Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati - TARBIYAH ONLINE

TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Tuesday, November 14, 2017

Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

Kedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat. Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras. Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.

Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.
Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.
Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini engan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.

No comments:

Post a Comment