Kasih Sayang Sang Kakek Kepada Muhammad Kecil - TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Sunday, November 12, 2017

Kasih Sayang Sang Kakek Kepada Muhammad Kecil

Setiba di Mekkah dari Madinah setelah perjalanan panjangnya bersama sang Ibu untuk menziarahi makam Ayahanda, dan mendapati sang Ibu ikut meninggalkannya di Abwa'. Muhammad disambut oleh sang Kakek, Abdul Muththalib dengan pelukan dan dekapan kasih sayang. Sang kakek dan seluruh paman-paman beserta istri mereka datang menyambut Muhammad kecil dengan penuh haru dan rasa duka.


Tibalah saatnya Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek. Abdul Muththalib adalah seorang terpandang, pemegang kunci pintu dan penjaga Ka'bah. Ia lah orang yang menggali kembali sumur zam-zam yang sempat lama tertimbun. Dan ia juga yang menyiaapkan air bagi musafir-musafir jama'ah haji yang datang ke Mekkah. Muhammad kecil tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang  ibu, melalui istri-istri paman-pamannya, juga melalui kerabat dan sahabat dekat Aminah. Mereka sangat mencintai Muhammad kecil, sebagaimana mereka mencintai anak-anaknya, bahkan lebih.

Abdul Mutthalib mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Muhammad kecil. Ia tidak dipanggil sebagai cucu, melainkan anak oleh Abdul Mutthalib. Ia memaminggilnya "anak ku" tidak pernah ia memanggil dengan sebutan "Wahai Anak Abdullah". Orang-orang Makkah pun menjuluki Muhammad kecil sebagai Ibn Abdul Muthhalib, bukan Ibn Abdullah. Kecintaan sang kakek kepada cucunya ini, memang telah diekspresikannya sejak Muhammad lahir. Nama Muhammad diberikan oleh sang kakek dengan harapan Muhammad akan dipuji oleh seluruh manusia. Muhammad juga adalah nama yang asing dan tidak pernah disematkan kepada seorang pun di kalangan bangsa Arab saat itu. Di subuh kelahirannya pun sang kakek menggendong Muhammad yang masih bayi, dan mentawafkannya sambil melantunkan pujian-pujian kepada Allah Pemilik Semesta Alam untuk merahmati Muhammad sepanjang hidupnya.

Orang-orang kala itu menceritakan kepada  Muhammad kecil dalam rangka menghibur Muhammad agar tak merasa kesepian dan hidup tanpa kasih sayang orangtua kandung, bahwa Abdul Mutthalib sangat mencintai Muhammad. Dan perhatian yang ia terima dari sang Kakek bukan suatu yang terjadi tiba-tiba, melainkan sudah ditunjukkannya sejak dulu. Abdul Mutthalib terlihat sangat bahagia atas kelahiran Muhammad, bahkan orang-orang menyebutnya, kebahagiaan Abdul Mutthalib lebih besar daripada ketika ia menantikan kelahiran anak-anaknya. Padahal ia memiliki banyak anak-anak lelaki maupun perempuan, memiliki pula cucu-cucu yang lain, dan ia memiliki banyak pembantu. Tapi kelahiran dan keberadaan Muhammad di sisinya benar-benar sesuatu yang lain.
Sang kakek sanhat mengkhwatirkan diri Muhammad sebagaimana orang tua mengkhawatirkan anaknya. Ia selalu memperingatkan orang-orang agar tidak berlaku suatu yang tidak menyenangkan atau yang membahayakan diri Muhammad. Ia selalu berpesan kepada Ummu Aiman selaku pengasuhnya untuk merawat Muhammad dengan baik. Dan jika Abdul Mutthalib mendapatkan undangan atau jamuan, selalu diajaknya Muhammad kecil bersamanya.

Muhammad kecil pun hidup dengan tenang bersama sang kakek, ia mampu melihat guratan penuh cinta dari wajah sang kakek. Dan menyadari keakraban batin diantara keduanya.

Abdul Mutthalib memiliki tempat duduk yang khsusus bergelar karpet merah dan tilam yang tebal sebagai tempat duduknya, ia dikelilingi oleh tempat untuk paman-paman Muhammad. Tak seorang pun berani duduk diatas tempat Abdul Mutthalib, saking istimewanya tempat itu. Lalu di suatu hari Muhammad duduk diatasnya dengan maksud kecintaannya kepada sang kakek. Lalu seorang pamannya menegur Muhammad, dan meminta Muhammad kecil untuk pergi menjauh sambil bermain dengan anak-anak kecil yang lain, agar tidak mengganggu mereka duduk bersama Abdul Mutthalib yang sedang ditunggu kedatangannya. Muhammad kecil pun menurut, dan sedikit menjauh dari tempat duduk pertemuan itu.
Abdul Mutthalib keluar rumah dan melihat Muhammad sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. lalu dipanggilnya Muhammad kecl, dipeluknya dan didudukkannya di tempat itu bersamanya. Ia pun menoleh ke arah anak-anaknya yang lain dan orang yang hadir, dan berkata, "Biarkan anakku (Muhammad) duduk di tempat dudukku. Karena sungguh dia tahu teempat yang pantas untuknya. Demi Allah, dia memiliki sesuatu yang luar biasa". Demikianlah mata batin sang kakek melihat keistimewaan Muhammad sejak dari kecil.

Diusia yang lanjut, Abdul Mutthalib menilai diantara banyaknya anak yang ia miliki, Abu Thalib lah yang pantas mengurus Muhammad. Karena Abu Thalib selain satu-satunya saudara kandung Abdullah dari ibu yang bernama Fathimah binti Umar bin Aidz dari klan Makzum, Abu Thalib juga telah menunjukkan cintanya kepada Muhammad sejak lama.

***
Dikutip dari Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad tulisan Dr. Nizar Abahzah.

No comments:

Post a Comment