, berani, dan bersyukur adalah sifat yang baik dan akhlak yang agung. Siapapun yang memiliki sifat tersebut layak dipuji dan dimuliakan. Sebaliknya, sifat dusta, khianat, penakut dan kikiradalah sifat buruk. Dan yang memilikinya patut dicela.

Seorang Muslim yang berakhlak terpuji adalah orang yang mengumpulkan sifat-sifat luhur dan jauh dari sifat-sifat buruk. Rasulullah telah mengarahkan kita kepada akhlak yang baik dalam sabda Beliau kepada sahabatnya Uqbah bib ‘Amir, “Wahai ‘Uqbah, apakah aku belum pernah memberi tahu tentang akhlak paling utama bagi penduduk dunia dan akhirat? Yakni menyambung hubungan dengan orang yang memutus kamu, memaafkan orang yang menzalimi kamu dan memberi orang yang tidak memberi kepada mu”. (H.R Ahmad, Hakim, At-Thabrani, al Baihaqi).

Sedang tanda-tanda akhlak baik telah terkumpul dalam bersikap yaitu malu, baik, jujur, sedikit bicara, banyak beramal, meninggalkan perkara yang tidak ada unanya, berbakti kepada orangtua, menyambung silaturrahim, sabar, syukur, bijaksana, dan menghindari hal yang tidak baik. Sumber akhlak yang terpuji adalah kehusyu’an dan cita-cita yang tinggi  (Allah SWT).



No comments:

Post a Comment