TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Thursday, January 23, 2020

Kenal Ulama: Abu Usman Fauzi, Ulama Kharismatik Nusantara Asal Aceh

January 23, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Usman Fauzi bernama lengkap Tgk. H. Teuku Usman Al-Fauzi Bin Tgk. Teuku Muhammad Ali. Beliau juga akrab disapa dengan sebutan Abu Lueng Ie. Sedangkan Lueng Ie itu sendiri merupakan nama laqab tempat ia tinggal, yakni Desa Lueng Ie, Aceh Besar.

Dikarenakan beliau berasal dari golongan ninggrat yang di Aceh sering disebut dengan Teuku atau Ampon, maka gurunya yakni Abuya Muda Waly sering memanggilnya dengan sapaan Ampon.

Al-Fauzi merupakan laqab yang diberikan oleh Abuya Muda Waly. Abuya mengartikan al-Fauzi sebagai orang yang kuat menghadapi cobaan dan tantangan.

Abuya Muda Waly memberi gelar tersebut kepada Abu Lueng Ie lantaran beliau memang pantas menyemat laqab tersebut, sebab beliau berhasil melewati bermacam tantangan hidup, terutama ketika masih belajar kepada Abuya di Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Kelahirannya

Abu Usman Fauzi lahir di Desa Cot Cut pada tahun 1919, sekitaran Desa Cot Iri, Aceh Besar dan meninggal dunia pada tahun 1992 di Banda Aceh dalam usia 72 tahun. Ayahnya bernama Tgk. Teuku Muhammad Ali. Namun masyarakat mengenal dengan sebutan Teuku Nyak Ali.

beliau berasal dari kalangan Teuku (bangsawan/niggrat), sehingga pada masa kanak-kanak dan remaja mampu bersekolah di sekolah favorit pada masanya, sehingga wajar-wajar saja Abu Usman Fauzi mampu menguasai beberapa bahasa Asing baik Inggris dan lainnya.

Awalnya Abu Usman Fauzi adalah seorang veteran pada masa penjajahan di usia dewasanya, beliau bertugas untuk mengawal para Ulama pada acara-acara penting.

Suatu saat ketika Abu Usman Fauzi sedang mengawal Abuya Mudawaly, Abu Usman melihat sosok Abuya yang sangat menakjubkan dan wajahnya begitu beraura, sehingga Abu Usman tertarik hatinya untuk dapat terus mengikuti Abuya dan berguru padanya.

Keinginan beliau semakin hari semakin menjadi-jadi, Cita-cita dan keinginannya agar dapat menuntut ilmu ke Dayah Darussalam Labuhan Haji pun semakin meningkat.

Walaupun pada awalnya ada suatu hal yang mengganjal, ketika bermusyawarah dengan ibu, Abu tidak diizinkan untuk pergi menuntut ilmu ke Labuhan Haji, karena sangat jauh dan pun beliau merupakan putra semata wayang.

Walaupun sudah beberapa kali diminta sang Ibupun tidak juga megizinkan, sampai akhirnya, Abuya mengambil sikap bahwa Abu Lieng Ie harus ikut Abuya Muda Waly untuk menuntut ilmu di dayah Labuhan Haji walaupun sang ibu tidak merestuinya.

Kiprahnya

Setelah Abu Lueng Ie menuntut ilmu di Darussalam Labuhan Haji kurang lebih selama delapan tahun, beliau kemudian sempat menjadi guru di Dayah Kalee Pidie selama 3 tahun.

Akan tetapi ini tidaklah bertahan lama karena Abu berkeinginan untuk mendirikan dayah (pesantren) sendiri yang kemudian diberi nama dengan Dayah Darul ‘Ulum sekitar tahun 1960 di Desa Lueng Ie.

Dayah Darul ‘Ulum tersebut kemudian berkembang pesat, banyak murid-murid yang berdatangan untuk menimba ilmu disana dan berhasil mencetak kader-kader Ulama sekitarnya.

Disamping perannya sebagai pimpinan dayah,  Abu Usman Fauzi rahimahullah juga merupakan seorang Mursyid dalam thariqat naqsyabandiyyah yang luar biasa perkembangannya dan sangat banyak pengikut thariqat tersebut di Aceh bahkan didunia saat ini.

Dari karena itu, beliau kemudian memiliki banyak murid dan pengikut, bahkan hampir di setiap wilayah dalam kabupaten di propinsi paling ujung itu terdapat pengikutnya.

Wafatnya

Abu Usman Fauzi rahimahullah meningal dunia pada hari jum’at tahun 1992 di Rumah Sakit Kesdam setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD Zainal Abidin. Sebagaimana cita-cita semua ummat Islam, meninggal di hari Jumat adalah sebuah harapan indah. Makanya dalam zikir suluk selalu dipanjatkan doa agar meninggal hari Jumat bulan Ramadan. Teryata Allah memperkenankan doa Abu selama ini.

Sebelum beliau wafat, Desa Lueng Ie sedang dalam kondisi kemarau. Panas terik matahari membuat masyarakat setempat malas keluar rumah. Pohon-pohon pun terlihat layu dan kering dan tanah pun tampak gersang.

Setelah  Abu meninggal, alam sekitar langsung berubah drastis. Langit seakan menangis histeris. Hujan deras terus membasahi tanah Lueng Ie dan sekitarnya.

Derasnya hujan berlangusung hingga beberapa hari. Ditambah lagi dengan angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar yang. Seolah-olah alam berpesan kepada penghuninya, bahwa kepergian Abu adalah musibah bagi dunia.

Para murid dan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh mulai mendatangi rumah duka. Kepergian Abu membuat keluarga dan anak-anaknya sedih. Muridnya merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Sepertinya sulit sekali mencari pengganti sekaliber Abu Usman Fauzi atau yang kerap disapa Abu Lueng Ie ini.

Demikian biografi Abu Usman Fauzi yang sangat singkat ini, semoga menambah wawasan bagi para pembaca.  Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa Almarhum dan menempatkan beliau disisi-Nya, bersama para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam. Wallahua’lambisshawab!

[Referensi: Dari Berbagai Sumber]

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org

Read More

Tuesday, January 21, 2020

Kenal Ulama: Syeikh Wahbah Al Zuhaili, Ulama Kontemporer Ahli Fiqih dan Tafsir

January 21, 2020 0

Tokoh Ulama | Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili adalah seorang guru besar di Syiria dalam bidang keislaman, beliau juga merupakan salah seorang Ulama Fiqh Kontemporer peringkat dunia dan sangat masyhur. Beliau memiliki nama asli yaitu, Wahbah ibn Mustafa al-Zuhaili, lahir pada tanggal 6 Maret 1932 M / 1351 H, di desa Dir ‘Atiyah, daerah Qalmun, Damshiq, Syiria.

Ayah beliau bernama Mustafa al-Zuhaili, yang sangat terkenal dengan ketakwaan dan keshalihannya, beliau juga seorang hafidz Al-Qur’an, dan bekerja sebagai petani. Sedangkan ibunya bernama Fatimah ibn Mustafa Sa’adah, beliau merupakan seorang yang sangat berpegang teguh terhadap ajaran agama. Wahbah Zuhaili wafat pada hari Sabtu sore, tanggal 8 Agustus tahun 2015 di Suriah, pada usianya ke 83 tahun.

Pendidikan pertama beliau di awali dari Sekolah Dasar (Ibtida’iyah) yaang berada di kampungnya sendiri, dan di waktu yang bersamaan pula beliau belajar Al-Qur’an di tempat kelahirannya juga. Pada tahun 1946, Wahbah Zuhaily menyelesaikan pendidikan ibtidaiyah-nya kemudian melanjutkan pendidikannya di kuliah Shari’ah di Damaskus dan selesai pada tahun 1952.

Setelah lulus, Wahbah Zuhaily pun melanjutkan lagi pendidikannya di Cairo beliau mengambill dua fakultas sekaligus di Universitas yang berbeda, yaitu Fakultas Bahasa Arab al-Azhar University dan Fakultas Shari’ah di Universitas ‘Ain Sham, dan kuliah secara bersamaan.

Selama lima tahun beliau berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan tiga ijazah dan kemudian melanjutkan ke pasca sarjana di Universitas Cairo dan menyelesaikannya dalam waktu dua tahun, dan selesai pada tahun 1957 dengan tesisnya yang berjudul “Al-Zira’i fi al-Siyasah al-Shari’ah wa al-Fiqh al-Islami”.

Tidak berhenti sampai di situ, beliupun melanjutkan lagi pendidikannya dengan mengambil program Doktoral yaang selesai padaa tahun 1963 dengan judul desertasinya “Athar al-Harb fi al-Fiqh al-Islami Dirasatan Muqaranatan” di bawha bimbingan Dr. Muhammad Salman Madhkur.

Kemudian pada taahun 1963 M, beliau di angkat menjadi dosen di Fakultas Shari’ah Universitas Damaskus dan menjadi wakil dekan berturut-turut, dan kemudian menjadi Dekan. Selain itu beliau juga menjadi ketua jurusan Fiqh al-Islami wa Madzahabih, dan menjadi professor pada tahun 1975.

Beliau sangat terkenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang Fiqh, Tafsir dan Dirasah Islamiyah. Sebagai seorang Ulama dan pemikiran islam, Wahbah al-Zuhaili telah menulis banyak sekali buku, dan artikel dari berbagai bidang ilmu ke islaman.

Sekitar kurang lebih 133 buah buku dan risalah-risalah kecil yag kurang lebih berjumlh 500 makalah. Sebagian besar kitab yang beliau tulis adalah Fiqih dan Usul al-Fiqh, selain itu beliau juga menulis kitab Tafsir oleh karenanya beliau juga di sebut sebagai ahli tafsir.

Selain itu, beliau juga menuliskan kitab tentang Hadist, sejarah dan bidang lainnya, sehingga beliau bukan hanya sekedar Ulama Fiqh saja, tetapi juga sebagai seorang Ulama dan pemikir Islam.

Beberapa karya-karya beliau adalah sebagai berikut:

Bidang Fiqh dan Ushul al-Fiqh

Athar al=Harb fi al-Fiqh al-Islami- Dirasah Maqaranah (Dar al Fikr. Damshiq, 1963)
Al-Wasit fi Usul al-Fiqh (Damshiq : Universitas Damshiq, 1966)
Al-Fiqh al-Islami fi Uslub al-Jadid ( Damshiq : Maktabah al-Hadith, 1967)

Bidang Tafsir

Al-Insan fi Al-Qur’an (Damshiq, Dar al-Maktabah, 2001)
Al-Qayyim al-Insaniyah fi Al-Qur’an al-Karim (Damshiq, Dar al-Maktabah, 2000)
Al-Qissah al-Qur’aniyah Hidayah wa Bayan ( Damshiq, Dar al-Khair)

Bidang Hadist

Manhaj al-Da’wah fi al-Sirah al-Nabawiyah ( Damshiq, Dar al-Maktabah, 2000)
Al-Asas wa al-Masdar al-Ijtihad al-Mushtarikaat baina al-Sunnah wa al-Shi’aah ( Damshiq; Dar al-Maktabah, 1966)
Al-Sunnah Al-Nabawwiyah (Damshiq; Dar al-Maktabah, 1997)

Bidang Sosial dan Budaya

Al-Alaqah al-Dauliyah fi al-Islam (Beirul; Muassasah al-Risalah, 1981)
Khasais al-Kubra li Huquq al-Insan fi al-Islam ( Damshiqq : Dar al-Maktabah, 1995)
Al-Islam al-Din al-Jihad I al- ‘Udwan (Libya; Tripoli, 1990)
Al-Thaqafah wa al-Fikr (Damshiq; Dar al-Maktabah, 2000)

Bidang Sejarah

Al-Mujaddid Jamal al-Din al-Afghani ( Damshiq; Dar al-Maktabah, 1986)

Demikianlah, sekilas biografi tentang Ulama masyhur yaitu Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, dari latar belakang, pendidikan dan karya-karya beliau yang sangat terkenal.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Kenal Ulama: Imam Ahmad Ar-Rifa’i, Karamah dan Kalam Hikmahnya

January 21, 2020 0

Tokoh Ulama | Imam Ahmad Ar-Rifa’i merupakan seorang wali quthub, Ulama Sufi yang menjadi tonggak thariqah dan tokoh para wali agung, beliau bernama lengkap Syaikh Sayyid Ahmad al-Rifa`i bin Sayyid `Ali, bin Sayyid Yahya, bin Sayyid Tsabit, bin Sayyid Hazim, bin Sayyid Ahmad, bin Sayyid Ali, bin Sayyid Hasan al-Rifa`ah.

Jika Nasabnya diteruskan, maka akan sampai kepada Sayyidina Husain, bin Sayyidina ‘Ali wa Sayyidatina Fatimah az-Zahra, binti Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.

Beliau dilahirkan hari Kamis pada pertengahan bulan Rajab tahun 512 H di Ummi Abidah, daerah yang berada diantara Bashrah dan Baghdad, yang masyhur di Irak

Pertama sekali belajar fikih madzhab Syafi’i pada pamannya sendiri, yang bernama Syekh Abu Bakar al-Wasiti al-Anshari. Beliau sempat mengajar kitab Tanbih, kemudian masuk  ke dunia Thariqah dan menempa dirinya dengan sungguh-sungguh.

Beliau meninggalkan kesenangan duniawi dan memusatkan perhatiannya pada ilmu thariqah, sehingga menjadi seorang wali agung dan sangat ahli dalam bidang ilmu thariqah.

Imam Ahmad Ar-Rifa’i memiliki banyak murid dan sahabat yang sangat menghormatinya. Menurut Syeikh Ibnu Khalkan dan lainnya, santri-santrinya terkenal dengan nama Rifa`iyah, memiliki hal-hal yang aneh dan menakjubkan

Imam Ahmad Ar-Rifa’i rahimahullah wafat pada waktu dhuhur, hari Kamis 12 Jumadil Ula tahun 578 H. Kalimat terakhir yang beliau ucapkan adalah:

أَشْهَدُ أَنْ لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Pada hari wafatnya Imam Ahmad Ar-Rifa’i, ribuan orang datang melayat. Beliau dikebumikan di kuburan Yahya al-Bukhari di Bukhara.

Kisah Karamahnya

* Syaikh Syamsuddin Sibtu bin al-Zauji dalam kitab Tarikhnya mengatakan, bahwa disamping Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i yang memiliki berbagai karamah dan maqam/kedudukan, santri-santrinya juga luar biasa. Mereka terkadang menaiki binatang buas dan bermain-main dengan ular. Di antara mereka bahkan ada yang memanjat pohon kurma lalu menjatuhkan diri ke tanah, namun tak merasa sakit sedikitpun.

* Imam Ahmad Ar-Rifa’i sering melihat (Tajalli/tersingkap) Nur kebesaran Allah Swt. Dan ketika hal itu terjadi, dirinya pun meleleh seperti genangan air. Namun dengan berkat Kelembutan dan Kasih Sayang Allah SWT, beliau kembali mengeras sedikit demi sedikit sehingga kembali ke wujud semula. Lantas beliau pun berkata kepada para santrinya: “Sekiranya bukan karena kemurahan Allah SWT, sungguh aku tidak akan kembali pada kalian“.

* Jika ada orang yang meminta dituliskan azimat kepadanya, maka beliau mengambil kertas lalu menuliskannya dengan tangan kosong (tanpa pena/tinta).

* Suatu hari Imam Ahmad Ar-Rifa’i berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan Haji, disaat berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, keluarlah tangan dari dalam kubur Nabi SAW lalu bersalaman dengan Imam Ahmad, lantas beliau pun mencium tangan yang mulia Nabi SAW. Kejadian tersebut dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw ketika itu.

* Ketika sedang mengajar di atas kursinya, Orang yang jauh sekalipun akan mendengar suara beliau seperti sedang berada di dekatnya. Bahkan, semua penduduk desa Ummi Abidah dan sekitarannya pun turut mendengar seperti berada di tempat pengajiannya. Hingga orang tuli pun apabila datang ke majelis pengajiannya, maka akan dibukakan pendengarannya oleh Allah SWT.

Beberapa Kalam Hikmahnya

1. Aku telah mencoba menempuh semua jalan menuju kepada Allah SWT. Namun tidak kutemukan jalan yang lebih mudah, lebih dekat dan lebih pantas selain dari kefakiran, kehinaan dan kesusahan.
Di antara tanda-tanda tenang bersama Allah SWT, adalah merasa resah ketika berada bersama orang-orang kecuali para wali. Sebab tenang bersama para waliyullah berarti tenang bersama Allah SWT.

2. Sesuatu yang lebih dekat dengan murka Allah SWT, adalah melihat (dengan penuh rasa bangga) pada diri sendiri, tingkah laku dan amal kebajikannya. Yang lebih parahnya lagi adalah meminta imbalan atas suatu amalan (ibadah)”.

Demikian biografi dan sejarah singkat Raja para Waliyullah, Imam Ahmad Ar-Rifa’i, serta beberapa karomah dan kalam hikmahnya. Semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

(Referensi: Disarikan dari kitab Nur al-Abshar, Jami’ al-Karamat al-Auliya’, Thabaqat al-Kubra dan  Kitab A’lam al-Shufiyah)

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Monday, January 20, 2020

kenal Ulama: Teungku Fakinah, Ulama Perempuan Aceh dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia

January 20, 2020 0

Ulama Nusantara | Bernama lengkap Teungku Fakinah binti Teungku Datuk, lahir di Desa Lam Beunot kabupaten Aceh Besar pada tahun 1856. Ibundanya  bernama Cut Fatimah (Cut Mah), anak dari Teungku Chik Lampucok atau Tgk Muhammad Saad.

Semenjak usia dini Tgk Fakinah sudah dididik dan diarahkan oleh orang tuanya dengan penuh kedisiplinan dan kesungguhan. Tidak hanya diajarkan membaca Al-Quran dan ilmu pengetahuan agama lainnya, orang tuanya juga mengajarinya pekerjaan keterampilan wanita lainnya seperti menjahit, membuat kerawang sutera dan kasab.

Ketika memasuki usia remajanya, Fakinah sudah menjadi seorang wanita yang alim lagi ahli kerawang. Oleh karena kealimannya itulah kemudian ia dipanggil oleh rekan-rekan dan masyarakat sekitar dengan sebutan Teungku Fakinah atau Teungku Faki.

Kiprahnya Untuk Agama dan Tanah Air

Ketika Tgk Fakinah beranjak dewasa, sekitar tahun 1872, ia dinikahkan dengan seorang lelaki yang alim, bernama Tgk Ahmad, pemuda yang berasal dari desa Aneuk Glee, Indrapuri. Masyarakat Lam Beunot memanggil suami Tgk Fakinah dengan penuh rasa hormat yaitu dengan sebutan Tgk Aneuk Glee.

Tgk Aneuk Glee kemudian dibantu oleh sang mertua, yakni Tgk Datuk untuk mendirikan sebuah Dayah (Pesantren) di desa Lam Beunot yang juga mendapat dukungan dari masyarakat desa tersebut beserta Imam Mukim Lamkrak. Dayah tersebut kemudian berkembang pesat dan banyak didatangi oleh remaja dan pemuda –pemudi yang berasal dari berbagai daerah untuk belajar disana.

Pengajar disaat itu adalah Tgk Aneuk Glee untuk santri laki-laki, dan sang istri yakni Tgk Fakinah mengajar para santri perempuan. Tgk Fakinah tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada para santriwati, akan tetapi ia juga mengajarkan mereka berbagai keterampilan seperti jahit-menjahit, membuat kerawang dan lain sebagainya.

Namun ketika terjadi ekspedisi Belanda pertama ke Aceh pada tahun 1873, Suami Teungku Fakinah yaitu Tgk Aneuk Glee Syahid dalam suatu peperangan demi menghadang laju penjajah Belanda di Aceh.

Setelah menjanda, Tgk Fakinah tetap terus memusatkan perhatiannya untuk membantu memerangi para penjajah Belanda. Saat itu Tgk Fakinah membentuk Badan Amal Sosial yang beranggotakan perempuan dan janda.

Anggota Badan Sosial ini sangat giat dalam mengumpulkan sumbangan perbekalan dari rakyat berupa padi dan uang. Sebagian dari anggotanya juga menjadi juru masak untuk para pejuang. Selain itu, ia juga mengomandoi pembentukan Kuta Pertahanan (Kuta Cot Weue).

Kuta ini khusus dibuat oleh perempuan, baik dalam hal membuat pagar, menggali parit dan memasang ranjau-ranjau. Semua itu dikerjakan oleh perempuan  yang dipimpin oleh Teungku Fakinah.

Setelah membentuk Kuta Cot Weue, pemuka masyarakat pada saat itu menyarankan agar Tgk Fakinah jangan tinggal sendirian (menjanda) dalam memperjuangkan tanah air yang sangat berat itu. Oleh karena itu Tgk Fakinah dinikahkan dengan seorang pemuda alim yang bernama Tgk Badai yang berasal dari desa Langa, Pidie. Tgk Badai adalah salah seorang alumni dayah Tertua di Aceh, Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar.

Perkawinan ini pun ternyata juga tidak berlangsung lama, dikarenakan sang suami tercinta syahid dalam medan peperangan melawan penjajah Belanda.

Dalam mempertahankan Agama dan tanah air, Tgk Fakinah ternyata menjalin ikatan yang kuat dengan seorang wanita pejuang Aceh yang sangat terkenal, yakni Cut Nyak Dhien. Namun hubungan ini pernah sedikit terganggu karena adanya kabar bahwa suami Cut Nyak Dhien, Teuku Umar (diduga) membelot kepada Belanda (walau sebenarnya itu hanya pura-pura demi memata matai para penjajah-pen).

Kendati demikian pada akhirnya hubungan mereka kembali akrab seperti semula, setelah mengetahui kebenarannya dan kembalinya Teuku Umar ke pihak rakyat Aceh dengan segudang senjata dan informasi penting yang berhasil dicuri dari pihak penjajah.

Setelah sebahagian wilayah Seulimum dapat dikuasai Belanda, Tgk Fakinah mengungsi ke Lamno. Lalu pindah ke Tangse dan sekaligus membangun tempat tingal di Blang Peuneuleun.

Pada tanggal 21 Mei 1910, atas permintaan Tgk Panglima Polem Muhammad Daud, Tgk Fakinah dihimbau untuk dapat kembali ke kampung halamannya untuk membuka kembali dayah yang pernah dibangunnya. Dan akhirnya ia pun kembali pulang ke kampung halamannya pada tahun 1911. Kemudian kembali membuka pengajian di dayah tersebut, sehingga ramailah para penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.

Akhir Hayatnya

Sekitar tahun 1914, Teungku Fakinah berkeinginan untu menunaikan ibadah haji, namun karena tidak ada muhrim yang menemani, akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang lelaki yang bernama Ibrahim. Pada bulan Juli 1915 mereka berdua berangkat ke Tanah suci untuk menunaikan Haji. Selesai melaksanakan Ibadah Haji, Tgk Fakinah masih menetap di Mekkah untuk memperdalam ilmu fikih.

Setelah tiga tahun lamanya di Mekkah, ketika memasuki tahun keempat, suami Tgk Fakinah, H. Ibrahim meninggal dunia. Maka pada tahun 1918 Teungku Fakinah memutuskan untuk kembali ke Aceh.

Sepulangnya dari Mekkah, Teungku Fakinah kembali menetap di kampung halamannya dan memimpin kembali dayah yang sudah lama ia tinggalkan itu dengan mengajarkan ilmu yang diperolehnya selama belajar di Mekkah. Namun setelah beberapa tahun mengajar di dayah tersebut, ajal pun datang menjemput. Teungku Fakinah meninggal dunia pada tahun 1938 di Mukim Lamkrak kampung halamannya.

Demikian biografi singkat Ulama sekaligus Pejuang Kemerdekaan dari kalangan Wanita asal Aceh yang sampai saat ini masih sangat harum namanya. Semoga Allah SWT menerima segala amalannya dan mengampuni segala dosanya dan menempatkan Teungku Fakinah di sebaik-baik tempat, yakni disisi-Nya. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Saturday, January 18, 2020

Kenal Ulama: Musthafa al Siba’i Ahli Hadits dan Politikus Negeri Syam

January 18, 2020 0

Tokoh Ulama | Dialah yang bernama lengkap Musthafa bin Husni Abu Hasan al Siba’i, dalam beberapa karyanya beliau biasa menulis namanya dengan sebutan Musthafa al Siba’i, dan beberapa kesempatan pula beliau menuliskan namanya dengan sebutan Mustahfa Husni al Siba’i dalam suatu persembahan dan pengantar kitab atau karyanya.

Musthafa al Siba’i dilahirkan di kota Homs, salah satu dari kota yang ada di Negara Suriah pada tahun 1915 M bertepatan pada tahun 1331 H. Adapun masa kecil beliau kurang dijelaskan dalam beberapa buku tentang biografi hidupnya.

Namun paling tidak dikatakan bahwa beliau memang berasal dari keluarga ulama yang terpandang. Sehingga berangkat dari jalur inilah yang memudahkan beliau dalam menimbah ilmu agama  dan politik terutama belajar kepada sang ayah yang merupakan seorang Mujahid dan Khatib (Syaikh Husni al Siba’i)

Menariknya, beliau tidak hanya aktif dalam dunia keislaman yang telah membesarkan namanya terutama dalam dunia hadits, melainkan beliau pun turut aktif dalam melawan penjajah (Prancis-Suriah di usia yang masih menginjak belasan tahun), dan ini dikarenakan tantangan dunia Islam dalam banyak Negara yang ingin membebaskan diri dari imperialisme barat pada waktu itu.

Dari keaktifannya inilah dalam melawan penjajah dengan beberapa bentuk partisipasi yang diantaranya dengan membagi bagikan selebaran, berpidato, dan memimpin demonstrasi di Homs sempat membuat dirinya ditangkap oleh orang orang Prancis.

Selain itu, beliau juga aktif dalam menggalang kekuatan dunia Islam untuk berjuang melawan tentara Israel demi mempertahankan Bait al Maqdis, maka tak berlebihan rasanya jikalau Musthafa al Siba’i yang selain dikenal sebagai Ulama hadits pun dikenal sebagai pejuang yang berkemampuan retorik.

Masih pada kisah hidup beliau, ketika menginjak usia 18 tahun (1933), barulah Mustahafa al Siba’i berpindah ke Mesir demi memperoleh pengalaman intelektual dan politik sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang pemikiran Muhammad Abduh di al Azhar, yang sekaligus merupakan tempat beliau memperoleh gelar doktor di bidang hadits.

Dari ketekunan dan kepiawaiannya-lah dalam bidang ilmu hadits, rupanya mengantarkan beliau pada pemikiran kritisnya terhadap pemikiran Ahmad Amin, baik itu tentang Pamalsuan hadits pada masa Rasulullah Saw., tentang pembukuan hadits, tentang ‘Adalat al Shahabah dan lainnya yang membahas tentang Hadits.

Karya karya beliau

Sebagai seorang tokoh yang dikenal dalam masyarakat, maka belum lengkap rasanya jikalau hidupnya tidak dibumbuhi dengan karya tulis yang menjadikan namanya semakin dikenal  dan dikenang.

Sama halnya dengan Musthafa al Siba’i, sepanjang hidupnya kurang lebih ada 21 kitab dan risalahnya yang mampu beliau susun atas kegigihan dan semangat besarnya, dan berikut beberapa karya dan garis besar isi dari karyanya tersebut:

1. Istikariyat al Islam, karya ini sudah dikenal di Indonesia sejak dekade 1970-an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam edisi terjemahan oleh Moh. Abday Ratoni dengan judul Sosialisme Islam. Buku ini paling tidak membahas pemikiran politik dengan memberi gambaran tentang perbaikan pada seluruh masyarakat Islam dalam membentuk sebuah negara, atau sebuah masyarakat yang lebih maju dari segi ekonomi, politik dan sosial yang berlandaskan pada syri’at Islam.

2. Al Sunnah wa Makanatuha fa al Tasyri’ al Islami, yakni salah satu karya fundamentalnya yang cukup populer di kalangan muslim Indonesia, yang diterjemahkan pada tahun 1993 oleh Dja’far Abd. Muchith dan kemudian diterbitkan oleh CV, Dipenogoro.

3. Al Istisyraq wa al Mustsyriqun, yaitu karya yang berisikan tentang pembongkaran beliau terhadap kepalsuan hadits. Selain itu, lewat karya inilah beliu menggambarkan tentang langkah langkah yang diambil para orientalis dalam menghancurkan Islam serta sarana sarana yang dipakai demi merealisasikan tujuan tersebut.

3. Al Mar’ah Bayn al Fiqh wa al Qanun, yaitu membahas tentang wanita diantara fiqh dan undang undang, yang mana lebih jelasnya menerangkan tentang toleransi Islam dalam sikapnya terhadap wanita dan hak hak yang ditetapkan baginya termasuk hal hal yang sesuai dengan tabiatnya.

4. Min Rawa’i’ Hadlaratina, karya ini disusun oleh Musthafa al Siba’i yang bertujuan untuk membuktikan bahwa aspek aspek kemanusiaan yang abadi dalam peradaban kita lebih kuat dan indah, serta untuk menolak fitnah fitnah orang yang mendakwahkan peradaban Islam yang katanya memiliki kaiban dan kekurangan.

Adapun karya lainnya ialah:

Akhalquna al Ijtima’iyyah
Al Qala’id min Fara’id al Fawa’id
Al Washaya wa al Fara’id
‘Azhama ‘una fi al Tharikh
Hadza Huwa al Islam
Ahkam al Shiyam wa Falsafatuhu
Ahkam al Mawarits
Ahkam al Zawaj wa Inkhillalih
Manhajuna fi al Ishlah
Al Sirah al Nabawiyyah, Tarikhuha wa Durusuha
Al Ikhwan al Muslimun fi Harb Falasthin
Al Nizham Al Ijtima’ fi Al Islam
Al ‘Alaqah Bayn Al Muslimin wa Al Mashihiyyin fi Al Tharikh

Dari berbagai karya karyanya yang sempat disebutkan diatas secara tidak langsung telah melukiskan tentang sosok Musthafa al Siba’i yang merupakan penulis produktif dan termasuk tokoh yang alim dibidang Hadits, hukum Islam, Sejarah peradaban, sosialisalisme dan bidang ilmu lainnya.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Friday, January 17, 2020

Kenal Ulama: Abon Aziz Samalanga, Ahli Mantiq Pengkader Ulama Aceh Abad Ini

January 17, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Aziz Samalanga bernama lengkap Teungku/Tgk Abdul Aziz bin Tgk Muhammad Shaleh bin Tgk Abdullah. Ibunda beliau bernama Tgk Hj. Halimah binti Makam bin Keuchik Lamblang Jeunib. Samalanga di Ujung nama beliau adalah dinisbahkan kepada kecamatan tempat kelahirannya.

Tgk. H Abdul Aziz atau kerap disapa Abu Aziz atau Abon Aziz Samalanga ini lahir di desa Kandang kecamatan Samalanga Kabupaten Aceh Utara pada bulan Ramadhan tahun 1351 H.

Ayahanda beliau adalah seorang Ulama, tokoh masyarakat yang merupakan salah seorang pendiri dayah Darul ‘Atiq Jeunib. Juga pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Jeunib, Aceh Utara. Sedang sang Ibunda adalah seorang guru agama di pesantren Jeunib.

Masa-masa kecil Abu Aziz lebih banyak dilaluinya di Jeunieb, Desa Ibundanya. Setelah beranjak dewasa, beliau menikah dengan perempuan yang bernama Tgk Hj. Fatimah, putri dari seorang Ulama yang bernama Tgk H. Hanafiah atau lebih dikenal dengan sebutan Tgk di Ribee. Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai lima orang anak.

Latar Belakang Pendidikannya

Abu Aziz Samalanga menempuh pendidikan sekolah umum di Sekolah Rakyat (SR) selama tujuh tahun dan menamatkannya ditahun 1945, disaat itu beliau juga belajar di dayah Ayahnya yakni Dayah Darul ‘Atiq Jeunib.

Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya selama dua tahun di Dayah Mesjid Raya Samalanga yang saat itu dipimpin oleh Tgk. H. Muhammad Hanafiah. Setelahnya beliau melanjutkan  pendidikannya  ke dayah Matang Kuli yang dipimpin oleh Tgk. Ben (Tgk Tanjungan) pada tahun 1948. Di dayah ini beliau belajar pada seorang guru yang bernama Tgk. Idris Tanjungan sampai dengan tahun 1949.

Kemudian beliau pun kembali  ke pesantren Mesjid Raya Samalanga, lalu mengabdi disana menjadi seorang guru.

Namun karena ketidak puasan beliau terhadap ilmu pengetahuan yang masih secuil pada dirinya, beliau memutuskan untuk kembali merantau mencari ilmu, dengan berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji yang dipimpin oleh seorang Ulama Kharismatik Yang Tersohor, Abuya Syekh Mudawaly Al-Khalidy. Di dayah ini Abu Aziz Samalanga mendami ilmu mantiq, tasawuf, nahu-sharaf, ilmu kalam, ilmu hadits, tafsir, ilmu ma’ani, balaghah dan lain-lain.

Kiprahnya Dalam Dunia Pendidikan

Setelah menetap di dayah Darussalam Labuhan haji selama 8 tahun, kemudian Abu Aziz pulang kembali ke tanah kelahirannya Samalanga pada tahun 1958. Mertuanya yang memimpin pesantren Mesjid Raya Samalanga pun meninggal dunia pada tahun itu. Oleh karenanya, Abu Aziz kemudian segera menjadi pimpinan di pesantren tersebut.

Semenjak berada dibawah pimpinan beliau, pesantren tersebut mengalami banyak perkembangan, dan perubahan-perubahan pun terjadi. Terutama menyangkut dengan kurikulum pendidikan yang semula hanya bermaterikan kitab-kitab arab (tradisional) kemudian disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Seperti penambahan ilmu Bahasa inggris dan beberapa bidang ilmu pengetahuan umum lainnya (modern). Sehingga kurikulum yang digunakan di pesantren ini nyaris sama dengan kurikulum di sekolah MAN pada masa sekarang ini. Dayah Mesjid Raya pun semakin lama semakin maju dan semakin banyak santri yang berdatangan untuk belajar di dayah ini.

Dalam memimpin dan membina murid-muridnya, Abu Aziz Samalanga berupaya dengan semaksimal mungkin agar mereka semua kelak dapat menjadi Ulama-ulama yang mandiri, berkualitas dan sanggup menghadapi tantangan zaman. Banyak santri-santrinya yang kelak menjadi Ulama dan membangun dayah di daerah masing-masing.

Meskipun Abu Aziz Samalanga tidak pernah menduduki jabatan di pemerintahan, namun beliau selalu memberi dukungan terhadap berbagai kebijakan pemerintah selama tidak bertentangan dengan  ajaran Islam.

Bahkan dalam hal-hal tertentu beliau mendukungnya seperti pembangunan sekolah-sekolah umum, berlakunya asas tunggal terhadap setiap organisasi politik dan lain sebagainya. Karena inilah beliau selalu menjalin persahabatan dengan pejabat di pemerintahan, bahkan murid-muridnya juga banyak yang menjadi pejabat pemerintah.

Akhir Hayatnya

Setelah mencapai usia lebih kurang 59 tahun, Abu Aziz Samalanga meninggal dunia. Tepatnya pada tanggal 15 April 1989 M, bertepatan dengan Jumadil Akhir 1409 H, dan dimakamkan di tanah kelahirannya Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Saat ini Kabupaten Bireun).

Semoga Allah SWT menerima segala amalannya, mengampuni segala dosanya, dan menempatkan beliau disisi-Nya bersama para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam. Wallahua’lambisshawab!

[Referensi: Disarikan dari “Biografi Ulama Aceh Abad XX”, Jilid II Cet. ke-II, ditulis oleh Drs. Shabri A. dkk]

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Thursday, January 16, 2020

Kenal Ulama: Teungku Abu Bakar Aceh, Ulama Produktif Asal Aceh

January 16, 2020 0

Ulama Nusantara | Beliau bernama lengkap Prof. Dr. Tgk. H. Abu Bakar bin Tgk. H. Abdurrahman. Ayahnya berasal dari Peureumbeu, Aceh Barat, sedangkan ibunya bernama Hj. Naim, berasal dari Peulanggahan, Banda Aceh. Teungku Abu Bakar Aceh lahir dari keluarga Ulama di Peureumbeu, Aceh Barat pada tanggal 7 Rabiul Akhir 1327 H atau bertepatan dengan 28 April 1909 M. (Biografi Ulama Aceh Abad 19, Jilid 2, Cet. ke-2)

Beliau memiliki dua orang istri, dari istri pertama yang bernama Suwarni beliau dikarunian enam orang anak, sedangkan dari istrinya yang kedua tidak mempunyai anak.

Pendidikannya

Masa kecilnya lebih banyak dihabiskannya dengan belajar membaca Al-Quran pada orang tuanya ketimbang menghabiskan waktu dengan bermain. Disamping itu beliau juga memperdalam ilmu agama lainnya dari beberapa Teungku (Kiyai) di Desanya.

Semenjak kecil bakatnya sudah mulai menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Oleh karena itu ia juga sempat memperdalam ilmu agama pada Teungku H. Abdussalam Meuraxa dan di Dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di desa Peulanggahan, Banda Aceh, setelah lulus dari Volkschool di Meulaboh.

Setelah mempelajari ilmu agama di Dayah-dayah di Aceh, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool Islamiyah di Sumatera Barat. Kemudian Teungku Abu Bakar Aceh berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu lainnya, khususnya dalam bidang ilmu Bahasa.

Cakrawalanya semakin terbuka semenjak berada di Jakarta. Disana beliau berinteraksi dengan berbagai orang serta bersentuhan dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau sangat menyadari bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, mestilah menguasai Bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Karena itulah beliau memutuskan untuk mendalami berbagai Bahasa asing selama berada di Jakarta, melalui kursus-kursus yang ada disana kala itu. Sehingga akhirnya beliau dapat menguasai beberapa Bahasa asing seperti Arab, Inggris dan Belanda.

Teungku Abu Bakar Aceh masih sangat haus akan ilmu pengetahuan, sehingga beliau pun berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah sekaligus melaksanakan Ibadah Haji ke Baitullah Yang Mulia. Selama di Mekkah dan Madinah, beliau mengikuti orang tuanya dan sempat berkenalan dengan dengan beberapa Ulama besar disana dan mempelajari ilmu dari mereka.

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Pengetahuannya yang luas dalam bidang ilmu agama Islam sebisa mungkin diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Teungku Abu Bakar Aceh pernah menjabat sebagai Departemen Agama Republik Indonesia dan hingga akhir hayatnya beliau menetap di Jakarta.

Sebelum menetap di Jakarta, beliau sempat terlebih dulu tinggal beberapa lama di Yogyakarta dalam rangka menjalani tugas sebagai pegawai Depag dan menimba ilmu pengetahuan disana. Dikarenakan dirinya yang berwibawa besar dan memiliki ilmu agama yang luas, beliau menjadi pemimpin masyarakat Aceh di Yogyakarta kala itu dan menjadi tempat bertanya seputar agama dan juga masalah lainnya.

Teungku Abu Bakar Aceh adalah Ulama yang produktif, hal ini bisa kita lihat dari berbagai karya tulisnya yang beliau sumbangkan untuk ummat dimasa yang akan datang. Diantara karya-karya beliau adalah:

Sejarah Al-Quranul Karim
Sejarah Mesjid
Sejarah Ka’bah
Riwayat Hidup Nabi Muhammad
Teknik Khutbah
Islam dan Kemerdekaan Beragama
Pengantar Ilmu Tarekat
Ibnu ‘Arabi Tokoh Tasawuf dan Filsafat Agama
Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf
Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Madzhab
Perjuangan Wanita Islam
Ahlussunnah Wal-Jama’ah
Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia
Ilmu Ketuhanan
Pendidikan Sufi
Islam Sumber Jihad dan Ijtihad
Syiah Rasionalisme dalam Islam
Tarekat dalam Tasawuf
Wasiat Ibn Arabi
dan lain-lain.

Suri tauladan yang baik yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta sikap kepekaannya dalam berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat telah membuatnya menjadi orang yang dicintai oleh rakyat.

Dalam Setiap konflik, beliau juga selalu muncul sebagai salah seorang penengah yang bijak. Oleh karenanya, pemerintah daerah pernah mengundang beliau untuk menjadi penengah dalam penyelesaian “Peristiwa Aceh” tahun 1953.

Akhir Hayat

Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya maut. Teungku Abu Bakar Aceh rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 27 Muharram 1400 H, bertepatan dengan 17 Desember 1979.

Beliau meninggal dunia setelah beberapa waktu lamanya menderita sakit. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta pada keesokan harinya, yakni 18 Desember 1979.

Demikian biografi singkat Ulama Nusantara asal Aceh yang dikagumi oleh Presiden Soekarno terkait keluasan ilmu pengetahuannya, yang kemudian Sang Presiden pertama RI tersebut  membubuhkan nama “Atjeh/Aceh” diujung nama Teungku Abu Bakar sehingga terkenallah beliau dengan sebutan “Teungku Haji Abu Bakar Aceh”. Sekian, semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Tuesday, January 14, 2020

Kenal Ulama: Abu Hasan Krueng Kalee, Ulama Sufi Sekaligus Pakar Ilmu Falak Asal Aceh

January 14, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Hasan Krueng Kalee adalah salah seorang Ulama kharismatik Aceh, Tokoh Ulama Sufi sekaligus Pakar Ilmu Falakiyah, yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Aceh. Beliau memiliki nama lengkap Teungku Muhammad Hasan bin Teungku Muhammad Hanafiyah.

Abu Hasan Krueng kalee lahir pada tanggal 13 Rajjab 1303 H/18 April 1886 M, di desa Meunasah Letembu, Langgoe Kabupaten Pidie. Saat itu ayah beliau yang merupakan pimpinan dayah Krueng Kalee sedang dalam pengungsian di daerah tersebut akibat perang dengan Belanda yang berkecamuk di wilayah Aceh Besar.

Pendidikan Abu Hasan Krueng Kalee

Setelah situasi mulai sedikit tenang, Muhammad Hasan kecil dibawa kembali oleh orang tuanya ke kampung halaman mereka di Krueng Kalee. Di sanalah perjalanan keilmuannya dimulai di bawah asuhan sang ayah, Tgk. Muhammad Hanafiyah yang lebih dikenal dengan panggilan Teungku Haji Muda. Selain itu ia juga belajar agama di Dayah Tgk. Chik di Keubok pada Tgk. Musannif yang menjadi guru pertama setelah ayahnya sendiri.

Ketika beranjak dewasa, Abu Hasan Krueng Kalee melanjutkan pendidikannya ke Malaysia, tepatnya di Negeri Yan, Kedah. Beliau berguru kepada Salah seorang Ulama Aceh yang turut mengungsi kesana akibat situasi perang, yakni Tgk. Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu.

Selanjutnya beliau berangkat ke Mekkah bersama dengan adik kandungnya, Tgk. Abdul Wahhab untuk melaksanakan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Namun setiba mereka di sana, adiknya tersebut meninggal dunia karena sakit.

Akan tetapi Hal tersebut tidak membuat Abu hasan patah semangat, ia tetap sabar dan teguh melanjutkan pendidikannya, belajar kepada para ulama besar Mesjid al-Haram hingga lebih kurang 7 tahun lamanya.

Selain belajar ilmu agama pada umumnya, ia juga mendalami ilmu falak dari seorang pensiunan jenderal kejaaan Turki Ustmani yang menetap di Mekkah. Hingga kemudian membuatnya ahli dalam bidang Falakiyah dan digelar dengan sebutan “Tgk. Muhammad Hasan Al-Asyie Al-Falaky.”

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Sepulangnya dari Mekkah, Abu Hasan Krueng Kalee tidak langsung pulang ke Aceh, namun beliau terlebih dahulu menyempatkan diri tuk singgah di Pesantren gurunya Tgk. M. Irsyad Ie Leubeu di Kedah. Di pesantren ini Abu Krueng Kalee sempat mengajar beberapa tahun dan kemudian dijodohkan oleh gurunya dengan seorang gadis yatim yang juga keturunan Aceh bernama Nyak Safiah binti Husein.

Lalu Abu Hasan berangkat ke Meunasah Baro untuk mengajar di dayah pamannya, Tgk. Muhammad Sa’id. Tak lama kemudian beliau membuka pesantren sendiri di meunasah blang yang sekarang terletak di desa Siem bersebelahan dengan desa Krueng Kalee, Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Di Dayahnya inilah beliau mengabdikan segala ilmu yang telah diperolehnya hingga akhirnya berhasil mencetak kader-kader ulama yang berpengaruh dan berpencar ke seluruh Aceh. Seperti misalnya Tgk. H. Abdul Rasyid Samlako, Tgk. H. Sayid Sulaiman, Tgk. H. Mahmud Blang Bladeh, Tgk. H. Idris Lamreung, dan banyak lagi lainnya.

Abu  Hasan Krueng Kalee memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan agama di Aceh pada masa berikutnya. Begitu pula dengan kiprahnya dalam bidang politik yang telah memberi arti penting, dukungan dan semangat bagi kelangsungan Republik Indonesia yang ketika itu baru seumur jagung.

Kiprahnya Dalam Dunia Politik

Meskipun Abu Krueng Kalee seorang Ulama Sufi terkemuka di Aceh, namun beliau tetap berusaha untuk terjun dalam dunia politik. Misalanya dalam upaya untuk mengusir penjajah Belanda, beliau membentuk laskar mujahidin yang beranggotakan para santri dan masyarakat untuk mengusir kolonial Belanda dari tanah Serambi Mekkah.

Beliau juga memberikan dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia ketika itu dengan menerbitkan “Maklumat Ulama Seluruh Aceh” pada tanggal 15 oktober 1945.

Maklumat tersebut berisikan tentang fatwa bahwa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah sama halnya dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil/Jihad Fii Sabilillah, dan merupakan lanjutan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan Alm. Tgk. Chik Di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya.

Keluarnya Maklumat Ulama seluruh Aceh ini sangat memberi dampak positif bagi pemeritah baru RI saat itu dan munculnya semangat dukungan fisik dan materil dari rakyat Aceh untuk membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh beserta segenap rakyatnya adalah modal utama bagi kemerdekaan RI.”

Sekitar tahun lima puluhan, Abu Hasan Krueng Kalee beserta beberapa tokoh lainnya memprakarsai lahirnya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) di Aceh, kemduian beliau memimpin organisasi ini hingga tahun 1968.

Kiprah beliau dalam dunia politik terus berlanjut hingga pernah diangkat menjadi Dewan Konstituante pasca pemilu 1955 mewakili PERTI. Beliau Juga terus Istiqamah memberikan ilmu-ilmunya kepada masyarakat melaui konsultasi dan pengajian-pengajian.

Karyanya dalam Bidang Tasawuf

Abu Hasan Krueng Kalee Terkenal juga dengan Kesufiannya, beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan sekaligus mengembangkan Thariqat al-Haddadiyah di Aceh, hal ini sesuai dengan keterangan yang dijelaskan dalam sanad thariqat.

Guna menyebarkan Thariqat tersebut, beliau menuliskan sebuah kitab panduan dalam Ilmu pengamalan thariqat al-Haddadiyah yang bernama “Risalah Lathifah Fi Adab adz-Dzikr wa al-Tahlil wa Kaifiyatu Tilawah al-Shamadiyah ‘ala Thariqat Quthb al-Irsyad habib Abdullah al-Haddad”.

Akhir Hayat

Abu Hasan Krueng kale rahimahullah meninggal dunia Pada malam Jum’at sekitar pukul 3 dini hari tanggal 19 Januari 1973. Beliau meninggalkan tiga orang istri, yakni Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem, Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong.

Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee Meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putri. Salah seorangnya yaitu Tgk. H. Syech Marhaban yang sempat menjabat Mentri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Demikian sekilas sejarah dan Biografi singkat Abu Hasan Krueng Kalee, Seorang Ulama Sufi Nusantara yang sangat terkenal. Ahli Ilmu Falak yang berasal dari Tanah Rencong. Semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Monday, January 13, 2020

Sirah Sahabat: Mu’adz bin Jabal, Sahabat yang Dikenal Sangat Memahami Hukum Islam

January 13, 2020 0

Sirah Sahabat | Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat yang terkemuka Rasululloh SAW. yang terkenal dengan kecerdasan dan keberaniannya, dan dinyatakan “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”. Siapakah beliau? Berikut kami sajikan biografinya.

Ia adalah Muadz bin jabal RA, seorang pemuda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat, Perhatian dengan sikap dan ketenangannya.
Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya.

Muadz bin jabal RA memiliki kelebihan dan keitstimewaan yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Ketika Rasulullah SAW hendak memerintahkan Muadz untuk pergi ke negeri Yaman, terlebih dulu ia ditanya oleh Rasululloh, “Apa yang menjadi peganganmu dalam menghakimi sesuatu perkara, hai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Kitabullah (Al-Qur’an)” . Nabi bertanya lagi, “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul,” jawabnya. “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”, tanya Rasulullah. “Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu’adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”.

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih.

Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka.

Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

“Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin Jabal,” tutur A’idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, “Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya.”

Di masa Kahilafah Abu Bakar RA Mu’adz diutus untuk kembali ke Yaman. Dan Umar mengetahui bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu’adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

“Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat”, kata Umar.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar.

Ketika sampai di sana, Mu’adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. “Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satu pun yang akan kuambil darimu,” ujar Abu Bakar.

“Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik,” kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz. Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya.

Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz. Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan.

Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara.”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda.

Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun! Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberikannya langsung.

Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?””Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya. “Setiap kebenaran ada hakikatnya,” kata Nabi pula, “maka apakah hakikat keimananmu?”

“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi.

Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka.”

Maka sabda Rasulullah SAW, “Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”

Menjelang akhir hayatnya, Mu’adz berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.”

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan…” Dan nyawa Mu’adz pun melayanglah menghadap Allah. Subhanallah!

Semoga Kisah ini menjadi khazanah dan ibrah bagi kita, sehingga tiada satu katapun yang tertinggal untuk kita amalkan.

Karena satu kenangan terindah apabila kita meninggalkan jejak langkah yang bermanfaat untuk umat manusia.

Oleh Faisol Abdurrahman, Alumni dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah | Sarjana Komunikasi Islam IAIN Pontianak | Bidang Dakwah dan Kajian Keislaman Ikatan Santri dan Alumni Al-Khaliliyah (Insaniyah).

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More